Darah hangat terus mengalir dari sela paha Alya, menyatu dengan air hujan yang mendinginkan tubuhnya yang kaku. Di bawah sorot lampu mobil Rolls-Royce yang menyilaukan, pandangannya yang kabur hanya mampu menangkap bayangan sepasang sepatu pantofel hitam yang berhenti tepat di depan wajahnya.
"Bertahanlah! Jangan tutup matamu!"
Sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa terdengar di antara gemuruh petir. Pria itu berlutut di atas aspal basah, sama sekali tidak peduli jas mahalnya dikotori lumpur dan darah.
"Dingin..." bisik Alya lirih. Kesadarannya berada di ambang batas. Tangannya yang gemetar masih berusaha mencengkeram perutnya yang terasa kosong. "Anakku... tolong... anakku..."
Pria itu langsung menyelipkan lengannya ke bawah leher dan lutut Alya, mengangkat tubuh wanita itu dengan mudah ke dalam dekapannya. "Buka gerbang rumah sakit terdekat! Hubungi Dokter spesialis kandungan sekarang juga!" perintah pria itu dengan nada dingin yang mutlak kepada asistennya.
"Baik, Tuan Devan!" sahut sang asisten, dengan cekatan membukakan pintu kursi belakang mobil mewah tersebut.
Begitu masuk ke dalam mobil, kehangatan penghangat ruangan langsung menyelimuti kulit Alya yang membeku. Namun, rasa sakit di perutnya justru semakin menjadi-jadi. Alya mencengkeram kemeja putih pria yang menyelamatkannya, sehingga meninggalkan noda darah di sana.
"Tolong... bayiku..." rintih Alya, air matanya bercampur dengan sisa air hujan di pipi.
Pria bernama Devan itu menatap wajah Alya yang pucat pasi di bawah lampu kabin. Sepasang matanya yang tajam bak elang menyipit ketika melihat luka memar di kepala dan bekas cengkeraman kasar di pergelangan tangan Alya.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Devan, suaranya melembut namun menyembunyikan amarah yang pekat. "Siapa suamimu?"
"Rendra..." Alya terbatuk, darah segar keluar dari sudut bibirnya. "Rendra Mahendra... dan Siska..."
Mendengar nama itu, rahang Devan mengeras. Kilat kebencian melintas di matanya. "Mahendra? Jadi kamu adalah istri yang dia sia-siakan?"
Alya tidak bisa lagi menjawab. Rasa sakit yang menghantam rahimnya membuat seluruh tubuhnya menegang sebelum akhirnya dunianya runtuh menjadi kegelapan total.
Aroma obat-obatan yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Alya saat ia perlahan membuka mata. Langit-langit putih bersih dan bunyi ritmis dari alat electrocardiogram (ECG) menyadarkannya bahwa ia berada di kamar rumah sakit.
"Anda sudah sadar, Nyonya?"
Alya menoleh dengan lemah. Seorang dokter wanita paruh baya berdiri di samping ranjangnya, menatapnya dengan pandangan penuh simpati.
Alya langsung meraba perutnya. "Dokter... bayiku... Bagaimana keadaan bayiku?"
Dokter itu menghela napas panjang, lalu menggeleng pelan. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Benturan di rahim Anda terlalu keras. Saat Anda tiba di sini, kami terpaksa melakukan operasi kuretase untuk menyelamatkan nyawa Anda. Janin Anda... tidak bisa diselamatkan."
Deg.
Jantung Alya rasanya berhenti berdetak. Air mata langsung menderu keluar tanpa bisa dibendung. Dunia tempatnya berpijak seolah runtuh seketika.
"Nggak... Nggak mungkin! Dokter bohong, kan?!" jerit Alya histeris. Ia mencoba bangun dari ranjang, namun rasa perih di perutnya membuatnya memekik kesakitan. "Anakku masih ada! Dia belum mati! Rendra... Siska... kalian iblis!"
"Nyonya, tenanglah! Kondisi Anda belum stabil!" Dokter mencoba menahan pundak Alya yang mengamuk kesetanan.
Pintu kamar rawat VIP itu terbuka. Devan Elvano melangkah masuk dengan langkah tegap. Jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku.
"Dokter, tinggalkan kami berdua," ucap Devan dingin namun tegas.
"Baik, Tuan Devan. Tolong jaga agar pasien tidak terlalu banyak bergerak," ujar dokter tersebut sebelum membungkuk hormat dan keluar dari ruangan.
Alya masih menangis tersedu-sedu, memeluk lututnya sendiri di atas ranjang. "Kenapa kamu menyelamatkanku? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja bersama anakku?!"
Devan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang Alya. Ia menyerahkan selembar tisu, namun Alya mengabaikannya.
"Mati tidak akan menyelesaikan apa pun, Alya Kirana," kata Devan datar, menyebut nama lengkap Alya dengan fasih.
Alya mendongak dengan mata sembap. Kacamata tebalnya sudah tidak ada, membuat pandangannya terhadap wajah Devan agak buram, namun ia bisa merasakan aura intimidasi yang luar biasa dari pria itu. "Kamu... bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu sebenarnya?"
"Devan Elvano. Pemilik Elvano Corps," jawabnya tenang.
Alya tertegun. Bahkan sebagai wanita rumahan, ia tahu siapa Elvano Corps. Itu adalah satu-satunya raksasa bisnis yang menjadi rival abadi Mahendra Group milik mantan suaminya.
"Lalu... kenapa orang besar sepertimu mau menolong wanita cacat dan tidak punya apa-apa sepertiku?" tanya Alya getir. "Apa kamu juga punya niat buruk?"
Devan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, melipat kaki dengan anggun. "Niat buruk? Tidak. Aku hanya menawarkan sebuah kesepakatan bisnis yang sangat menguntungkan untuk kita berdua."
"Kesepakatan bisnis?" Alya terkekeh sinis di sela tangisnya. "Aku baru saja kehilangan anakku, diceraikan suamiku, dan diusir seperti anjing. Aku tidak punya uang sepeser pun untuk berbisnis denganmu!"
"Aku tidak butuh uangmu," potong Devan tajam. Ia memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam manik mata Alya yang rusak. "Aku butuh kebencianmu. Aku butuh ambisimu untuk menghancurkan Rendra Mahendra."
Alya terdiam. Kata 'menghancurkan Rendra' seperti percikan api yang menyambar bensin di dalam dadanya.
"Rendra Mahendra merebut sesuatu yang berharga dariku di masa lalu," lanjut Devan, suaranya mendalam dan penuh dendam yang tertahan. "Dan sekarang, dia juga menghancurkan hidupmu. Kita memiliki musuh yang sama, Alya."
"Tapi bagaimana cara aku melawannya?" Alya meremas selimut rumah sakit dengan erat. "Aku bahkan kesulitan melihat wajahmu dengan jelas sekarang. Aku cacat karena mendonorkan korneaku untuk Rendra! Aku lemah!"
"Kamu tidak lemah, kamu hanya belum diasah," sahut Devan. Ia berdiri, lalu mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya dan meletakkannya di depan Alya. "Di luar negeri, ada teknologi medis terbaru yang bisa menyembuhkan matamu tanpa perlu donor total. Aku akan membiayai seluruh pengobatanmu. Aku juga tahu kamu memiliki bakat terpendam dalam desain perhiasan sebelum kamu melepaskan mimpimu demi menjadi istri penurut."
Alya menatap dokumen itu dengan tangan gemetar. "Kamu... mau membiayai semuanya?"
"Ya. Aku akan mengirimmu ke luar negeri malam ini juga. Kamu akan mendapatkan identitas baru, kehidupan baru, dan pelatihan terbaik," ucap Devan, suaranya terdengar seperti bisikan iblis sekaligus malaikat pelindung. "Tiga tahun. Aku memberimu waktu tiga tahun untuk belajar dan mengubah dirimu."
Alya menatap Devan, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu, namun yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang dingin. Pikiran Alya melayang pada tawa puas Siska dan tatapan muak Rendra saat melempar surat cerai. Rasa sakit karena kehilangan bayinya mendadak menjelma menjadi amarah yang membakar seluruh akal sehatnya.
"Setelah tiga tahun... apa yang harus aku lakukan?" tanya Alya, suaranya kini terdengar berbeda—tidak ada lagi kerapuhan, hanya ada kekosongan yang mematikan.
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bisa membuat bulu kuduk siapa pun merinding.
"Setelah tiga tahun, kamu akan kembali sebagai 'Elena', desainer perhiasan nomor satu di dunia, di bawah naungan Elvano Corps," jawab Devan. "Kamu akan berdiri di puncak, dan kita akan membuat Rendra Mahendra berlutut di bawah kakimu, memohon ampunan yang tidak akan pernah ia dapatkan."
Alya memejamkan matanya rapat-rapat. Saat ia membukanya kembali, air matanya sudah kering. Yang tersisa hanyalah tatapan sedingin es.
"Baik," ucap Alya tegas. Ia menandatangani dokumen kesepakatan yang diberikan Devan tanpa ragu-ragu. "Aku menerima tawaranmu, Tuan Devan."