Pagi ini Alena berencana untuk lari pagi di sekitar kos barunya. Tank top hitam yang di balut dengan jaket sport berwarna putih bergaris hitam, dipadukan dengan dengan celana pendek sebatas paha menjadi pilihan gadis itu saat ini.
Alena lalu keluar dari kamar kosnya setelah melihat penampilannya telah rapi. Dia melirik pintu kamar kos yang tertutup rapat di sampingnya.
"Cih. Ngapain sih gue lirik ke sana." decih Alena. Gadis itu memilih segera turun ke bawah.
Alena cukup bergidik saat udara pagi berhembus ke arahnya. Dia merapatkan jaket yang dia pakai agar terasa hangat. Dan gadis itu mulai dengan berlari-lari kecil agar tubuhnya mengeluarkan keringat.
Langkah Alena mulai semakin jauh dari tempat kosnya berada. Dan di sepanjang jalan itu, banyak orang-orang yang juga tengah berolahraga sepertinya. Tak sedikit juga penjual makanan dan minuman yang menawarinya ketika dia lewat.
Gadis itu mulai lelah setelah berlari hampir setengah jam. Alena menghentikan langkahnya saat sudah sampai di area taman. Dan dia memutuskan untuk beristirahat di sana.
"Kau menduduki kursi saya." tiba-tiba seseorang mengintrupsi dirinya yang tengah memijit kedua kakinya yang terasa lelah.
Alena mendongak dan bertemu pandang dengan netra gelap milik seorang pria yang dikenalnya.
"Om Dewa?" gumam Alena spontan.
Pria itu masih diam tanpa ekspresi. Namun netra gelapnya yang menyorot tajam Alena membuat gadis itu sadar jika Dewa tengah marah.
"Ini kursi taman, Om. Orang bebas mau duduk dimana aja." balas Alena santai. Gadis itu justru kembali menegakkan punggungnya dan bersandar nyaman.
Dewa yang melihat itu tampak mendecih. Dia baru saja kembali dari membeli minuman di sebrang jalan sana. Tapi ketika dia kembali, kursi yang didudukinya sudah terisi oleh orang lain.
Dewa memilih untuk pergi dan mencoba mencari tempat baru. Membuat Alena tersenyum puas karena merasa menang.
"Alena dilawan." gumamnya bangga.
Gadis itu melihat sekitar taman yang terasa semakin ramai. Ada banyak penjual yang berjualan di sekitar taman. Dan Alena jadi lapar saat melihat seseorang memakan nasi pecel dengan lahap.
Krucuk
"Enak banget kayanya tuh pecel." gumam Alena meneguk ludahnya beberapa kali.
Gadis itu melirik kanan kiri. Dia tidak ingin kursi yang dia duduki diambil orang lain. Sehingga dengan absurd nya Alena melepaskan kedua sepatunya dan meletakkannya di atas kursi taman.
"Em, hape nya gue tinggal juga deh." kata Alena bergumam sembari meletakkan ponselnya di bawah sepatu.
Setelah memastikan jika tidak akan ada orang lain yang menempati kursinya selama dia pergi, Alena lalu mendatangi ibu penjual nasi pecel.
Semua tingkah absurd Alena dilihat jelas oleh sepasang mata hitam yang tak berhenti mengawasinya. Pria itu Dewa, tetangga baru Alena yang berdiri tidak jauh dari gadis itu.
Dewa menatap ke arah seorang pria yang tiba-tiba duduk di tempat gadis itu sebelumnya. Tangannya tampak merogoh sesuatu yang ada di balik sepatu Alena.
Melihat hal itu, dengan cepat Dewa bergerak dan menepis tangan pria asing itu.
"Mau mencoba mencuri kamu?" hardik Dewa sembari menatap tajam pria itu.
Pria asing yang memakai masker hitam tersebut terdengar mendengus karena aksinya gagal. Dia memilih segera pergi dari tempat itu karena beberapa orang mulai melihat ke arahnya.
Di sisi lain, Alena tampak berbinar menatap seporsi nasi pecel yang selesai dia pesan. Dia membawanya dengan riang kembali ke tempatnya berada. Namun senyum gadis itu luntur saat melihat Dewa duduk di tempatnya tadi.
"Om.. ini kan tempat Alena." kata gadis itu terdengar merajuk.
"Lalu?" tanya Dewa datar.
"Ya Om Dewa kenapa duduk di sini?" berenggut Alena.
"Lain kali jangan letakkan barang berharga kamu sembarangan." ujar Dewa beranjak dari kursi.
"Bener tuh, Mbak. Tadi ada orang yang mau ngambil hape Mbak-nya. Tapi untung aja Mas tadi nge gap pencopetnya." timpal seorang wanita yang mendengarkan obrolan Alena barusan.
Mendengar hal itu Alena langsung saja memeriksa ponselnya. Dia merutuki kebodohannya karena sudah meletakkan ponselnya sembarangan.
Gadis itu memilih mendekati Dewa yang baru beberapa langkah darinya.
"Om Dewa..." panggil Alena.
Dewa tak bersuara, dia hanya menoleh dengan sebelah alisnya terangkat naik.
Alena tersenyum tipis dan tiba-tiba menarik tangannya. Dewa berusaha untuk melepaskan tarikan gadis kecil itu, namun Alena justru semakin kuat menariknya.
Bruk
"Duduk di sini aja bareng Alena, Om." ujar Alena masih dengan senyumnya yang mengembang.
Dewa tampak menelisik perubahan sikap Alena dari jutek menjadi manis seperti ini. Ada apa gerangan?
"Makasih ya Om udah nyelametin hape Alena." ujar Alena yang menyadari akan tatapan aneh dari Dewa.
Pria itu mengangguk samar dan kembali menatap lurus ke depan. Di tangannya ada sebotol air putih yang tampak sisa setengah.
Alena tak tau harus berbicara apa lagi dengan Dewa. Dia memilih untuk menyantap nasi pecelnya walau dengan canggung.
"Om Dewa mau?" tawar Alena memperlihatkan nasi pecelnya yang masih belum tersentuh.
"Tidak usah. Kamu saja." jawab Dewa menolak. Walaupun nasi pecel yang disodorkan Alena tampak menggiurkan.
Alena mengangguk samar dan mulai menyantap nasi pecelnya. Sesekali dia melirik ke arah Dewa yang kedapatan juga tengah menatap makanannya.
Alena menelan makanannya dengan senyum tertahan. Sepertinya pria itu tergoda dengan nasi pecel pesanannya.
"Om pengen ya?" goda Alena terkekeh.
"Tidak." jawab Dewa singkat.
Alena mencebik. Padahal jelas-jelas pria itu beberapa kali melirik ke arahnya. Gadis itu mendengus pelan dan kembali memakan sarapannya.
Karena melihat gadis di sampingnya makan dengan lahap, Dewa jadi tergoda ingin merasakannya juga. Tanpa berkata dia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati ibu penjual nasi pecel.
Alena melihat semua yang dilakukan oleh Dewa dengan senyum miring. Namun rautnya berubah mengernyit saat melihat Dewa kembali dengan wajah memberenggut.
"Kenapa, Om?" tanya Alena penasaran.
"Nasi pecelnya habis. Padahal saya sedang ingin memakannya." balas Dewa tanpa sadar memberitahukan keinginannya pada Alena.
"Kalau gitu makan punya Alena aja, Om. Agak nggak sopan sih sebenernya. Tapi yang sebelah sini belum Alena makan kok." tawar Alena yang merasa kasihan.
"Tidak perlu. Lebih baik kamu habiskan saja." namun Dewa tetap menolak, membuat Alena merasa gemas.
"Nanti Om Dewa nyesel loh karena nggak bisa ngerasain ini." kata Alena menggoda Dewa.
"Kenapa kamu jadi sok akrab sama saya? Padahal kita tidak sedekat itu." ujar Dewa menyipit.
"Ya karena Om Dewa udah baik sama Alena." jawab Alena polos.
Dewa tampak menaikkan sebelah alisnya dengan tangan bersidekap.
"Jadi kamu melakukan ini karena hubungan timbal balik?" tanya Dewa.
"Bukan gitu juga, Om. Ish, ngomong sama Om Dewa susah banget sih. Salah mulu perasaan." gerutu Alena.
"Jangan bicara sama saya kalau gitu." cibir Dewa membuang wajahnya ke arah lain.
Alena balas mencibir dan kembali memakan sarapannya sembari menatap sekitar taman. Netra beningnya tiba-tiba membelalak saat melihat seorang pria tampak sedang berjalan berdua bersama seorang gadis yang bergelayut manja di lengannya.
Bukan, bukan pria itu yang membuat Alena terkejut. Namun keberadaan gadis muda itu yang membuatnya seketika tersedak.
Uhukk.. uhukk..
"Pedas... Hah..hah.. Om, Alena minta minum, please." mohon Alena meraba-raba tangan Dewa.
Dewa yang semula tengah sibuk dengan ponselnya tentu saja bingung. Apalagi saat Alena dengan tidak sopan menyambar botol air minumnya dan meneguknya hingga tandas.
"Huft.. leganya.." desah Alena lega sembari mengusap bibirnya yang basah karena air.
"Itu bekas bibir saya." ujar Dewa memicing yang membuat Alena menegang.
***