bc

Yang Tertinggal Saat Kau Pergi

book_age18+
165
IKUTI
1.3K
BACA
family
HE
escape while being pregnant
opposites attract
second chance
arrogant
kickass heroine
heir/heiress
drama
bxg
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Dua garis pada tespek mengubah seluruh hidup Meisya.

Di usia delapan belas tahun, gadis berprestasi itu harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya hamil.

Ia ingin berkata jujur dan ingin meminta pertanggungjawaban.Namun belum sempat mengungkapkan semuanya, Daren Elzio Pradana, pewaris keluarga konglomerat sekaligus cinta pertamanya, lebih dulu berpamitan untuk melanjutkan pendidikan ke Australia.

Meisya memilih diam.

Demi masa depan Daren.

Demi keluarganya.

Dan demi sebuah kenyataan yang membuatnya sadar bahwa mereka berasal dari dunia yang berbeda.

Keputusan itu menjadi awal dari kehancuran hidup Meisya. Ia kehilangan ayahnya. Kehilangan masa mudanya. Kehilangan impian yang selama ini diperjuangkan.Bahkan kehilangan cinta pertamanya.

Enam tahun kemudian, Meisya berhasil bbangkit. Dengan susah payah ia menyelesaikan kuliah sambil membesarkan putranya seorang diri.

Saat kesempatan bekerja di perusahaan impiannya datang, Meisya mengira hidup akhirnya berpihak padanya.

Namun ia tidak pernah menyangka bahwa perusahaan tersebut adalah milik keluarga Pradana.

Dan lebih buruk lagi...Direktur muda yang akan menjadi atasannya adalah Daren Elzio Pradana.

Pria yang dulu ia cintai.

Pria yang kini membencinya.

Daren percaya bahwa Meisya meninggalkannya tanpa alasan dan memilih pria lain.

Sementara Meisya tetap menyimpan rahasia yang tidak pernah diketahui Daren.

Rahasia yang hidup dan tumbuh setiap hari.

Rahasia yang memanggil Daren dengan satu sebutan...Ayah.

chap-preview
Pratinjau gratis
Masa Depan yang Terasa Jauh
Dua garis! Positif hamil! Getaran dingin perlahan menjalari seluruh tubuhnya hingga lutut Meisya nyaris ambruk. Hari masih pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui ventilasi kamar mandi seharusnya terasa hangat, tetapi tidak bagi Meisya. Kerongkongannya kering. Untuk kedua kalinya ia menatap benda kecil di tangannya, berharap penglihatannya keliru. Namun tidak ada yang berubah. Dua garis itu masih terpampang jelas. Gadis berusia delapan belas tahun itu hamil. “Mei.” Suara parau yang biasanya selalu menenangkan itu kini terdengar begitu menakutkan. Spontan, Meisya meremas tespek tadi lalu memasukkannya ke saku rok abu-abunya. “Ya, Bu?” sahutnya hati-hati. “Kok lama, Nak? Bentar lagi jam tujuh.” Dahlia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi. “Ini udah selesai kok, Bu. Perutku emang lagi nggak enak,” ujarnya berbohong. “Ibu tunggu di depan.” Wanita paruh baya itu pun menjauh. Meisya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan. Hari ini adalah pengumuman kelulusan. Hari yang sudah ditunggu-tunggu ibunya selama tiga tahun terakhir. Dahlia selalu bersemangat setiap kali membahas nilai atau peringkat sekolah. Tidak heran. Nama Meisya hampir selalu berada di jajaran siswa terbaik. Jika ibunya tahu apa yang baru saja ditemukan di kamar mandi ini, apakah wanita itu masih akan menunggu hasil kelulusan dengan senyum yang sama? Entahlah. Meisya memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi. Setiap langkah terasa berat. Begitu tiba di teras, hatinya semakin sesak. Ayahnya sedang mencuci motor tua yang biasa digunakan untuk mencari nafkah. Sementara ibunya langsung berdiri begitu melihatnya keluar. “Ayo, salim dulu sama Ayah.” Sudah menjadi kebiasaan keluarga itu untuk saling berpamitan sebelum keluar rumah. Meisya mendekat lalu mencium tangan ayahnya. “Hati-hati di jalan, Mei. Semoga hari ini hasilnya bagus.” Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya semakin tertekan. “Doain aja, Yah.” Ayahnya tersenyum bangga. Senyum yang membuat Meisya nyaris tidak sanggup menatap wajah pria itu lebih lama. Tak lama kemudian, mereka berangkat menggunakan angkutan umum. Sepanjang perjalanan, Meisya lebih banyak diam. Jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memucat. Pikirannya terus berputar. Ia membayangkan raut kecewa ayah dan ibunya jika suatu hari nanti mengetahui kenyataan yang sedang disembunyikannya. Kepalanya menunduk. Ia menyesal. Dan penyesalan itu terasa semakin berat setiap kali mengingat kedua orang tuanya. “Yuk turun.” Sekali lagi suara Dahlia membuyarkan lamunannya. Mereka telah tiba di sekolah. Dahi wanita paruh baya itu berkerut tipis. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang berbeda dari putrinya hari ini. “Kamu sakit, ya?” tanyanya. Meisya memaksakan senyum. “Nggak, Bu. Kayaknya aku gugup deh.” Sorot mata Dahlia melembut. “Pasti sedih karena mau pisah sama teman-teman, ya?” Meisya tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju pada bangunan megah di hadapannya. SMA Nusa Cahaya. Sekolah bergengsi yang dipenuhi anak-anak konglomerat, pejabat, dan siswa berprestasi dari berbagai daerah. Di depan gerbang, deretan mobil mewah berjajar rapi. Beberapa siswa bahkan baru turun dari kendaraan yang dikemudikan sopir pribadi mereka. “Ibu tahu, kamu pasti nggak nyangka bisa lulus dari sekolah sebagus ini.” Dahlia mengusap bahu putrinya dengan bangga. “Ayah sama Ibu juga nggak nyangka.” Hidung Meisya mendadak terasa perih. Mereka begitu bangga padanya. Andai saja mereka tahu... “Bu.” “Hm?” “Ibu duluan aja ke aula, ya. Aku mau ngobrol sebentar sama teman.” Dahlia mengikuti arah pandangan putrinya. “Oh, ya udah. Jangan lama-lama.” “Iya, Bu.” Setelah memastikan ibunya berjalan cukup jauh, Meisya segera mempercepat langkah. Matanya mengikuti sosok yang sedang berjalan menuju area belakang sekolah. Daren Elzio Pradana. Cowok paling diincar oleh hampir seluruh siswi di SMA Nusa Cahaya. Hidupnya nyaris sempurna. Wajah tampan, keluarga kaya, prestasi gemilang. Daren memiliki semuanya. Namun siapa sangka, bintang sekolah itu justru jatuh cinta kepada gadis biasa seperti dirinya. Saat tiba di belakang gedung, Meisya menemukan Daren sedang bersandar santai pada dinding. Earphone menempel di kedua telinganya. Mata pemuda itu terpejam, sementara kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Untuk sesaat, ketakutan yang sejak pagi menghantuinya perlahan memudar. Ia percaya Daren akan bertanggung jawab. Ia percaya mereka bisa menghadapi semuanya bersama. Dengan hati-hati, Meisya melepas salah satu earphone dari telinga pemuda itu. Daren tersenyum tipis bahkan sebelum membuka mata. Seolah ia sudah tahu siapa pelakunya. “I miss you.” Mata elang itu akhirnya terbuka. Tatapannya yang semula dingin langsung berubah hangat saat melihat Meisya. Keduanya saling melempar senyum. Daren nyaris meraih tubuh gadis itu, tetapi Meisya buru-buru menggeleng. “Ada yang pengen aku omongin.” “Aku juga, sayang. Penting banget.” Daren merapikan anak rambut yang jatuh ke wajah Meisya. Gerakan sederhana itu biasanya selalu berhasil membuat jantungnya berdebar. Namun kali ini tidak. Pandangan Meisya justru dipenuhi kegelisahan. “Kalau gitu, kamu duluan.” “Sore ini, aku langsung terbang ke Australia.” Senyum tipis di wajah Meisya perlahan memudar. “Apa?” “Aku baru mau ngasih tahu. Semua prosesnya ternyata lebih cepat dari yang diperkirakan.” Daren tersenyum, berusaha membuat kabar itu terdengar ringan. “Papi udah daftarin aku ke kampus di sana.” Namun tidak bagi Meisya. Kalimat itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. Tubuhnya langsung menegang. Semua kata yang sejak pagi berputar di kepalanya mendadak menghilang. “Don’t worry, babe. Kita Cuma berjauhan, bukan berpisah.” Daren menangkup kedua pipi Meisya agar gadis itu kembali menatapnya. “Aku...” Ucapan Meisya terhenti di tenggorokan. Tak disangka, mengungkapkan kenyataan itu jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. “Beri aku waktu satu tahun. Setiap musim liburan aku pasti pulang.” Daren mengulas senyum yang selama ini selalu membuat Meisya terpukau. Namun kali ini, senyum itu terasa begitu menyakitkan. “Apa perjalanannya nggak bisa ditunda?” Mata Meisya mulai dipenuhi genangan air. “Nggak bisa, babe. Semua udah diatur sama Papi.” Nada suara Daren terdengar lebih pelan. “Aku juga nggak bisa membatalkannya begitu aja. Semua ini demi masa depan kita.” Masa depan. Kata itu terdengar begitu jauh. Sementara Meisya sedang berhadapan dengan kenyataan yang tumbuh di dalam rahimnya. “Nanti setelah aku lulus, aku pasti langsung bawa hubungan kita ke tahap yang lebih serius.” ‘Tapi aku udah hamil.’ Hampir saja kalimat itu keluar. Hampir saja. Namun keberaniannya runtuh sebelum sempat mencapai bibir. Meisya benar-benar menyadari perbedaan mereka. Daren adalah putra keluarga Pradana. Pewaris sebuah kerajaan bisnis. Sedangkan dirinya hanya gadis biasa yang hidup dari kerja keras kedua orang tuanya. Bagaimana jika Daren menerima tetapi keluarganya tidak? Bagaimana jika kehamilan ini justru menghancurkan masa depan yang sedang dipersiapkan untuk pemuda itu? Berbagai pertanyaan mulai memenuhi kepalanya. “Jangan berhenti komunikasi, ya.” Daren menggenggam kedua tangannya. “Aku juga bakal tetap bantu kamu kalau ada apa-apa.” Kalimat-kalimat penenang itu seharusnya membuatnya merasa lebih baik. Namun entah kenapa, semuanya terdengar semakin jauh. “Kamu tadi mau ngomong apa?” Daren balik bertanya. Meisya mengangkat pandangan. Diam atau bicara? Mengaku sekarang atau menunggu? Ia tidak tahu. “Nggak ada.” Hanya itu yang sanggup ia katakan. Daren mengernyit. “Bilang aja, sayang.” “Kalau aku minta waktu kamu sebulan lagi, bisa nggak?” Daren terlihat bingung. “Sebulan?” “Iya.” Meisya menunduk. Ia membutuhkan waktu. Untuk berpikir. Untuk mengumpulkan keberanian. Untuk menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah. Namun Daren menggeleng pelan. “Nggak bisa.” Jawaban itu terasa seperti pintu yang tertutup tepat di depan wajahnya. “Tiketnya udah dibooking jauh hari. Apartemen di sana juga udah disiapin. Semua biaya udah keluar.” Daren tertawa kecil. “Kamu tahu sendiri kan, Papi nggak mau rugi.” Mata Meisya semakin panas. Akhirnya, air mata yang sejak tadi ia tahan luruh juga. Bukan karena Daren akan pergi. Melainkan karena ia sadar bahwa kehamilan ini tidak akan menghentikan siapa pun. Terutama Daren. “Baiklah.” Bibirnya bergetar. “Semoga kamu tiba dengan selamat.” Senyum pahit terukir di wajahnya. “Babe...” Daren hendak memeluknya. Namun Meisya mundur satu langkah. “Rapatnya bentar lagi dimulai.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Lalu berjalan cepat menuju halaman depan sekolah. Meninggalkan Daren yang masih berdiri kebingungan. Padahal mereka sudah membicarakan rencana kuliah itu sejak lama. Namun reaksi Meisya hari ini terasa berbeda. Daren tidak mengetahui alasannya. Ia juga tidak tahu bahwa satu malam yang terjadi empat minggu lalu telah meninggalkan sesuatu di dalam rahim gadis yang dicintainya. Sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya. °°° Empat minggu sebelumnya. “Selamat datang di pesta perpisahan siswa dan siswi kelas dua belas SMA Nusa Cahaya!” Sorak sorai langsung menggema memenuhi ballroom hotel. Lampu warna-warni berputar di langit-langit ruangan. Musik berdentum keras hingga membuat siapa pun harus meninggikan suara saat berbicara. Malam itu adalah malam terakhir mereka sebagai siswa SMA. Malam yang seharusnya dipenuhi tawa dan kenangan. Para siswi datang dengan gaun terbaik mereka. Para siswa tampil rapi dan percaya diri. Semua orang terlihat bahagia. Kecuali satu orang. “Kenapa sih kamu harus minum sebanyak itu?” Meisya mengusap punggung Daren yang sedang membungkuk di dekat wastafel. Wajah pemuda itu pucat. Sudah hampir setengah jam ia bolak-balik memuntahkan isi perutnya. “Satria yang ngajak.” Suara Daren terdengar lemah. Meisya mendengus kesal. “Kalau dia ngajak terjun ke jurang sekalian gimana?” Daren malah terkekeh pelan. “Galak banget.” “Ya habis kamu nyebelin.” “Maaf.” “Maaf doang.” Daren tersenyum tipis. Meski kesal, Meisya tetap menyodorkan botol air mineral kepadanya. “Ya udah, aku antar kamu ke kamar aja.” Daren langsung menggeleng. “Jangan. Ini malam terakhir kita sama teman-teman.” “Nggak ada yang peduli juga kalau kamu hilang satu jam.” “Ada kamu.” Kalimat itu berhasil membuat Meisya kehilangan amarahnya sesaat. Namun sebelum sempat membalas, langkah kaki beberapa siswa terdengar mendekat. Refleks, mereka langsung menjaga jarak. Hubungan mereka masih menjadi rahasia. Dan untuk saat ini, mereka ingin tetap seperti itu. Tak lama kemudian, Satria dan Azka datang menghampiri. “Woi, masih hidup nggak?” goda Satria sambil menepuk bahu Daren. “Pergi sana,” gerutu Daren. Azka tertawa. “Udah mendingan berarti.” Daren mendengus pelan. Kedua temannya lalu membopongnya kembali ke dalam ballroom. Sementara itu, Meisya memilih duduk sendirian di taman hotel. Angin malam berembus pelan. Dari kejauhan, dentuman musik masih terdengar samar. Ia menghela napas panjang. Malam yang seharusnya menjadi kenangan indah justru membuatnya kesal setengah mati. Beberapa menit kemudian, Daren muncul kembali dari dalam gedung. Kesadarannya perlahan pulih. Matanya langsung berkeliling mencari satu orang. Meisya. Namun gadis itu tidak ada di dalam. Perasaan gelisah mulai muncul. Tanpa berpamitan kepada siapa pun, Daren meninggalkan teman-temannya dan menyusuri area hotel. Hingga akhirnya ia menemukan Meisya. Namun bukan itu yang membuatnya berhenti melangkah. Di samping gadis itu duduk seorang siswa laki-laki. Mereka tampak mengobrol santai. Entah karena pengaruh alkohol yang masih tersisa atau rasa cemburu yang tiba-tiba muncul, rahang Daren mengeras. Tatapannya berubah dingin. Ketika pandangan mereka bertemu, Daren langsung berbalik dan pergi. “Sayang!” Meisya buru-buru berdiri. Ia berpamitan kepada teman sekelasnya lalu mengejar Daren. Namun pemuda itu terus berjalan. Semakin jauh. Semakin cepat. Hingga akhirnya mereka tiba di lorong hotel yang sepi dan remang-remang. Barulah Daren berhenti. “Siapa cowok itu?” Meisya mengernyit. “Temen sekelas aku.” “Temen sekelas?” “Iya.” “Kenapa kamu lebih milih duduk sama dia daripada gabung sama yang lain?” Nada suaranya terdengar berbeda. Lebih kasar dan tajam. Meisya mulai merasa tidak nyaman. “Tadinya aku sendirian. Dia yang datang terus ngajak ngobrol.” “Dan kamu nyaman banget ngobrol sama dia.” “Aku Cuma ngobrol biasa.” “Kelihatannya nggak biasa.” Meisya terdiam. Ini pertama kalinya Daren bersikap kasar. Selama hampir tiga tahun mereka berpacaran, pemuda itu nyaris tidak pernah membentaknya. Mata Daren memerah. Napasnya terdengar lebih berat. Sisa alkohol yang masih menguasai kesadarannya membuat emosi yang biasanya terkendali menjadi sulit dibendung. “Aku nggak suka lihat kamu dekat sama cowok lain.” “Aku juga nggak pernah suka lihat kamu dekat sama cewek lain.” “Ini beda.” “Bedanya apa?” Daren tidak mampu menjawab. Karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah satu hal. Ia marah. Dan rasa marah itu terus membesar tanpa alasan yang jelas. Meisya menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku nggak ngelakuin apa-apa.” “Aku tahu.” “Terus kenapa kamu marah?” Daren terdiam. Keheningan menggantung di antara mereka. Lorong hotel terasa semakin sempit. Semakin pengap. “Aku takut kehilangan kamu.” Kalimat itu akhirnya keluar. Meisya membeku. Daren menatapnya lekat-lekat. “Aku nggak pernah bilang ini, kan?” Senyum pahit muncul di wajah pemuda itu. “Tapi aku beneran takut.” Emosi yang sejak tadi membakar dadanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Ia menarik tubuh Meisya ke dalam pelukannya. Gadis itu terkejut. “Daren...” “Aku cinta sama kamu.” Suara Daren terdengar serak. “Sangat cinta.” Jantung Meisya berdegup semakin cepat. Ia tahu mereka sedang berada dalam situasi yang tidak seharusnya. Ia tahu mereka harus berhenti. Namun setiap kali mencoba menjauh, pelukan Daren justru terasa semakin erat. Batasan yang selama ini mereka jaga perlahan mulai runtuh. Bukan dalam satu detik. Bukan dalam satu keputusan. Melainkan sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya keduanya melangkah terlalu jauh. Menuju salah satu kamar hotel yang memang telah disediakan untuk para siswa. Di luar sana, pesta masih berlangsung meriah. Sementara di dalam kamar itu, dua remaja yang sedang dimabuk cinta membuat keputusan yang kelak akan mereka sesali. °°° “Aku cinta sama kamu, Meisya.” Suara Daren terdengar pelan di tengah keheningan kamar. “Aku janji nggak bakal ninggalin kamu.” Meisya memandangi langit-langit kamar. Pipinya masih terasa panas. Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya. “Tapi kamu pernah bilang bakal kuliah ke luar negeri.” Daren memutar tubuhnya lalu memeluk gadis itu dari samping. “Nggak usah takut.” Nada suaranya terdengar santai. “Aku bakal minta Papi buat kuliahin aku di sini aja.” “Hah?” “Biar tetap dekat sama kamu.” Meisya menoleh. “Emang bisa?” “Harus bisa.” Daren tersenyum percaya diri. “Aku bakal cari cara.” Untuk sesaat, hati Meisya menjadi tenang. Ia percaya pada semua ucapan itu. Percaya pada semua janji yang baru saja diberikan kepadanya. Percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk menghadapi apa pun. Namun malam itu, keduanya sama-sama tidak tahu. Bahwa beberapa minggu kemudian, dua garis akan muncul di atas sebuah tespek.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
758.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.1K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.9K
bc

Not just, the Beta

read
351.5K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook