BAB 1: Surat Cerai di Atas Meja
Di atas meja kerja kayu jati yang mewah, selembar kertas putih bersih tergelatak sangat menyedihkan
Alya Kirana menatap kertas itu dengan pandangan kabur. Sudut matanya terasa perih, efek samping dari operasi donor kornea yang dilakukannya dua tahun lalu demi menyelamatkan penglihatan pria di hadapannya.
"Tanda tangani, Alya."
Suara Rendra Mahendra terdengar bariton, datar, dan tanpa beban. Pria dengan setelan jas mahal itu bahkan tidak memandang istrinya. Ia sibuk mengancingkan lengan kemejanya.
Alya menarik napas bergetar. "Apa ini, Ren?"
"Kamu bisa membaca, bukan? Meskipun matamu tidak lagi berfungsi dengan baik," sahut Rendra dingin, akhirnya menoleh dengan tatapan sinis. "Itu surat gugatan cerai."
"Cerai?" Suara Alya tercekat di tenggorokan. "Kenapa? Apa salahku, Ren? Selama tiga tahun ini, apa ada pelayananku yang kurang? Aku mengurus rumah ini, aku mengurus ibumu, aku bahkan—"
"Cukup, Alya!" Rendra menggebrak meja, membuat pena premium di atasnya menggelinding jatuh. "Jangan mulai bertingkah seperti korban. Kita berdua tahu, sejak awal pernikahan ini adalah kesalahan. Kamu tidak lagi pantas bersanding di sisiku."
Alya terkekeh sumbang, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang pucat. "Tidak pantas? Karena sekarang aku cacat? Karena mataku tidak bisa melihat dengan jelas lagi?"
"Itu pilihanmu sendiri untuk mendonorkannya dulu. Jangan konyol dengan terus-menerus mengungkitnya sebagai hutang budi," potong Rendra kejam.
"Pilihan?" Alya melangkah maju, tangannya meraba pinggiran meja untuk menopang tubuhnya yang mendadak lemas. "Kamu kecelakaan, Rendra! Kamu hampir buta total! Kalau bukan karena aku yang memberikan sebagian penglihatanku, kamu tidak akan bisa memimpin Mahendra Group sampai sesukses ini!"
Rendra mendengus, melangkah mendekati Alya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum maskulin yang dulu sangat Alya cintai kini justru terasa mencekik.
"Dengar, Alya Kirana," bisik Rendra tepat di telinganya, tajam seperti sembilu. "Mahendra Group butuh suntikan dana segar dari sekutu yang kuat. Siska adalah putri tunggal dari Wijaya Corps. Dia berpendidikan tinggi, modis, dan memiliki jaringan internasional. Sementara kamu? Kamu hanya wanita rumahan yang bahkan kesulitan membedakan warna benang di bawah lampu redup."
"Jadi karena wanita itu..." Alya meremas dadanya yang terasa dihantam godam. "Kamu membuangku demi investasi?"
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Seorang wanita dengan gaun merah menyala dan riasan glamor melangkah masuk dengan anggun. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang angkuh. Siska Wijaya.
"Sayang, apakah urusanmu dengan wanita ini belum selesai? Mobil kita sudah siap untuk ke pesta perayaan malam ini," ucap Siska bergelayut manja di lengan Rendra.
Rendra seketika melembutkan tatapannya pada Siska. "Sebentar lagi, Sayang. Dia hanya sedang keras kepala."
Siska menatap Alya dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Alya, Alya... jika aku jadi kamu, aku akan tahu diri. Menantu keluarga Mahendra harus bisa menyambut tamu-tamu diplomat, bukan memakai kacamata tebal dan memecahkan piring porselen di dapur."
"Jaga mulutmu, Siska! Aku masih istri sah di rumah ini!" bentak Alya, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.
"Istri sah?" Siska tertawa renyah, meremehkan. "Mulai malam ini, bukan lagi. Rendra sudah mengalihkan seluruh hak atas rumah ini atas namaku. Lagipula, wanita yang tidak bisa memberikan keturunan seperti kamu, untuk apa dipertahankan?"
Alya tertegun. Tangannya refleks turun menyentuh perutnya yang masih rata. Rahasia yang baru ia ketahui tadi pagi dari dokter—bahwa dia akhirnya hamil setelah tiga tahun menunggu—terasa menguap menjadi racun.
Alya menatap Rendra dengan mata berkaca-kaca. "Ren... kamu tahu kita sedang berusaha. Bagaimana jika aku—"
"Sudahlah, Alya. Mau kamu hamil atau tidak sekarang, keputusan tidak akan berubah," potong Rendra cepat, seolah muak mendengar pembelaan Alya. "Aku sudah muak melihat wajah depresifmu di rumah ini. Tanda tangani kertas itu, ambil uang kompensasi lima ratus juta di amplop hitam itu, dan pergi dari sini."
