Nana keluar dari kamar mandi. Dia membulatkan matanya menatap punggung lelaki yang ia rindukan yang sedang duduk di tepi ranjang. “Sayang ... kenapa pulang tidak mengabari aku?” Nana langsung berlari memeluk Candra dan duduk di sampingnya. Dia bahagia, Candra pulang malam ini. “Sayang, kamu kenapa? Ada masalah? Kok diam gini?” tanya Nana dengan mentap wajah Candra dan mengusapnya dengan lembut. Candra menajamkan tatapannya pada Nana. Rona merah terlihat di bola mata Candra dan wajah Candra. Candra bernar-benar marah sekali dengan wanita yang ada di depannya saat ini, yang menyambutnya dengan senyum bahagia. “Puas kamu bermain dengan laki-laki lain di luar sana selama aku di luar kota? Puas bermain dengan guru itu?!” Candra langsung meluapkan emosinya di depan Nana. Candra membanting po

