Pagi datang menyapa makhluk-Nya di bumi. Rumi membuka matanya perlahan. Langit-langit kamar menyambutnya, dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan apa yang telah terjadi. Rumi menggeliat pelan. Ia meringis dan menjerit kecil tertahan saat mencoba duduk. Tubuhnya terasa remuk, seolah setiap sendinya baru saja dilepas dan dipasang kembali secara acak. “Euugh…” mata Rumi membola saat kembali merasakan nyeri teramat sangat. Dengan sangat hati-hati, Rumi mencoba menyibakkan selimut. Dia menurunkan satu kakinya ke lantai, mencari pijakan agar dia bisa segera ke dapur untuk membuat sarapan. Namun, baru saja punggungnya menegak untuk duduk, kasur di belakangnya bergerak. Sebuah lengan yang berat, kokoh, dan hangat melingkar begitu saja di perutnya yang rata. Tanpa aba-aba, Rumi ditarik kem

