Part 40. Jangan Sayang-sayang Aku!

1442 Kata

Jam 10.00 Pagi di Rumah Jagad yang Sunyi Tanpa Rumi “Mas Jagad, ini barusan ada kurir yang mengirimkan amplop ini katanya untuk Mas Jagad,” kata simbok sembari membereskan meja makan yang lagi-lagi percuma karena Jagad masih saja menolak makan. “Dari siapa, Mbok?” tanya Jagad tanpa antusias. “Pengirimnya Non Rumi, Mas. Tertera Lituhayu Nirbita Rumi,” simbok memberikan amplop kepada Jagad, wajahnya seketika berubah sedih, “gimana kabar Non Rumi, Mas? Kapan Non Rumi kembali ke sini? Simbok kangen padanya.” Jagad mendesah lelah, “tidak hanya Simbok, aku juga kangen banget sama Rumi.” “Mas Jagad bisakah membawa Non Rumi kembali ke sini?” pinta simbok, membuat Jagad tersenyum perih. “Bismillah ya Mbok. Doain juga ya Mbok biar kami bisa kembali berkumpul,” kata Jagad, mengambil amplop itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN