bc

Istri Pilihan Nenek

book_age18+
13
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
fated
forced
boss
drama
sweet
bxg
city
office/work place
cruel
like
intro-logo
Uraian

“Lakukanlah, Nenek di luar mengawasi,” bisik Keira. “Lalu apa yang harus aku lakukan? Bagaimana … mmpphhh.” Di luar dugaan, Keira memulainya. Sean diam tapi kemudian mengimbangi.***Keira Naresta, seorang eksekutif wanita yang dicap perawan tua oleh keluarga ayahnya sendiri. Bagi orang lain, hidupnya sempurna tanpa tahu luka masa lalunya dalam hubungan asmara. Masalah terbesar bagi Keira adalah keluarga ayah dan adik satu-satunya. Suatu hari, Keira dijebak oleh orang tuanya dan tetangganya untuk melangsungkan pertunangan dengan Sean Evander, cucu tetangga Keira itu. Mereka jelas menolak, tapi kondisi nenek yang lemah membuat keduanya terjebak dalam perjanjian pura-pura hingga sisi gelap keduanya terungkap. Bisakah Keira dan Sean tetap berpegang pada pendirian bahwa mereka tak akan menjalin hubungan serius, atau terjebak dalam kepura-puraan hingga kisah dan orang dari masa lalu kembali menggoyahkan keduanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Istri Pilihan Nenek
"Usiamu itu sebentar lagi tiga puluh lima, Keira! Mau tunggu sampai kapan lagi? Mau nunggu sampai rahimmu kering, baru sadar kalau kamu itu cuma perawan tua?" Suara Bibi Rika melengking nyaring, membelah keheningan ruang tamu. Keira Naresta meletakkan cangkir tehnya pelan ke atas piring kecil. Dia memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang untuk menahan letupan emosi yang sudah menumpuk di pangkal tenggorokannya. "Keira sibuk kerja, Bi," jawab Keira semengalir mungkin, mencoba tetap tenang. "Kerja terus yang dipikirkan!" sahut Paman Aris sambil tertawa sinis dari sudut sofa. "Jabatanmu di bank itu memang tinggi, uangmu banyak, tapi buat apa kalau tidak ada laki-laki yang mau bersamamu? Wanita itu sejatinya ya mengurus suami dan anak. Jangan terlalu jual mahal, Keira." "Aku tidak pernah jual mahal, Paman," balas Keira cepat. "Lalu kenapa sampai sekarang belum menikah juga?" cerca Bibi Rika lagi tanpa memberi jeda. "Makin tua, harga dirimu di mata laki-laki makin turun. Lihat Nadia, anakku itu sudah punya anak SD. Lihat juga Astuti, anaknya sudah mau SMP. Lihat Aluna saja sudah pernah dilamar orang, walau ujung-ujungnya gagal. Nah kamu? Sepi seperti kuburan. Apa tidak malu sama sepupu-sepupumu yang lain?" "Hentikan, Aris!" Fian, ayahnya Keira itu menyentak tapi Aris seperti tidak mendengarkan. "Iya, Keira. Dengarkan kata Bibi dan Pamanmu," timpal sepupunya, Maya, seraya memutar bola mata. "Cari suami itu tidak usah yang terlalu sempurna. Yang penting ada yang mau dulu. Daripada jadi beban pikiran keluarga terus?" "Beban pikiran bagaimana maksudmu, Maya?" Keira beralih menatap sepupunya itu dengan intonasi yang mulai menajam. "Ya, kasihan Papa dan Mama kamu kalo tidak laku-laku," balas Maya santai tanpa rasa bersalah. "Cukup," ucap Keira pendek. "Kenapa cukup? Kami ini bicara kenyataan, Keira!" seru Rika tak mau kalah, menunjuk wajah Keira dengan jarinya. "Kamu itu sudah hampir tiga puluh lima tahun. Dalam hitungan bulan, kamu resmi jadi perawan tua yang tidak laku. Mau ditaruh di mana muka keluarga ini?" Keira berdiri dari kursinya. Punggungnya tegap, matanya menatap satu per satu kerabatnya yang berkumpul di meja makan. "Sudah selesai bicaranya?" tanya Keira datar. "Kamu jangan kurang ajar ya, Keira! Orang tua sedang menasihati!" tegur Paman Aris sambil menepuk meja kayu di depannya. "Menasihati atau menghina?" potong Keira cepat. "Sejak tadi aku diam karena menghormati kalian sebagai orang yang lebih tua. Tapi sepertinya kalian tidak tahu batasan." "Keira! Jaga sopan santunmu!" bentak Rika dengan wajah memerah. "Sopan santun?" Keira terkekeh sinis. "Apa pantas orang yang menyebut keponakannya 'perawan tua tak laku' bicara soal sopan santun di depan aku?" "Kami bicara fakta!" "Fakta bahwa aku membiayai hidup sendiri tanpa minta uang sepeser pun dari kalian dan Ayah," sergah Keira, membuat suasana ruang tamu mendadak hening seketika. "Atau fakta bahwa uang dari 'perawan tua' ini yang sering dipakai untuk menutup hutang anak-anak Bibi dan Paman?" Muka Rika dan Aris berubah merah padam. "Kamu, kamu menyumbang sedikit saja sudah sombong!" tuduh Rika gemetar. "Aku tidak sombong. Aku hanya mengingatkan," balas Keira dingin. "Urusan aku menikah atau tidak, itu bukan urusan kalian. Jangan pernah ikut campur lagi dalam hidupku." "Keira, sudah, malu dilihat sepupu yang lain," bisik ibunya