"Lima ratus juta?" Alya menatap amplop yang dilemparkan Rendra ke lantai. "Kamu menilai seluruh hidupku, cintaku, dan mataku hanya seharga lima ratus juta?"
"Itu sudah lebih dari cukup untuk wanita dari panti asuhan sepertimu," sela Siska sinis. "Ayo, Rendra, kita bisa terlambat. Biar pelayan yang mengurus pengusirannya jika dia menolak."
Rendra mengangguk, lalu mengambil pena dan memaksakannya ke tangan Alya. "Tanda tangan. Sekarang. Jangan membuatku kehilangan kesabaran."
Dengan tangan gemetar dan pandangan yang semakin mengabur oleh air mata, Alya menggenggam pena itu. Dadanya sesak hingga rasanya mau mati. Pria yang dulu berlutut memohon cintanya, pria yang berjanji akan menjadi matanya jika ia kegelapan, kini menjelma menjadi iblis yang paling menakutkan.
Sret. Sret.
Alya menggoreskan tanda tangannya di atas kertas k*****t itu.
"Puas?" Alya melempar pena itu hingga mengenai d**a Rendra. "Kamu akan menyesali ini, Rendra Mahendra. Demi Tuhan, kamu akan membayar setiap air mata dan darah yang keluar dari tubuhku malam ini!"
Rendra hanya memandangnya datar, lalu mengambil surat yang sudah ditandatangani itu. "Semoga hidupmu beruntung, Alya. Ayo, Siska."
Kedua orang itu melangkah pergi, meninggalkan Alya sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa seperti kuburan.
Sepuluh menit kemudian, Alya berjalan gontai keluar dari rumah besar itu. Ia bahkan tidak diizinkan membawa pakaiannya, hanya tas selempang kecil berisi ponsel dan dompetnya. Hujan di luar semakin menggila, angin kencang langsung menusuk kulitnya yang hanya dibalut gaun rumahan tipis.
Saat ia baru mencapai gerbang luar, langkahnya dihentikan oleh Siska yang berdiri di bawah payung hitam besar, dikawal oleh seorang pria berbadan tegap.
"Mau ke mana, Mantan Nyonya Mahendra?" tanya Siska dengan senyum licik.
"Aku sudah keluar dari rumah ini, Siska. Apa lagi yang kamu mau?" tanya Alya lirih, tubuhnya mulai menggigil kedinginan.
Siska mendekat, membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah namun penuh bisa. "Aku mau memastikan kamu tidak akan pernah punya kesempatan untuk kembali. Termasuk... benih sialan yang ada di perutmu itu."
Alya membelalakkan matanya. "Kamu... dari mana kamu tahu?!"
"Aku punya mata-mata di rumah sakit tempatmu periksa tadi pagi, Bodoh," desis Siska. "Rendra tidak boleh tahu tentang anak itu. Jadi, mari kita selesaikan ini dengan cepat."
Siska memberi isyarat mata pada pria berbadan tegap di sampingnya. Sebelum Alya sempat berteriak, pria itu mencengkeram lengan Alya dengan kasar dan menyeretnya menuju tangga beton pembatas jalan yang curam dan licin.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Tolong!!" jerit Alya histeris, mencoba melindungi perutnya dengan kedua tangan.
"Diam kamu!" Pria itu menjambak rambut Alya, lalu dengan satu sentakan kuat, mendorong tubuh Alya ke bawah tangga setinggi tiga meter itu.
"Aaaakh!"
Tubuh Alya berguling dihantam kerasnya beton. Kepalanya membentur pinggiran tajam, dan rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar dari perut bagian bawahnya. Darah segar mulai mengalir, bercampur dengan air hujan yang deras.
Di bawah remang lampu jalan, Alya berbaring tak berdaya. Kesadarannya perlahan menipis, namun ia masih bisa mendengar suara tawa Siska dari atas tangga sebelum suara langkah kaki menjauh dan deru mobil sport Rendra meninggalkan area tersebut.
Alya meraba perutnya yang terasa sangat perih dan kosong. Anakku...
Pandangannya menggelap. Di ambang kematiannya, sepasang lampu depan mobil mewah Rolls-Royce berwarna hitam pekat tiba-tiba menyorot tajam ke arah tubuhnya yang terkapar di pinggir jalan. Pintu mobil terbuka, dan sebuah sepatu pantofel mahal melangkah turun mendekatinya di tengah hujan deras.