Dengan napas tercekat menahan mual, Rumi melangkah maju. Kakinya gemetaran, dalam hati dia bersumpah serapah, mengumpati Jagad semua kosa kata kotor yang dia punya. Rumi tidak punya pilihan. Melawan fisik Jagad hanya akan berakhir dengan kekerasan yang lebih parah. Dengan terpaksa, Rumi berlutut di atas karpet tebal yang dingin itu, tepat di depan Jagad yang menjulang angkuh. Sesaat sebelum dia memulai menjilati juni.or Jagad, Rumi melihat tepat ke wajah Jagad yang malah menyeringai. Aroma maskulin Jagad bercampur dengan musk yang tajam memenuhi indra penciumannya, membuat perut Rumi bergejolak. Tidak hanya tangah tapi tubuhnya gemetaran saat melakukan apa yang diperintahkan Jagad. Sesungguhnya Rumi mual dan sangat ingin muntah, tapi dia paham akibatnya jika dia berhenti saat Jagad bel

