Mobil limousine hitam yang mengkilap itu berhenti tepat di depan pelataran Graff Diamonds, salah satu butik perhiasan paling eksklusif dan bergengsi yang berada di kawasan bisnis paling bernilai di tengah kota. Bangunan butik itu berdiri megah dengan etalase kaca tebal berpelapis anti-peluru dan pendar lampu sorot bernuansa emas yang memancarkan aura kemewahan tak terbatas.
Marco dengan sigap bergerak maju, membukakan pintu mobil untuk Olivia seraya tetap menjaga jarak aman sesuai kewaspadaannya sejak taadi pagi. Olivia melangkah keluar dari mobil dengan anggun. Ketukan sepatu hak tinggi Louboutin-nya berdenting nyaring di atas lantai marmer pelataran, berpadu sempurna dengan kibasan syal sutra yang melilit leher mulusnya untuk menutupi jejak-jejak lkissmark buatan Vernon.
Dua orang penjaga keamanan bersenjata lengkap yang berdiri di depan pintu kaca tebal butik langsung membungkuk hormat, membukakan pintu berukir emas untuk Olivia. Begitu Olivia melangkah masuk, aroma wangi parfum ruang berkelas bercampur udara dingin berpendingin ruangan menyambut kedatangannya.
Manajer butik, seorang pria paruh baya berjas hitam sangat rapi dengan sarung tangan kain putih di kedua tangannya, melangkah tergesa-gesa menyambut Olivia. Pria itu dengan cepat mengenali siapa wanita cantik bergaun Dior yang dikawal oleh barisan pria berjas hitam di belakangnya.
"Selamat datang di Graff Diamonds, Nyonya Olivia Abraham," sapa sang manajer dengan bungkukan badan yang teramat dalam dan penuh rasa hormat. "Sebuah kehormatan luar biasa menerima kedatangan Anda hari ini. Ada yang bisa kami bantu untuk melengkapi koleksi eksklusif Anda?"
Olivia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keangkuhan dingin. Ia menatap sekeliling butik yang dipenuhi etalase kaca berisi deretan kalung berlian, cincin jamrud, dan gelang mutiara langka yang berkilauan di bawah pendar lampu kristal.
"Aku ingin melihat koleksi perhiasan terbaik, terlangka, dan paling mahal yang kalian miliki di toko ini," ujar Olivia santai seraya melangkah menuju area ruang VIP khusus pelanggan prioritas utama. "Dan tolong, jangan bawakan aku barang-barang biasa yang bisa dibeli oleh sembarang orang."
"Tentu, Nyonya! Mari, silakan duduk di ruang privat kami. Saya sendiri yang akan mengeluarkan koleksi masterpiece. berharga museum untuk Anda," jawab sang manajer dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.
Olivia menduduki kursi sofa kulit asli berwarna krem yang sangat empuk di dalam ruang VIP. Marco berdiri tegap di samping pintu ruangan dengan posisi siap siaga, sementara tiga pengawal lainnya bertugas menjaga area luar.
Tidak butuh waktu lama, manajer butik kembali bersama dua staf senior yang membawa beberapa kotak beludru hitam berukuran besar. Dengan menggunakan sarung tangan putihnya, sang manajer membuka kotak-kotak tersebut satu per satu di atas meja kaca di hadapan Olivia.
Seketika itu juga, pendar berkilau memukau memenuhi ruangan.
"Ini adalah The Royal Blue Diamond Necklace, kalung berlian biru berukuran 15 karat yang dikelilingi oleh belasan berlian murni tanpa cela. Di sebelahnya adalah set perhiasan Pink Empress, terdiri dari sepasang anting-anting dan cincin berlian merah muda yang hanya ada tiga unit di seluruh dunia," terang sang manajer dengan nada suara yang bergetar kagum. "Dan di kotak utama ini adalah The Imperial Crown Tiara, mahkota berlian buatan tangan senilai belasan juta dolar."
Olivia menatap deretan perhiasan fantastis itu tanpa berkedip. Kilauan batu-batu mulia itu sungguh memikat, memancarkan nilai keindahan dan kekayaan yang tak ternilai harganya. Namun, di dalam pikiran Olivia, barang-barang ini bukan sekadar perhiasan cantik untuk memamerkan keindahan tubuhnya—ini adalah instrumen pembalasan dendamnya kepada Vernon Abraham.
"Bungkus semuanya," kata Olivia singkat tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.
Manajer butik itu mendadak tersentak, menghentikan penjelasannya seketika. "M-maaf, Nyonya? Maksud Anda... set kalung biru ini?"
"Bukan hanya kalung biru itu," potong Olivia seraya menyandarkan punggungnya ke sofa dan melipat kedua kakinya yang jenjang. "Aku mengambil seluruh isi kotak ini. Kalung berlian biru, set Pink Empress, mahkota tiara ini, dan tambahkan sepuluh pasang gelang berlian murni terbaik yang ada di etalase depan."
Sang manajer menelan salivanya dengan susah payah. Matanya membelalak lebar, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Total dari seluruh barang yang ditunjuk oleh Olivia adalah angka yang sangat fantastis, sebuah rekor transaksi terbesar sepanjang sejarah berdirinya butik tersebut di kota ini!
"A-apakah Anda yakin, Nyonya? Total keseluruhan dari paket perhiasan langka ini mencapai nominal... 100 miliar rupiah," bisik sang manajer dengan suara bergetar, memastikan bahwa wanita di hadapannya tidak sedang bercanda.
Olivia terkekeh kecil—suara tawa renyah, halus, dan penuh kepuasan yang menyeruak di dalam ruangan berpendingin udara itu.
"Mengapa aku harus tidak yakin?" balas Olivia dengan nada santai seraya merogoh tas tangan kulit buayanya. "Seratus miliar adalah angka yang sangat cocok untuk belanja siang ini."
Olivia mengeluarkan kartu kredit tanpa batas edisi emas bernilai fantastis yang diberikan Vernon tadi pagi. Ia meletakkan kartu berkilau itu di atas meja kaca dengan ketukan halus yang sangat percaya diri.
"Gesek kartu ini sekarang juga," perintah Olivia tegas.
Manajer butik itu dengan tangan gemetar mengambil kartu kredit tersebut. Ia membawa mesin EDC berprioritas tertinggi milik bank internasional ke dalam ruangan. Dengan napas tertahan dan kecemasan tinggi, sang manajer memasukkan nominal fantastis IDR 100.000.000.000,00 ke dalam mesin, lalu menggesek kartu milik sang miliarder.
Bip.
Hanya butuh jeda waktu tiga detik, layar mesin EDC tersebut berbunyi nyaring dan mencetak resi transaksi dengan tulisan tebal: APPROVED / TRANSAKSI BERHASIL.
Pria paruh baya itu bernapas lega seraya membungkuk hingga dahinya nyaris menyentuh meja. "Transaksi berhasil! Terima kasih banyak, Nyonya Abraham! Anda adalah pelanggan teragung kami!"
Sementara sang manajer dan para staf sibuk mengemas seluruh perhiasan mewah itu ke dalam kotak-kotak khusus berlapis pengaman tinggi, Olivia bersandar di sofanya seraya memainkan ujung syal sutranya.
Tawa kecil kembali lolos dari bibirnya yang dipoles lipstick merah menyala. Sebuah tawa kepuasan murni yang meledak dari dalam dadanya.
Bagi orang awam, menghabiskan uang 100 miliar rupiah hanya dalam waktu setengah jam di satu toko perhiasan mungkin terdengar seperti tindakan gila atau pemborosan tanpa otak. Namun bagi Olivia, ini memang harus dilakukan olehnya! Ini adalah pembalasan yang sangat pantas untuk apa yang telah direbut dari dirinya secara paksa semalam.
Olivia menyentuh lehernya di balik syal sutra—merasakan kembali bekas memar kissmark dan rasa perih yang masih membayangi bagian bawah tubuhnya.
Keperawanannya yang ia jaga dengan sangat suci dan terhormat selama 26 tahun hidupnya—bahkan di tengah kemelaratan dan penderitaan hidupnya dahulu—kini telah direbut secara brutal oleh Vernon dalam satu malam. Keperawanannya itu sangat mahal sekali! Kehormatan seorang wanita murni seperti dirinya tidak akan pernah bisa dinilai atau digantikan dengan selembar kertas ataupun nominal uang berapa pun.
Bahkan jika Vernon menyerahkan seluruh harta kekayaannya, seluruh saham konlomerasi bisnisnya, seluruh gedung pencakar langit, dan seluruh aset mewahnya di seluruh belakangan dunia—semua harta Vernon itu tetap saja tidak sebanding dengan keperawanannya yang telah hilang!
"Seratus miliar ini baru uang muka, Vernon," gumam Olivia pelan pada dirinya sendiri seraya menyunggingkan seringai paling licik dan anggun. "Kamu pikir dengan menyentuhku semalam kamu sudah menang? Aku akan membuatmu membayar setiap inci rasa sakit ini dengan cara yang paling menyiksa rekeningmu!"
Di sudut ruangan, Marco yang menyaksikan langsung proses transaksi bernilai 100 miliar rupiah itu hanya bisa berdiri kaku dengan pelipis yang kembali dibasahi keringat dingin. Pria itu menyapu pandangannya ke arah resi transaksi yang tercetak panjang di meja.
Sebagai kepala pengawal Vernon, Marco tahu betul bahwa ponsel master-nya di kantor pasti sudah berdering menyuarakan notifikasi pengeluaran fantastis ini. Marco membayangkan raut wajah Tuan Vernon saat melihat angka seratus miliar melayang dalam hitungan detik—dan ia hanya bisa berdoa dalam hati agar dirinya tidak menjadi sasaran kemurkaan jika terjadi perang besar antara suami-istri yang teramat tidak normal ini nanti malam.
"Nyonya, seluruh perhiasan senilai 100 miliar rupiah ini sudah kami amankan di dalam brankas portabel berpelapis baja khusus," terang sang manajer dengan sikap teramat takzim. "Apakah Anda ingin membawa sebagian, atau kami kirimkan dengan pengawalan ketat langsung ke Mansion Abraham?"
Olivia bangkit berdiri dari sofanya, merapikan gaun terusan Dior-nya dengan gerakan sangat elegan.
"Kirimkan semuanya langsung ke Mansion Abraham," ujar Olivia dingin. "Dan pastikan seluruh invoice dan tanda terima pembelian senilai seratus miliar ini dikirimkan langsung ke meja kerja Vernon Abraham di kantor pusatnya sore ini juga."
"Siap, Nyonya! Akan kami laksanakan sesuai instruksi Anda!" jawab manajer toko penuh kepatuhan.
Olivia memutar tubuhnya, melangkah keluar dari ruang VIP dengan kepalanya yang terangkat tinggi. Sepatu hak tingginya kembali berdentiung nyaring di atas marmer, menyebarkan aura kemenangan finansial yang tak tertandingi.
Ia tidak peduli jika Vernon akan marah, mengamuk, atau mendatangi tempat ini. Justru itulah yang sangat Olivia harapkan: ia ingin melihat pria arogan itu kehilangan kesabaran dan menyadari bahwa wanita yang dinikahinya ini bukanlah boneka penurut yang bisa ia kuasai tanpa konsekuensi yang mengerikan.