Part 29. Aku Mau Kamu, Lagi dan Lagi!

1531 Kata

Pagi datang menyapa makhluk-Nya di bumi. Rumi membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar menyambutnya, dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan apa yang telah terjadi. Rumi menggeliat pelan. Ia meringis dan menjerit kecil tertahan saat mencoba duduk. Tubuhnya terasa remuk, seolah setiap sendinya baru saja dilepas dan dipasang kembali secara acak. “Euugh…” mata Rumi membola saat kembali merasakan nyeri teramat sangat. Dengan sangat hati-hati, Rumi mencoba menyibakkan selimut. Dia menurunkan satu kakinya ke lantai, mencari pijakan agar dia bisa segera ke dapur untuk membuat sarapan. Namun, baru saja punggungnya menegak untuk duduk, kasur di belakangnya bergerak. Sebuah lengan yang berat, kokoh, dan hangat melingkar begitu saja di perutnya yang rata. Tanpa aba-aba, Rumi ditarik kem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN