10. Apa Itu?

1368 Kata
“Apa ini?” tanya Leon yang melihat ada beberapa peti kayu di gudang itu. Sepertinya ini barang yang dikhawatirkan Robin tadi. Leon menoleh ke Robin. “Barang apa ini? Kenapa ada di sini?” tanya Leon ingin tahu. “Bukan apa-apa. Dani, amankan semua. Letakkan di tempat yang aman,” perintah Robin pada asistennya. “Baik, Pak.” Robin menoleh ke Leon. “Ayo pulang.” Robin melangkah keluar dari gudang. Dia tidak ingin kakaknya banyak bertanya lagi. Leon sekali lagi melihat ke peti kayu itu. Rasa penasarannya semakin tinggi karena dia merasa barang itu seharusnya tidak ada di gudang ini. Leon melihat ke Dani sebentar, lalu segera pergi meninggalkan gudang. Dia melihat Robin sedang bicara dengan tim keamanan galeri di lobi galeri milik adiknya itu. Robin langsung kembali ke mobil. Dia ingin segera kembali ke hotel, ingin menemani istri barunya. Leon ikut masuk ke dalam mobil. Dia memasang sabuk pengamannya dan duduk dengan tenang. “Barang apa tadi?” tanya Leon lagi. “Cuma kiriman barang buat dilelang minggu depan,” jawab Robin. Leon menoleh ke adiknya. “Barang lelangan? Kenapa di simpan di sana? Bukannya biasanya barang milik seniman disimpan di gudang atas.” “Gudangnya penuh. Masih ada beberapa barang yang belum diambil pembelinya.” “Lalu bagaimana dengan lukisan rusak yang ada di gudang tadi? Kenapa barang itu juga ada di sana?” Robin yang kesal karena kakaknya terlalu banyak bicara, kini ikut menoleh ke sang kakak. Tatapannya tajam dan rahangnya mulai mengetat. “Apa kau sedang menginterogasiku?” tanya Robin, tidak suka dengan sikap kakaknya. “Bukan gitu. Tapi kan aneh aja kalo sam—“ “Gak ada yang aneh! Gudang atas masih penuh dan aku pake gudang bawah buat sementara. Lagi pula penyimpanan juga sesuai prosedur. Kalo soal lukisan rusak itu, aku kena tipu. Beberapa saat lalu ada seorang kolektor yang mencoba menjual koleksinya di galeri. Saat ada yang datang menawar, si calon pembeli tau kalo itu barang palsu. Saat aku hubungi lagi kolektor itu, dia tidak mengaku. Lalu nomorku di blok. Malas kena masalah, akhirnya aku simpan saja di sana,” jawab Robin menjelaskan pada kakaknya dengan nada ketus. Leon memalingkan wajahnya setelah mendengar penjelasan Robin. Dia tahu kalau saat ini Robin sedang kesal. Demi menjaga kepercayaan Robin kepadanya, Leon memilih tidak lagi memperpanjang interogasinya. “Aku cuma gak mau kamu nyimpen barang ilegal. Soalnya se—“ “Apa maksudmu dengan barang ilegal?!” Robin kembali tidak suka dengan ucapan kakaknya. Leon menoleh lagi ke Robin. “Gak baca berita tentang galeri di Taiwan itu?” Robin melengos. Kini pandangannya tertuju di gelapnya jalanan di depannya. “Kau pikir aku sebodoh mereka?” “Dari pada ngurusin galeri yang bukan urusanmu, lebih baik selesaikan masalah di toko. Mereka sudah ingin ada model baru,” lanjut Robin mengingatkan kakaknya atas tanggung jawabnya menjaga perusahaan perhiasan miliknya. Robin menoleh lagi ke kakaknya. “Kalo sampe aku rugi banyak, kamu yang harus ganti semuanya!” ancam Robin tegas. Leon memilih tidak menjawab. Dia tidak mau ketegangan ini akan semakin meruncing dan membuat dirinya akan diusir oleh Robin. Bukan takut tidak akan bisa hidup dengan baik kalau diusir Robin, tapi Leon takut kehilangan akses untuk menyelidiki adiknya. Leon mendapat kabar kalau adiknya telah melakukan pekerjaan haram di galerinya. Meski dia tidak percaya, tapi rasa penasaran itu semakin naik seiring dengan kejanggalan yang dia temui. Kekayaan dan popularitas galeri seni milik Robin berkembang pesat setahun belakangan ini. Banyak pengusaha dan pejabat kota ini, yang sering membeli koleksi di galeri Robin. Leon yang lebih tahu bisnis dari pada adiknya, memanfaatkan kesempatan saat Robin menawarinya untuk membantunya mengelola bisnis perhiasan miliknya. Tentu saja dengan menjadi orang kepercayaan Robin, akan lebih mudah bagi Leon menyelidikinya. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi dan penuh ketegangan. Selain lelah, mereka juga sedang menjaga diri agar tidak terlalu frontal yang akan mengakibatkan dampak buruk bagi mereka sendiri. Akhirnya mobil kembali parkir di depan lobi hotel. Dua kakak beradik itu segera masuk dan menuju kamar mereka masing-masing. Leon masuk ke kamarnya. Dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang. “Selamat malam, Pak Leon.” “Apa isi peti di gudang bawah?” tanya Leon langsung tanpa basa-basi. “Gudang bawah?” Toni tampak bingung dengan pertanyaan atasannya. “Aku baru dari galeri dan di sana ada 2 peti kayu besar. Kata Robin itu isinya barang lelangan. Kenapa diletakkan di sana? Apa kau sudah menyelidikinya?” “Maaf Pak, saya kurang tahu soal ini. Saya belum memeriksanya.” “Bodoh! Seharusnya kau tidak melewatkan apapun!” bentak Leon. “Maafkan saya, Pak. Besok akan saya cari tau.” “Cepat laporkan!” Leon langsung memutus sambungan teleponnya. Dia menjadi sangat kesal karena orang kepercayaannya hampir saja melewatkan sesuatu yang penting. Leon telah menaruh orang kepercayaannya di galeri. Tentu saja untuk mendapat banyak informasi yang terjadi di sana. Tapi ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Banyak ruangan di sana yang hanya bisa diakses oleh Robin dan Dani. Robin sangat hati-hati menjaga keamanan galerinya. Sementara itu di kamar lain, Robin masuk ke dalam kamarnya. Lampu sudah padam dan keadaan sudah sangat sunyi. Viona sudah tidur. Wanita itu tampak sangat lelap, mungkin karena kelelahan. Robin tersenyum sendiri melihat istrinya. Saat perjalanan pulang tadi, Robin berharap akan melihat istrinya menunggunya pulang. Ternyata itu hanya angan belaka, karena Viona meninggalkannya tidur. Robin segera membersihkan diri agar bisa segera tidur juga. Badannya juga lelah, ingin diistirahatkan. Viona merasakan kehadiran suaminya saat tiba-tiba ada tangan yang merengkuhnya dari belakang. Viona menarik napas panjang, mencoba pasrah, meski dia tidak ikhlas. ** Pagi menjelang. Viona bangun lebih dulu dan melihat Robin masih tertidur lelap. Tangan pria itu yang memeluknya hampir sepanjang malam, juga sudah terlepas. Selagi Robin tidur, Viona segera turun dari ranjang. Dia ingin mandi lebih dulu, menghindari kemungkinan Robin akan mendekatinya di kamar mandi. Viona membasuh wajahnya dengan air hangat. Viona menatap wajahnya di cermin wastafel sambil mengusap lembut wajahnya dengan sabun mahal. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Viona lupa menguncinya saat dia masuk tadi. “Ro-Robin,” panggil Viona kaget, bahkan tidak merasa perih kala cairan sabun itu masuk ke matanya. Robin yang masih mengantuk, melangkah masuk ke kamar mandi dan menutupnya kembali. Robin berdiri di belakang Viona dan langsung memeluk posesif pinggang istrinya. Viona kaget. Dia berusaha melepaskan diri dari Robin, dengan dalih ingin membersihkan wajahnya dulu. Bukannya pergi, Robin malah berdiri di samping Viona lalu membasuh wajahnya juga dengan air dingin. Viona tidak bisa mempercepat gerakannya. Semua akan terasa janggal di mata Robin kalau dia terlihat menghindari suaminya. “Mau sarapan di mana?” tanya Robin sambil mengelap wajahnya. “Bu-bukannya kita akan kumpul di bawah ya. Kata Om Sam kemaren gitu kan,” jawab Viona sambil melihat suaminya dari pantulan kaca wastafel. Bukannya menjawab lagi, Robin malah kembali memeluk Viona dari belakang. Meletakkan dagunya di pundak Viona, Robin bergelayut manja pada istrinya, memulai keintiman mereka sebagai pasangan suami istri. “Tapi aku mau di sini aja. Mau berdua ama kamu,” ucap Robin pelan, penuh dengan cumbuan. “Aku mau kamu, Sayang,” bisik Robin di telinga Viona. Tubuh Viona bergetar. Menahan geli dan juga bercampur kesal. Viona takut, hasratnya akan ikut naik, kalau Robin terus mencumbunya seperti itu. “Tap-tapi aku .... Aku mas—“ “Ada apa lagi, Sayang. Kita udah menikah. Malam pertama kita semalam tertunda. Apa kamu gak pengen?” bujuk Robin sambil menciumi batang leher dan pundak sang istri, bahkan tangannya juga sudah mulai berkelana di perut istrinya. Viona memejamkan matanya erat-erat. Dia mencoba menyadarkan dirinya terus, berharap dia tidak terbuai. Saat bibir Robin menjelajahi lehernya, hati Viona terus mengumpati suaminya itu. Akan sangat mengerikan kalau dia sampai mendesah. Tangan Viona berpegangan erat di wastafel. Dia terjepit, takut kalah dari cumbuan Robin. Bagaimana pun, dia tetap wanita normal. “Robin aku ... ak—“ “Apa ini?!” ucap Robin kaget saat dia menyentuh pinggang bawah istrinya. Kesempatan ini digunakan Viona untuk melepaskan diri dari kungkungan Robin. Dia mundur selangkah lalu menyembunyikan barang yang ada di saku piyamanya. Robin melihat gerakan istrinya. Matanya sampai menyipit, melihat kedua tangan istrinya yang menyilang di belakang. “Apa itu?” tanya Robin. “Bu-bukan apa-apa,” jawab Viona. “Apa itu, Viona?!” tanya Robin sekali lagi dengan nada lebih tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN