Setelah Revan memberikan undangan makan malam dari keluarganya siang tadi, Lani akhirnya memutuskan untuk ikut. Keputusan itu lebih karena kewajiban daripada keinginan, tapi dia tahu sudah saatnya untuk menghadapi apa yang harus dihadapi.
Hari itu, Revan datang menjemputnya dengan senyum lebar, membawa kebahagiaan yang tampaknya tak bisa disembunyikan. Lani hanya mengikuti saja, berjalan di sampingnya dalam diam. Sejak mereka tiba di rumah keluarga Suwandi, suasana yang hangat langsung menyambut mereka.
Wiwin dan Arfan menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar, mempersilakan mereka masuk dan segera membawa Lani dan Revan menuju ruang makan yang sudah disiapkan. Lani merasa seperti selalu menjadi bagian dari ritual ini—menjadi tamu yang diharapkan hadir tanpa bertanya mengapa.
"Lani semakin cantik aja," puji Wiwin sambil menggandeng tangan Lani dengan penuh kasih sayang. Lani tersenyum kecil, sedikit canggung. “Tante juga semakin cantik aja.”
Wiwin langsung berhenti melangkah dan menatap Lani dengan serius. "Loh, kok Tante sih? Panggil Mami dong. Revan aja panggil Mama ke Mama kamu, masa kamu enggak panggil Mami ke Maminya Revan?"
Lani cepat-cepat meralat ucapannya, "Iya, maksud aku, Mami."
Wiwin tersenyum puas, "Nahhh, gitu dong," jawabnya sambil melanjutkan langkah, mengajak Lani menuju kursi yang sudah disiapkan di sebelah Revan.
Suasana terasa lebih hangat ketika mereka semua duduk bersama. Percakapan ringan mulai berlanjut, diiringi tawa dan candaan antara Wiwin, Arfan, dan Edwin. Tapi di dalam diri Lani, ada ketegangan yang tak bisa dia sembunyikan. Semua ini terasa seperti rutinitas—seperti sebuah pertunjukan di mana ia hanya perlu berperan sesuai arahan.
Arfan, dengan senyum yang ramah, membuka pembicaraan. "Lani, gimana sama Revan? Dia baik sama kamu? Enggak macam-macam kan?"
Semua mata tertuju pada Lani. Revan buru-buru menjawab dengan penuh percaya diri, “Jelas lah, Pi. Revan nggak macam-macam kok. Nggak pernah kontak cewek lain.”
Arfan tertawa dan menggelengkan kepala, "Papi nanyanya ke Lani, bukan ke kamu. Kalau kamu yang jawab, Papi kurang percaya."
Revan langsung cemberut, mengeluh, “Papi…”
Tawa ringan terdengar dari meja makan, namun Lani tetap diam, hanya menatap piring kosong di depannya. Ada sedikit ketegangan di dadanya, meskipun dia tahu ini bukan kali pertama mereka bercakap-cakap seperti ini.
Tiba-tiba, Rida berdiri dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Semua orang terdiam sejenak saat dia berjalan menuju Lani.
“Lani,” suara Rida terdengar lembut, tetapi ketegangan di udara makin terasa. Rida menepuk bahu Lani dengan lembut. “Kenapa diam saja? Kalau ditanya, jawab yang benar. Jangan sampai bikin malu.”
Lani hanya menatap Rida dengan tatapan kosong, tidak menjawab.
Rida tidak langsung pergi, malah mendekat dan mencubit pinggang Lani pelan, nyaris tidak terlihat oleh yang lain, tapi cukup untuk membuat Lani merasa terjepit. “Aku nggak mau kita jadi bahan omongan, Lani. Kamu ngerti, kan?” bisiknya dengan nada yang lebih keras, namun masih dibalut senyum tipis.
Lani mengangguk, senyum tipis yang muncul di wajahnya hampir tidak tampak. Setelah itu, Rida kembali ke kursinya, tetapi tak ada yang bisa menghapus rasa canggung yang membekas di udara. Semua orang kembali berbicara, tertawa, namun ada yang terasa aneh—seolah semua mata tertuju pada Lani.
Dan tepat saat itu, suara riang dari tangga menghentikan semua percakapan.
"Everybaaaaddyyyy!" suara nyaring menggema dari arah tangga. Semua mata langsung menoleh, dan seorang wanita tinggi semampai menuruni tangga dengan senyum ceria yang memancar. Tangan kanannya melambai, seolah berada di atas catwalk.
"Ya ampun, Revi?" Rida sampai berdiri terkejut.
Edwin mengangkat alis. "Kapan dia kembali?"
Arfan hanya mengangkat bahu. "Sebenarnya sudah seminggu lalu. Aku sengaja nggak bilang biar jadi kejutan."
Edwin tertawa. "Hahaha... kamu memang jagonya bikin kejutan."
Revi mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Rida erat-erat. Wajahnya bersinar, penuh kebahagiaan yang menular. Lani hanya mengamati dengan tatapan kosong.
Revi Meisa Suwandi. Kakak Revan. Tiga tahun lebih tua dari Lani dan Revan. Seorang fashion designer yang tinggal di Paris dan pulang hanya saat kerinduannya pada keluarga terlalu kuat untuk ditahan.
"Ya ampun, sayang. Tambah cantik aja kamu. Gimana kabarmu? Mama kangen banget," kata Rida dengan mata sedikit berkaca-kaca, memeluk Revi.
Lani memperhatikan kedekatan mereka. Ada semacam kekosongan yang mulai merayap di dadanya. Bukan karena cemburu, bukan karena kesedihan. Tapi ada rasa... kehampaan.
Dulu, sebelum Rida punya anak kandung, dia selalu memeluk dan merawat Revi seperti anaknya sendiri. Seolah Revi adalah bayi yang Rida cintai—meskipun bukan darah dagingnya. Rida selalu bisa mencintai yang bukan miliknya.
"Aku baik-baik aja, Ma. Aku juga kangen banget sama Mama. Makanya pulang," jawab Revi sambil membalas pelukan itu dengan hangat.
Setelah pelukan itu selesai, Revi menyalami Edwin dan menatap Lani dengan senyum hangat. “Hai, Lani. Lama nggak ketemu, ya.”
Lani mengangguk pelan. “Hai, Kak.”
Tak ada yang mencurigai apa pun. Semua tampak sempurna di permukaan. Namun Lani tahu, jauh di dalam hati, ada perasaan yang lebih dalam, yang mulai menekan.
-------------
Keesokan harinya, Lani keluar rumah pagi-pagi. Tidak ada rapat, hanya ingin mampir ke suatu tempat sebelum ke kantor.
Mobilnya berhenti di pinggir jalan sempit, jauh dari dunia bisnis dan pesta-pesta mewah. Di depan, sebuah rumah kecil berpagar bambu, dikelilingi taman sederhana, terdengar tawa anak-anak yang bermain riang. Tanpa gadget, tanpa sepatu mahal. Hanya tawa dan kebebasan.
Lani berdiri di sana, mengamati mereka dari balik kaca mobil. Angin pagi menyambutnya, sejuk dan tenang. Tawa anak-anak itu mengusiknya, mengingatkan pada sesuatu yang selama ini ia cari, tapi tak pernah bisa ia temukan.
Tiba-tiba hujan turun, tapi anak-anak itu tak peduli. Mereka tetap bermain, tertawa meski tubuh mereka basah kuyup. Sementara Lani, berdiri diam, merasakan sesak di dadanya, seperti ada yang hilang dari dirinya.
Seorang pria muda dengan kaos lusuh muncul, membuka payung di atas kepalanya.
“Kamu bisa sakit kalau terus berdiri di bawah hujan,” katanya, tersenyum hangat. “Kenapa nggak masuk aja? Tempat kami kecil, tapi cukup buat berteduh.”
Lani tak menjawab, hanya menatap pria itu. Ia menunduk, lalu tanpa kata, melangkah pergi. Tubuhnya tetap basah, tak peduli.
Ia membawa Mobilnya melaju meninggalkan tempat.
-------------
Setibanya di kantor, Lani memarkirkan mobilnya dengan tenang. Dia menatap kaca spion sebentar, memperbaiki rambutnya yang sedikit basah, lalu keluar dengan langkah tegap. Pikirannya mengalir, seperti biasanya, seiring dengan setiap langkah kaki yang mantap di lantai marmer.
Sampai di depan lift, dia menunggu beberapa detik hingga pintunya terbuka. Lani melangkah masuk, menekan tombol lantai atas, dan kembali tenggelam dalam pikirannya. Dia tak peduli dengan siapa yang mungkin masuk, atau apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Namun, tiba-tiba, pintu lift terbuka lagi, dan seorang laki-laki, tampaknya buru-buru, memasuki lift dengan kaki yang menahan pintu. Seorang pria yang sedikit basah kuyup, dengan jaket merah terang dan celana jeans yang mulai memudar warnanya. Wajahnya tampak sedikit berantakan, seolah baru saja berjuang melawan hujan yang menggila di luar sana.