mencoba menarik lengan baju kakaknya. Keira menepis tangan adiknya pelan. "Kamu mau ke mana?" tanya sang ibu. "Pulang." Keira melangkah lebar menuju pintu keluar tanpa mempedulikan teriakan Aris yang memanggil namanya. Dia mengabaikan tatapan mata dari belasan saudaranya yang berada di sana. Langkah kakinya terasa mantap meski dadanya bergemuruh hebat. Begitu masuk ke dalam mobil, Keira menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, lalu menyandarkan kepalanya pada kemudi. "Tak apa, sabar aja, sedikit lagi," bisik hatinya menekan rasa sesak yang merayap di d**a. Dia tidak menangis. Rasa marahnya terlalu besar hingga air mata pun enggan keluar. Keira menyalakan mesin mobil dan langsung menekan pedal gas, meninggalkan pekarangan rumah keluarga besarnya. Di sepanjang jalan, pikirannya berkecamuk. Kata-kata kasar dari bibi dan pamannya terus berputar di kepala seperti kaset rusak. Ponselnya di atas dasbor bergetar berulang kali menampilkan nama Nabila, tapi Keira mengabaikannya. Sebuah pesan masuk dari adiknya sempat terbaca saat lampu merah. [Nabila: Bibi Rika marah besar. Kakak kenapa harus ngomong soal hutang Mas Danu sih? Kan jadi makin ribet.] Keira melempar ponselnya ke jok samping. Tidak ada rasa penyesalan sedikit pun. Dia sudah terlalu lelah mengalah. Mobilnya membelah jalanan kota yang mulai lengang hingga akhirnya masuk ke area parkir basement apartemen tempat tinggalnya. Keira keluar dari mobil, melangkah menuju lift, lalu menekan tombol lantai paling atas. Dia tidak ingin masuk ke unitnya yang sepi. Keira butuh udara luar. Begitu pintu lift terbuka di lantai teratas, Keira berjalan menyusuri koridor kecil menuju tangga manual yang mengarah ke atap gedung. Dia mendorong pintu besi tebal yang tidak terkunci itu hingga berderit nyaring. Angin malam yang dingin langsung menyapa wajahnya. Keira melangkah mendekati pagar pembatas rooftop lantai dua puluh lima itu, memejamkan mata sambil menghirup udara malam dalam-dalam. "Tempat ini bukan untuk melompat, kalau itu yang ada di pikiranmu." Suara berat dan dingin tiba-tiba terdengar dari arah kegelapan di sebelah kirinya. Keira tersentak kaget. Tubuhnya refleks berbalik cepat. "Siapa itu?" Seorang pria melangkah keluar dari bayang-bayang pilar beton. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, celana bahan gelap, dan jas yang tersampir di salah satu tangannya. Penampilannya rapi, tapi raut wajahnya sangat kaku. "Kamu yang siapa?" tanya pria itu balik dengan suara malas. "Ini area privat." Keira memicingkan mata, menilai pria di hadapannya. "Saya penghuni apartemen ini. Dan setahu saya, atap gedung ini fasilitas umum untuk penghuni." "Tapi kamu mengejutkan orang yang sedang cari ketenangan," balas pria itu datar. "Saya tidak melakukan apa-apa," sahut Keira, sedikit kesal. "Saya cuma berdiri di dekat pagar." "Dengan helaan napas berat seperti orang putus asa," timpal pria itu dingin. "Orang lain yang lihat bisa salah paham." Keira tertawa hambar. "Saya tidak ada niat melompat sama sekali. Jadi kamu tidak perlu sok tahu." "Bagus kalau begitu," kata pria itu pendek. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan korek api dan sebatang rokok, lalu menyalakannya tanpa acuh. Keira mengernyit mencium bau asap rokok yang terembus angin. "Bisa tidak merokok di tempat lain? Saya tidak suka bau asapnya." Pria itu menghentikan gerakannya, menatap Keira dengan satu alis terangkat. "Saya di sini lebih dulu sebelum kamu datang." "Tapi tempat ini luas. Kamu bisa pindah ke ujung sana," tunjuk Keira pada sudut atap yang lain. "Kamu yang baru datang, kenapa tidak kamu saja yang pindah?" balas pria itu tanpa beban, menyemburkan asap rokoknya ke udara. Keira mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hari ini sudah cukup buruk dengan makian keluarganya, dan sekarang dia harus berhadapan dengan pria asing yang sama sekali tidak punya tata krama. "Kamu selalu bicara sesuka hati pada orang asing yang baru kamu temui?" tanya Keira menahan kekesalan. Pria itu menatap Keira lurus-lurus melalui obsidian matanya yang kelam, lalu mematikan rokoknya di dinding beton. "Hanya pada orang yang mengganggu ketenangan saya."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tentang Cinta Kita

read
230.2K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
170.0K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.6K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
7.2K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.8K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook