Bagai Patung Porselen

921 Kata
Revan Suwandi berasal dari keluarga yang hangat. Ayahnya, Arfan Suwandi, dan ibunya, Wiwin Suwandi, merupakan sahabat lama Rida Puspita Adhitama—Mama Lani. Tidak heran jika Lani dan Revan akhirnya bertunangan. Semua itu terjadi karena campur tangan orang tua. Mungkin bagi Revan, ini adalah bagian dari impiannya. Tapi bagi Lani, ini bukan pilihannya. Edwin Adhitama, Papa Lani, tidak terlalu suka berdebat. Di usianya yang hampir kepala tujuh, ia memilih diam dan jalan-jalan pagi bersama asistennya ketimbang menyentuh ranjau yang bernama Rida. Rida selalu mengatur segalanya, termasuk Lani. Lani masih ingat, saat itu, Revan baru saja pulang dari luar negeri saat semua ini dimulai. Sebagai pemain sepak bola yang sedang naik daun, kepulangannya menjadi semacam perayaan kecil bagi keluarga besar mereka. Revan tidak hanya di jemput oleh orang tuanya di bandara. "Mama, aku pulang," ucap Revan waktu itu, saat Lani hanya berdiri di kejauhan. Ia tahu siapa yang Revan maksud dengan "Mama". Bukan Wiwin. Tapi Rida. Sebelum itu, Ridasempat menggenggam tangan Lani, seolah sedang memperingatkannya. “Revan itu anak baik,” katanya, suaranya tenang tapi penuh tekanan. “Kamu tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, Lani.” Lani tak menjawab. Ia hanya menatap Revan dari jauh, sosok yang terlihat hangat, penuh semangat, dan hidup. Berbeda dari dirinya, yang kaku, dingin dan tak bisa menunjukkan ekspresi. ******** Menjelang pesta ulang tahun perusahaan Adhitama Corp. Hari itu, Lani berdiri di depan cermin mengenakan gaun biru tua yang membalut tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul rapi, bibirnya dipoles lipstik merah muda. Di belakangnya, Rida memeriksa setiap detail penampilannya dengan saksama. “Jangan sampai membuat Revan menunggu. Dia pria yang sangat sibuk,” ujar Rida sambil menyematkan bros di d**a Lani. “Dan jangan terlalu banyak diam malam ini. Tunjukkan bahwa kamu tertarik dan menghargai kehadirannya.” Lani hanya mengangguk pelan, seperti biasanya. Tapi tatapannya kosong, ia tak benar-benar tahu bagaimana caranya menunjukkan ketertarikan pada seorang pria. Haruskah ia menarik bibirnya, memaksakan senyum seperti yang biasa ia lakukan? Orang bilang, menjadi dirinya adalah hal yang membahagiakan. Lahir dari keluarga kaya, menjabat sebagai CEO di perusahaan milik Ayah tanpa harus repot luntang-lantung mencari pekerjaan. Belum lagi tunangannya—seorang pemain bola terkenal yang jadi incaran banyak wanita. Tapi, benarkah semua itu berarti bahagia? Lalu, sebenarnya bahagia itu seperti apa? Dan bagaimana rasanya? Mungkinkah Mamanya tahu jawabannya? “Ma,” panggil Lani pelan. Rida, yang masih berdiri sambil menatap ponselnya, hanya menoleh sekilas. Suara Lani nyaris tenggelam. “Menurut Mama, bahagia itu apa?” Rida menghentikan gerak jarinya. Beberapa detik hening sebelum ia menjawab, datar. “Bahagia itu ketika kamu tahu apa yang terbaik, dan kamu berhasil mendapatkannya. Kamu akan mengerti nanti. Sekarang, pakai sepatumu. Kita harus berangkat.” Lani menunduk. Ia memakai sepatunya dengan tenang, seperti robot yang baru saja diprogram ulang. Ia tak tahu apakah Rida pernah memeluknya sewaktu kecil. Ia bahkan tak yakin pernah mencium aroma tubuh ibunya, seperti anak-anak lain yang tumbuh dalam pelukan. Yang ia ingat hanyalah suara langkah sepatu hak tinggi di lorong rumah, suara jam dinding yang berdetak terlalu keras, dan tatapan ibunya yang selalu menghitung waktu, nilai, postur, dan perilaku. ********* Adhitama Corp Anniversary Gala – Ballroom Hotel Mewah, Jakarta Lampu kristal menggantung megah dari langit-langit tinggi. Musik klasik mengalun pelan di latar belakang, mengiringi percakapan para tamu berpakaian elegan. Wartawan, pebisnis, dan investor ternama berlalu-lalang dengan segelas sampanye di tangan. Semua mata tertuju pada panggung besar di tengah ballroom, di mana logo Adhitama Corp bersinar dalam pancaran lampu sorot. Lani berdiri di tengah keramaian, tersenyum sopan pada tamu-tamu yang terus datang menyapanya. Gaun biru tua yang ia kenakan memantulkan cahaya lampu, membuatnya tampak seperti sosok sempurna dari luar. Tapi hatinya kosong. Sudah puluhan kali ia menjabat tangan dan menjawab pertanyaan basa-basi. Semua orang memujinya, semua orang mengaguminya. "Selamat ulang tahun untuk Adhitama Corp! Di tangan Anda, perusahaan ini semakin bersinar, Nona Lani," ujar seorang komisaris senior dengan semangat. Lani tersenyum. “Terima kasih, Pak.” Suara tepuk tangan ramai terdengar dari arah pintu utama. Revan baru saja tiba, mengenakan setelan hitam yang membingkai tubuh atletisnya dengan sempurna. Seperti biasa, sorot kamera langsung memburunya. Aura Revan begitu terang. Sorot matanya hangat, senyumnya menawan. Ia melambai sebentar, lalu berjalan mendekat ke arah Lani. "Maaf telat," ucapnya lembut, lalu membungkuk sedikit dan mencium punggung tangan Lani di depan semua orang. Gemuruh kecil terdengar. Beberapa tamu berdecak kagum. "Pasangan yang serasi," bisik-bisik para tamu terdengar seperti gema di telinga Lani. Lani hanya mengangguk. Bibirnya melengkung, senyum formal yang sama seperti di depan cermin tadi. Mereka berdiri bersebelahan, seperti pasangan ideal yang diberitakan media. Tidak ada yang tahu, Lani bahkan belum pernah benar-benar berbicara dari hati ke hati dengan Revan. Ketika MC naik ke panggung dan mengucapkan selamat ulang tahun ke-35 untuk Adhitama Corp, seluruh ruangan hening dan menoleh ke arah Lani. Saat ia diminta menyampaikan pidato singkat, Lani melangkah naik, matanya menatap lurus, dadanya tetap tenang—seolah tak ada apapun yang salah. "Selamat malam. Terima kasih telah hadir merayakan ulang tahun Adhitama Corp. Perusahaan ini berdiri bukan hanya karena strategi dan bisnis semata, tapi juga karena dedikasi orang-orang yang bekerja keras di dalamnya..." Suaranya jernih, nada bicaranya terukur. Semua seperti skrip yang sudah ia hafalkan sepanjang hidupnya. Tapi tak seorang pun tahu bahwa di dalam dirinya, suara kecil berbisik: "Apakah ini hidup yang kuinginkan? Atau hanya jalan yang orang lain bentangkan untukku?" Saat pidato usai, sorak tepuk tangan menggema. Rida tersenyum dari meja VIP. Revan menggenggam tangan Lani pelan. Kamera menangkap semua itu, keharmonisan, kesuksesan, cinta. Namun hanya Lani yang tahu, malam itu dia berdiri sebagai patung porselen, indah di luar, rapuh di dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN