Kedua pelipis, tengkuk, leher, dan juga dahi Wiwin dihiasi koyok, ketika wanita itu bertamu ke rumah dokter Arland dan membuat dokter Arland yang membukakan pintu, langsung terheran-heran menatap sang kakak ipar. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Wiwin yang langsung galak kepada dokter Arland. Dokter Arland mengerjap beberapa kali. Suasana di luar masih sangat asri karena kini memang baru pukul tujuh pagi, tapi Wiwin sudah terlihat loyo tak ubahnya orang yang baru saja kerja rodi bertahun-tahun lamanya. Bahkan, wajah Wiwin tampak pucat karena tak sampai dipoles make up tebal. “Ya karena aku bingung, Mbak. Hajatannya kan udah beres, tapi kok di wajah dan tengkuk Mbak, malah penuh layar tancap?” balas dokter Arland serius sekaligus penasaran dan diwakili oleh tatapannya. Ia mena