Bab 15

1194 Kata
Di dalam ruang kerja eksekutif bernuansa modern-industrial yang megah di lantai paling atas gedung pencakar langit Abraham Group, keheningan yang tenang mendadak pecah oleh suara dengungan halus dari ponsel pintar milik sang pemilik kekuasaan. Vernon Abraham sedang duduk tegap di balik meja kerja berbahan kayu mahoni utuh. Pria berusia 34 tahun itu mengenakan kemeja putih yang disingsingkan rapi hingga melingkari lengannya yang kekar, memamerkan urat-urat menonjol serta jam tangan perak bernilai fantastis. Jemari tangannya yang panjang tengah sibuk menggeser dokumen-dokumen investasi berskala internasional ketika notifikasi prioritas dari bank internasional berbunyi. Vernon menghentikan aktivitasnya sejenak. Dengan gerakan santai dan penuh wibawa, ia mengambil ponsel tersebut lalu mengusap layarnya yang menyala terang. Notifikasi Transaksi Bank Prioritas Utama: PENGELUARAN BERHASIL: IDR 100.000.000.000,00 - GRAFF DIAMONDS EXCLUSIVE. Garis rahang tegas Vernon membeku seketika. Sepasang mata elangnya yang cokelat gelap memicing, membaca deretan angka nol yang berjejer panjang di layar kaca tersebut. Seratus miliar rupiah. Sebuah angka fantastis yang lenyap hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit di satu toko perhiasan. Namun, alih-alih menunjukkan riak kemarahan, raut wajah tegang, atau kekecewaan besar, sudut bibir tebal Vernon justru perlahan terangkat. "Hahaha..." Vernon terkekeh rendah. Tawa tipis yang awalnya samar itu perlahan berubah menjadi tawa renyah yang bergema halus di dalam ruang kerjanya yang luas dan sepi. Pria itu menyandarkan punggung kokohnya pada sandaran kursi kulit mewahnya, menggelengkan kepala pelan dengan binar mata yang sarat akan rasa geli bercampur kepuasan murni. Bukannya marah, Vernon justru merasa teramat senang. Mungkin Vernon memang sudah agak gila. Bagi pengusaha atau konglomerat mana pun di dunia ini, melihat uang ratusan miliar rupiah melayang hanya dalam hitungan detik untuk membeli tumpukan batu permata tentu bisa memicu serangan jantung mendadak. Namun bagi seorang Vernon Abraham, nominal fantastis itu tidak lebih dari sekadar deretan angka tak berarti di dalam sistem perbankannya yang tak terbatas. Vernon tidak mempermasalahkan hal itu sedikit pun. Jangankan seratus miliar, jika Olivia memutuskan untuk membeli seluruh saham toko perhiasan itu beserta gedungnya sekaligus, Vernon tidak akan mengedipkan matanya sama sekali. Pria itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja, lalu perlahan menjilat bibir bawahnya yang terasa hangat. Setiap kali ia teringat pada sosok wanita karamelnya itu, ingatan tentang kejadian semalam mendadak kembali berputar hebat di dalam kepalanya. Pendar redup lampu kamar, wangi aroma terapi mawar yang memabukkan, rasa lembut kulit porselen Olivia di bawah jemarinya, serta lekuk tubuh molek wanita itu yang begitu sempurna saat ia kuasai secara utuh. Sensasi nikmat, panas, dan gairah memabukkan saat ia menjamah Olivia dari ujung rambut sampai ujung kaki semalam benar-benar melekat kuat di dalam ingatan dan inderanya. Tubuh Olivia begitu nikmat, begitu penuh kejutan, dan memiliki daya pikat luar biasa yang berhasil membakar seluruh kontrol diri Vernon hingga pria itu kehilangan akal sehatnya sepanjang malam. Sentuhan, peerlawanan, hingga erangan pasrah wanita itu telah membuat Vernon benar-benar ketagihan! Vernon menyapu wajah tampannya dengan telapak tangan, menyunggingkan seringai paling sarat akan obsesi murni. "Kenapa tidak dari dulu saja aku menidurinya?" gumam Vernon dengan suara berat, dalam, dan serak yang dipenuhi penyesalan berbalut gairah. Kenapa ia harus membuang-buang waktu selama empat tahun pernikahan pertama mereka dulu dengan menahan diri? Kenapa dulu ia harus pura-pura menjadi suami yang dingin dan menjaga jarak hanya karena menghormati batas-batas konyol yang dibuat Olivia? Jika ia tahu tubuh wanita itu seistimewa dan senikmat ini saat dipeluk dan dikuasai, Vernon dipastikan tidak akan pernah membiarkan Olivia tidur sendirian di kamar terpisah satu malam pun sejak hari pertama pernikahan mereka dahulu! Penyesalan itu memang terasa bodoh sekarang, tetapi sekaligus membakar gairah baru yang makin bergelora di dalam dadanya. Empat tahun masa-masa hampa itu harus ia bayar tuntas mulai malam ini dan seterusnya. Pintu ruang kerja berdinding kaca es itu ketuk dua kali sebelum sekretaris pribadi Vernon, seorang pria berjas rapi bernama Harris, melangkah masuk dengan memegang dokumen tebal dan sebuah amplop eksklusif berlogo Graff Diamonds. "Tuan Vernon," panggil Harris dengan bungkukan hormat yang sangat dalam. "Ada berkas invoice dan tanda terima pembelian bernilai seratus miliar rupiah yang baru saja dikirimkan langsung oleh kurir khusus dari butik perhiasan utama di pusat kota. Kurir tersebut menyampaikan bahwa Nyonya Olivia secara khusus meminta agar invoice ini diserahkan langsung ke meja kerja Anda sore ini." Vernon mengangkat pandangannya, menatap amplop elegan berwarna hitam bergaris emas yang disodorkan Harris. Seringai dingin di wajahnya kian melebar. Olivia benar-benar berpikir bahwa dengan mengirimkan tagihan bernilai fantastis ini langsung ke mejanya, wanita itu bisa meruntuhkan ketenangannya atau membuatnya mengamuk keliling ruangan. Gadis kecilnya itu sungguh teramat polos dan menggemaskan di dalam ketidaktahuannya. "Taruh di meja," perintah Vernon datar dengan nada suara yang teramat santai. Harris sempat ragu sejenak. "Maaf, Tuan... apakah... apakah transaksi fantastis ini perlu dikonfirmasi ulang atau diverifikasi oleh tim legal dan keuangan perusahaan? Angka seratus miliar rupiah ini—" "Tidak perlu," potong Vernon cepat dan mutlak, menatap sekretarisnya dengan kilat mata yang tajam dan tidak bisa dibantah. "Biarkan dia membeli apa pun yang dia inginkan. Bahkan jika besok dia meminta seluruh pulau pribadi atau jet tempur atas namanya, proses pembayarannya tanpa perlu bertanya lagi kepadaku." Harris menelan salivanya dengan susah payah, menyadari betapa gilanya tingkat toleransi dan pemanjaan sang atasan terhadap wanita yang baru saja dinikahinya kembali itu. "B-baik, Tuan Vernon. Saya mengerti. Saya akan menginstruksikan tim keuangan prioritas untuk meloloskan semua transaksi dari kartu Nyonya Olivia tanpa batas." "Bagus. Kamu boleh keluar," ujar Vernon dingin seraya melambaikan tangannya pelan. Setelah Harris mundur dan mengunci pintu ruang kerja rapat-rapat, Vernon mengambil amplop invoice tersebut. Pria itu membukanya santai, menyapu pandangannya ke deretan nama perhiasan langka bernilai ratusan miliar yang dibeli oleh istrinya siang ini. The Royal Blue Diamond Necklace, Pink Empress, Imperial Crown Tiara. Vernon membayangkan betapa berkilau dan indahnya perhiasan-perhiasan langka itu saat melingkar di leher mulus dan bahu porselen Olivia nanti malam. Terutama di atas permukaan kulit mulus wanita itu yang sudah dihiasi oleh puluhan jejak kissmark buatan bibirnya semalam. Kombinasi antara kemewahan berlian ratusan miliar dan jejak kepemilikan brutal yang ia cetak sendiri akan membuat Olivia tampak seperti seorang ratu yang sepenuhnya terkunci di dalam sangkar emasnya. Pria itu menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan seraya melirik jam dinding berukir perak di ruang kerjanya. Jarum jam baru menunjukkan pukul tiga sore. Masih ada beberapa jam lagi sebelum jam kerja resminya berakhir, namun fokus pikiran Vernon sudah tidak lagi berada pada dokumen-dokumen akuisisi atau laporan keuntungan triliunan rupiah di mejanya. Pikirannya kini dipenuhi sepenuhnya oleh bayangan Olivia di mansion. Bayangan tentang bagaimana reaksi wanita itu saat ia pulang nanti malam, bagaimana bibir tipis berpoles lipstick merah itu akan mengutuk dan mencaci-maki dirinya karena transaksi seratus miliar ini gagal membuatnya marah, dan yang paling utama... bagaimana tubuh molek wanita itu akan kembali bergetar dan pasrah di dalam pelukannya saat ia menagih janji keintiman mereka untuk malam kedua. Vernon berdiri dari kursi mewahnya, berjalan menuju jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan seluruh sudut kota dari kehtinggian. Pria itu menyilangkan tangannya di d**a, menatap pendar matahari sore dengan binar mata seorang pemangsa yang telah menemukan mangsa paling berharga sepanjang hidupnya. "Lakukan sesukamu, Olivia..." bisik Vernon pelan, suara beratnya dipenuhi oleh nada keangkuhan dan obsesi mutlak yang tak tergoyahkan. "Habiskan seluruh hartaku sampai tidak tersisa. Karena semakin banyak uangku yang kamu pakai, semakin tidak ada alasan bagimu untuk bisa melarikan diri dari pembaringanku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN