Malam pertama setelah sandiwara itu dimulai menyisakan keheningan yang lebih kuat. Pagi berikutnya, Freya terbangun dengan rasa kebas di dadanya. Rasa sakit yang kemarin terasa begitu menyesakan, kini mulai berubah menjadi mati rasa yang melelahkan.
Sesuai kesepakatan, Kenzo kembali duduk di meja makan tepat pukul setengah tujuh pagi. Bedanya, kali ini pria itu tidak lagi menyentuh tabletnya. Ia duduk dengan kaku, menatap lurus ke arah piring kosong di depannya, seolah sedang bersiap menghadapi ujian paling berat dalam hidupnya.
Freya datang membawa mangkuk berisi bubur ayam hangat, aroma bawang goreng dan seledri menyeruak lembut. Ia meletakkannya di depan Kenzo, lalu tanpa ragu, mengambil posisi di kursi tepat di sebelah pria itu, sama seperti kemarin.
"Selamat pagi, Mas," sapa Freya. Suaranya terdengar datar dan hilang nada manja buatan yang ia gunakan kemarin di depan Heidi.
Kenzo menoleh, mengamati wajah Freya yang tampak lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam samar di bawah mata wanita itu mempertegas bahwa Freya kurang tidur atau bahkan tidak tidur semalaman.
"Pagi," sahut Kenzo singkat. Ia meraih sendok, lalu mulai menyuap bubur yang sudah Freya sediakan untuknya. "Hari ini aku ada pertemuan dengan klien di luar kantor sampai siang. Setelah itu aku langsung kembali ke kantor."
Freya sedikit terkejut karena Kenzo memberikan laporan kegiatannya tanpa diminta. Apakah ini bagian dari memperlakukannya "layaknya istri yang dicintai"? Mengabari ke mana ia pergi?
"Jam berapa Mas pulang?" tanya Freya pelan.
"Sore. Mungkin jam lima aku sudah sampai di rumah," jawab Kenzo tanpa menatap Freya.
Keheningan kembali datang di antara mereka. Freya hanya memandangi suaminya yang makan dengan tenang. Ketika Kenzo selesai dan meneguk air putihnya, Freya ikut berdiri. Ia merapikan dasi Kenzo yang sedikit miring dengan gerakan lambat, membiarkan jemarinya bersentuhan dengan d**a bidang pria itu. Kenzo tidak menolak, meski napasnya terdengar agak tertahan.
"Mas," bisik Freya setelah dasi itu rapi. Ia mendongak, menuntut haknya untuk hari kedua.
Kenzo menghela napas pendek. Kali ini, ia tidak menunggu Freya memohon. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan kecupan di kening Freya. Namun, berbeda dengan kemarin yang terasa kaku dan tergesa-gesa, kecupan kali ini bertahan dua detik lebih lama. Kenzo bisa merasakan dahi Freya yang dingin, dan entah mengapa, ada dorongan asing di benaknya untuk tidak langsung menjauh.
Begitu Kenzo menarik dirinya, mata mereka sempat bertemu selama beberapa saat sebelum Kenzo berdeham kaku, berbalik, dan melangkah keluar menuju mobilnya.
Freya memandangi punggung itu. Hari kedua. Hubungan mereka tidak membaik, hanya menjadi sebuah rutinitas sandiwara yang anehnya mulai terasa polanya.
Siang harinya, ketenangan Freya kembali terusik, namun kali ini bukan oleh kedatangan Heidi, melainkan sebuah pesan singkat dari ibu angkatnya, Fransisca.
[Freya, datang ke rumah Ibu sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan tentang adikmu.] _Ibu
Setiap kali menerima pesan dari wanita yang mengadopsinya itu, jantung Freya selalu berdegup tak beraturan dengan rssa cemas yang menyelimutinya dengan tebal. Ia tahu, jika ini menyangkut Heidi, maka perannya sebagai anak tidak akan pernah berakhir baik. Dengan perasaan berat, Freya bersiap-siap dan memesan taksi menuju rumah masa kecilnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah kediaman keluarga angkatnya, Freya langsung disambut oleh atmosfer yang tegang. Fransisca duduk di sofa ruang tamu dengan wajah muram, sementara Heidi duduk di sampingnya, menyembunyikan wajahnya yang sembab di bahu sang ibu.
"Duduk, Freya," titah Fransisca dingin, bahkan tanpa menyapa anak angkatnya terlebih dahulu. Menanyakan kabarnya saja tidak. Ah tapi... bukankah setelah Heidi lahir mereka memang sudah mulai berubah sikap? Jadi, sudah tidak aneh lagi, bukan?
Freya duduk di sofa tunggal di seberang mereka. "Ada apa, Bu? Kenapa Heidi menangis?"
Fransisca menatap Freya dengan pandangan menghakimi, tatapan yang sudah sangat familiar bagi Freya sejak ia berusia empat tahun. "Heidi cerita pada Ibu tentang kedatangannya ke rumahmu kemarin. Freya, Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi wanita yang egois dan kejam."
Tuduhan itu menghantam telinga Freya bagai tamparan yang sangat keras. "Egois? Kejam? Apa maksud Ibu?"
"Kamu sengaja memamerkan kemesraanmu dengan Kenzo di depan Heidi untuk menyakiti hatinya, kan?!" suara Fransisca meninggi dan dipenuhi oleh gejolak amarah yang terasa membabi-buta. "Kamu tahu betul bagaimana perasaan Heidi pada Kenzo sejak dulu! Kenzo juga tidak pernah mencintaimu, dia terpaksa menikahimu karena utang budi suamiku! Kenapa kamu harus menyiksa mereka berdua dengan status pernikahan konyol ini?"
Freya merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya sesak luar biasa. Ia menatap ibu angkatnya, lalu beralih pada Heidi yang kini mengintip dari balik bahu ibunya dengan tatapan penuh kemenangan yang terselubung.