Chapter 43. Terkuak!

1910 Kata

"Duduknya biasa aja, Rimbi. Kenapa seperti ada ranjau di kursimu?" Ganesha meledek Arimbi. Sedari tiba di rumah kedua orang tuanya Arimbi memang tampak tegang. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Hanya adiknya Seno yang menatapnya dengan tatapan penuh spekulasi. Adiknya ini pasti semangat empat lima ingin melihatnya jatuh. "Ayah dan Ibu juga. Mengapa kalian tegang sekali? Kamu juga Seno. Sudah tidak sabar ingin menyaksikan kejatuhanku ya?" Ganesha menghempaskan pinggul di samping Arimbi. Merangkul bahu istrinya santai. Ia heran, yang dicurigai adalah dirinya. Seharusnya yang tegang itu dirinya bukan? Namun suasananya malah terbalik. Semua orang harap-harap cemas, sementara dirinya tenang-tenang saja. Pukul satu siang tadi, kedua orang tuanya meneleponnya. Mereka mengatakan bahwa hasil

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN