OD | Tidak Sengaja Ciuman

1046 Kata
Setelah kejadian memalukan yang terjadi di taman dua hari yang lalu, Alena berusaha keras untuk menghindari tetangganya itu. Dia sangat malu mendengar ucapan Dewa yang membuat pikirannya berkeliaran kemana-mana. "Arghh.. jadi gue secara nggak langsung udah ciuman dong sama Om Dewa." pekik Alena menutup wajahnya histeris. Dia sangat malu, apalagi ketika Dewa mengatakan hal itu. Jika pria itu tidak mempermasalahkannya, otak Alena mungkin tidak akan memikirkan yang tidak-tidak tentang kejadian itu. Berbeda dengan Alena yang berusaha melupakan kejadian yang menurutnya memalukan itu, Dewa justru terus mengingat saat Alena menghabiskan air minumnya. Apalagi saat melihat bibir mungil Alena yang bersentuhan dengan ujung botol yang sebelumnya dia sentuh. Tidak-tidak.. Dewa menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran nakalnya mengenai gadis manis itu. Kenapa dia jadi memikirkan hal-hal berbau childish seperti itu? Namun semakin dia berusaha untuk melupakannya, Dewa menjadi semakin mengingatnya. Apalagi sudah hampir dua tahun dia menduda dan tidak dekat dengan wanita. Hal sekecil apapun bisa menjadi sesuatu yang berkesan baginya. Terutama mengenal hal 'itu'. Pria itu menghembuskan napasnya kasar dan memilih untuk menghabiskan sorenya di balkon. Kali ini dia tidak menyeduh kopi seperti biasanya. Netra gelapnya tanpa sadar beberapa kali mencuri pandang ke arah balkon kamar sebelah. Untuk saat ini entah mengapa dia berharap jika gadis manis itu keluar dan dia bisa melihat wajahnya. Ceklek Mendengar knop pintu yang diputar dari sebrang balkon kamarnya, membuat Dewa cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Kini pria itu pura-pura memperhatikan lalu lalang kendaraan yang ada di bawahnya. Kebetulan kos yang ditempatinya berada di lantai tiga. Dewa tanpa sadar mengulum senyum saat Alena masih belum menyadari keberadaannya. Gadis itu sepertinya baru selesai mandi. Aroma sampo menguar dari rambut panjang yang tengah gadis itu keringkan dengan handuk kecil. Netra gelap itu lalu turun, menatap penampilan Alena yang tampak menggiurkan di mata Dewa. Padahal sebelumnya, dia tidak pernah memperhatikan penampilan gadis itu. Dan netra Dewa berhenti pada d**a Alena yang tampak membusung. "Cukup, Dewa. Sejak kapan kamu berubah m***m seperti ini?" gerutu Dewa berusaha mengenyahkan pikiran kotornya. Dia hendak mengalihkan perhatiannya saat tak sengaja bersitatap dengan netra bening milik Alena. Membuat keduanya membeku dalam beberapa detik. Namun Alena dengan cepat memutuskan kontak mata mereka dan bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi. Melihat hal itu membuat Dewa tanpa sadar mendesah kecewa. Padahal dirinya baru saja melihat gadis itu setelah dua hari sama sekali tidak melihat batang hidungnya. Pria itu memberenggut dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Mood nya tiba-tiba berubah buruk setelah kejadian beberapa menit lalu. Di sisi lain, Alena menutup pintu balkonnya rapat-rapat setelah tak sengaja bertemu pandang dengan Dewa. Padahal selama dua hari dia sukses menghindari pria itu. Namun sepertinya hari ini dewi fortuna tidak berpihak kepadanya. Alena memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdebar. Apalagi saat bersitatap dengan netra kelam milik Dewa yang tepat menghunus ke arahnya. Alena seperti tengah ditatap intens oleh pria itu. "Tapi harusnya gue bisa kontrol diri deh. Masak cuman gara-gara gitu aja gue sampek kaya gini?" gumam gadis itu. Alena pikir jika respon dirinya sangat berlebihan. Padahal dia tadi dengan jelas bisa melihat jika Dewa terlihat biasa-biasa saja. Mungkin memang dia yang terlalu lebay. Tok.. tok.. tok.. Fokus memikirkan kemelut di pikirannya, pintu kamar kosnya tiba-tiba diketuk dari luar. Alena sedikit mengernyit, menebak siapa yang bertamu ketika hari beranjak petang seperti ini. Sedikit merapikan rambutnya yang setengah basah dengan ruas-ruas jari tangannya, Alena tak lupa menyambar kaos oversize berwarna putih untuk menutupi tank top yang dia kenakan. Setelah merasa penampilannya sudah sopan, Alena bergegas membuka pintu kamar kosnya. Ceklek "Siap-eh Om Dewa?" kejut Alena saat melihat orang yang tengah dipikirkannya itu kini berdiri di depan pintu. "Apa saya mengganggu?" tanya Dewa basa-basi. "Ng, nggak kok, Om. Ada apa ya, Om?" tanya Alena menggaruk lehernya yang tidak gatal. Netra gelap Dewa tampak memicing dengan sebelah alisnya yang terangkat naik. "Apa kamu tidak menyuruh saya masuk?" kata Dewa dengan suara beratnya. Alena tampak terkesiap mendengar ucapan Dewa. Terlalu terkejut dengan kedatangan pria itu membuat Alena sampai lupa mempersilahkan tamu pertamanya itu masuk. "Ma-Maaf, Om. Silahkan masuk." ujar Alena menggeser posisinya dari depan pintu. Dewa lalu masuk ke dalam kamar kos Alena. Netranya berkeliling melihat suasana kamar kos Alena yang sebelas dua belas dengan miliknya. Dewa mendudukkan dirinya di kursi single yang ada di sudut ruangan. Alena cukup pintar menata kamar kosnya sehingga terlihat luas. "Saya hanya ingin meluruskan apa yang terjadi dua hari lalu di taman." ujar Dewa membuka suara saat Alena ikut mendudukkan dirinya di depan Dewa. "Me-Memangnya ada apa, Om? Bu-Bukannya nggak ada apa-apa?" tanya Alena dengan tergagap. "Ya. Memang sebenarnya tidak ada apa-apa. Tapi saya merasa kamu menghindari saya setelah kejadian itu." jelas Dewa. Alena sedikit terkesiap. Namun dia berhasil mengontrol ekspresinya dengan baik. "Ng-Nggak kaya gitu, Om. Buat apa Alena ngelakuin itu." timpal Alena mengelak. "Benar begitu?" tanya Dewa menaikkan sebelah alisnya. Alena yang ditatap seperti itu tentu saja merasa memanas. Apalagi wajah Dewa semakin terlihat tampan dengan ekspresinya tersebut. "Be-Bener, Om. Alena nggak lagi ngindarin Om Dewa, kok." ujar Alena meyakinkan. Dewa mendengus, namun juga mengangguk. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal bodoh seperti ini dengan mendatangi kamar kos Alena. Namun karena pikirannya terus tertuju pada gadis itu membuat Dewa menjadi nekat. "Ya sudah, memang lebih baik seperti itu. Saya jadi tidak kepikiran terus." kata Dewa agak pelan sembari menunduk. Alena tampak ingin bersuara karena tak mendengar jelas apa yang diucapkan Dewa barusan. Namun pria itu lebih dulu menunduk, membuat Alena mengurungkan niatnya. Lain halnya dengan Alena, Dewa justru terpaku melihat paha mulus Alena yang terpampang nyata di depannya. Apalagi kaos oversize yang dikenakan gadis itu terangkat naik ketika dipakai duduk. Sehingga memperlihatkan setengah paha mulusnya yang putih bersih. Glup "Dasar lemah, baru lihat begini saja sudah mupeng." umpat Dewa pada dirinya sendiri dalam hati. Dewa cepat-cepat menaikkan pandangannya dari pemandangan itu. Niat hati ingin melihat wajah Alena, netra gelapnya justru berhenti di d**a membusung gadis itu yang tampak sangat menonjol. Lagi-lagi Dewa menelan ludahnya dengan susah payah. Sepertinya otaknya kini tengah bermasalah. Mengapa hanya dengan melihat itu dirinya langsung menegang? "O-Om.." cicit Alena saat melihat Dewa tampak dia menatap ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya ke arah dadanya. Alena tentu saja membelalak dan refleks berdiri. Dia hendak beranjak saat tak sengaja menginjak kaki kanannya hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Namun.. Gedebruk Cup Netra berbeda warna itu saling membelalak saat bibir mereka saling menempel. "Kyaaaaaaaaa...." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN