Pemuda berpakaian merah

1099 Kata
Lift yang digunakan CEO adalah khusus untuk CEO. Sebuah aturan tak tertulis yang seolah menjadi hukum tak terkatakan bagi siapa saja yang bekerja di perusahaan ini. Tapi pemuda berpakaian serba merah ini—dengan santainya—membuat aturan itu tercabik. Ia menekan tombol lantai yang lebih tinggi dengan angkuhnya, sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan pergi. Lani hanya menghela napas. Bukan tipenya untuk mempermasalahkan hal-hal kecil. Lagipula, ini hanya soal lift. Dan entah kenapa, kehadiran pemuda ini justru terasa… menyebalkan dengan cara yang aneh. Dia berdiri di sampingnya, sikapnya begitu santai—seolah lift ini milik neneknya. Sebelum Lani sempat berpikir lebih jauh, pemuda itu membuka mulut. “Maaf ya, buru-buru. Bos gue pesan paket penting banget, harus sampai sekarang juga,” katanya, setengah bercanda. Lani menoleh sejenak, menatapnya dengan ekspresi datar. “Siapa Bos itu?” Pemuda itu menyelipkan satu tangan ke saku celana, lalu miringkan kepala sedikit dengan senyum nyengir yang entah kenapa terasa... provokatif. "Yang jelas, bukan orang yang bisa kamu omelin semaumu." Lani mengangkat alis, tapi tidak menanggapi lebih jauh. Matanya kembali lurus ke depan, tenggelam dalam pikirannya sendiri. “Baru masuk kerja ya?” pemuda itu bertanya, seperti menganggap ini percakapan ringan di antara dua orang yang tidak kenal sama sekali. Lani hanya mengangguk pelan, tak mau terlalu banyak berbicara. Namun pemuda itu, yang jelas lebih suka berbicara daripada diam, tetap tidak bisa berhenti. "Waduh, berani banget sih masuk kantor jam segini. Gak takut didepak sama bos? Katanya sih bos di sini killer. Telat dikit, besok udah disuruh bawa kardus pulang." Lani menatapnya tajam. “Siapa yang bilang begitu?” Pemuda itu tersenyum lebar, bangga. “Temen gue, Lydia. Kamu pasti kenal dong. Sekretaris yang sok sibuk itu, kerja langsung bareng CEO. Dia bilang, napas di depan bos aja harus steril. Kalau sampe kecium bau, bisa ditendang keluar lift. Sadis, ya? Saran gue sih mending ngumpet kalau ketemu dia, daripada kepecat.” Lani menatapnya sejenak, seolah menimbang kata-kata yang baru saja terdengar. Dia tidak mengatakan apapun, hanya menggelengkan kepala perlahan. Dan sekali lagi, ia memandang ke depan. Suasana dalam lift itu terkesan semakin hening, padahal perbincangan tadi sudah cukup menghangatkan udara di sekitar mereka. Namun si pemuda itu, dengan entah kenapa semakin merasa nyaman, melanjutkan. “Eh... kamu nggak percaya ya? Padahal gue udah baik banget kasih info bocoran.” Lift berhenti dan pintunya terbuka. Begitu Lani melangkah keluar, pemuda itu terkejut, hampir tidak percaya. "Eh? Lah kok lo juga turun di sini?" Dengan langkah cepat, dia mengejar Lani. Kakinya yang panjang memudahkannya untuk menyamai langkah Lani hanya dalam dua langkah. “Seriusan kamu kerja di lantai ini juga? Kenapa nggak bilang dari tadi?” Dia terus bertanya dengan gaya yang agak terlalu terburu-buru, tanpa merasa perlu menahan diri. “Bu Lani,” panggil seseorang dari depan. Pemuda itu langsung terdiam. Dia mengenali suara itu. Lydia muncul dari arah berlawanan, dan begitu matanya menangkap sosok Sakha di samping Lani, ekspresinya langsung berubah menjadi terkejut. “Sakha?!” Sakha hanya membalas dengan senyum lebar, "Hai, Tante Lydia. Surprise, huh?" Lydia hampir tidak bisa mengendalikan diri. Dia melangkah cepat menghampiri Sakha dan berbisik panik. “Kenapa kamu di sini? Dan mana paket yang aku pesan untuk Bu Lani?” Sakha menyerahkan paket itu, dengan ekspresi polos yang justru semakin membuat Lydia tertekan. Lani memeriksa paket itu sejenak, memastikan labelnya tepat. Kemudian, tanpa ekspresi marah, ia menoleh ke Lydia. Tatapannya kosong, namun dalam diam itu, ada ketegangan yang merayap. “Dia temanmu, kan?” Lydia sedikit terkejut, bingung sejenak, namun akhirnya mengangguk. “Iya, Bu.” Lani mengangguk ringan, namun tatapannya tetap menembus. Matanya bergerak sejenak ke arah panel lift sebelum kembali menatap Lydia. Kalimatnya lambat, namun berat. “Kalau dia sering ke sini, tolong beri tahu... untuk menghormati peraturan. Bukan karena siapa yang pakai lift ini, tapi karena ada alasan kenapa peraturan itu dibuat.” Lydia tidak mampu membalas, hanya bisa mengangguk gugup. Namun Lani tidak langsung pergi. Ia berhenti sejenak, menambahkan dengan nada yang lebih dingin, “Dan Lydia, aku nggak tahu kamu punya waktu untuk membicarakan aku. Kukira kamu cukup sibuk mengurus deadline-mu sendiri.” Tidak ada penekanan, tidak ada intonasi tinggi—hanya ketenangan yang terasa jauh lebih tajam daripada kemarahan. Lydia tercekat, terdiam di tempat. Lani berbalik dan melangkah pergi, langkahnya tenang dan pasti. Tidak perlu berteriak atau marah. Karena terkadang, diam itu jauh lebih menakutkan daripada amarah. Sakha berdiri terdiam, matanya masih mengikuti langkah Lani. Ada rasa yang mengganggu di dadanya—sesuatu yang menyesakkan, tapi juga membuatnya tertarik pada sosok itu. Sosok yang begitu tenang, tapi bisa membuat semuanya terasa seperti badai dalam sekejap. Dia garuk-garuk kepala, mencoba mengalihkan perasaan yang mulai tidak nyaman. “Itu... bos Tante, ya?” gumamnya ke Lydia. Lydia menatapnya dengan tatapan seakan baru menyadari sesuatu. “Ya, baru nyadar?” Sakha tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa miring. Ada ketegangan dalam dirinya yang sulit diungkapkan. “Gila,” ucapnya pelan. “Baru kali ini gue liat orang bisa nyentil dua orang sekaligus tanpa ngomel satu kalimat pun.” Lydia mendengus, lalu mencecar Sakha. “Dia emang begitu. Lani itu tenang. Tapi sekali jalan, bisa bikin lo pengin sembunyi di kolong meja.” Sakha mulai mundur pelan. “Oke, dah ya Tante. Gue ada paket lain mau diantar. Transfer-transferan ntar aja.” Namun, belum sempat dia pergi, kerah bajunya ditarik dengan paksa. “Aww! Eh pelan-pelan dong, Tante!” Bruk! Punggung Sakha menempel di dinding. Lydia berdiri tegap di depannya, tangan di pinggang, matanya tajam seolah bisa menusuk. “Kamu bilang apa ke Bu Lani?!” “Aku nggak bilang apa-apa, sumpah.” Sakha tampil polos, namun senyumnya tak bisa disembunyikan. Lydia semakin marah. “Kenapa dia bilang kamu temanku?” Sakha garuk-garuk kepala. “Aku cuma bilang apa yang Tante bilang ke aku.” “Katakan dengan jelas!” bentak Lydia. Sakha pura-pura mengorek kupingnya. “Kupingku sensi, Tante. Turunin dikit volumenya.” Plak! “AW! Sakit!” “Biarin!” “Oke, oke! Aku bilang ke dia... kalau Tante Lydia pernah ngomong kalau bos di sini galak dan suka pecat orang.” Lydia melotot. “APA?! Kamu bilang itu ke Bu Lani?!” “Ya iyalah. Masa aku cerita ke tembok?” Bug! Bug! Bug! Lydia ngamuk, tinju cepat mendarat ke Sakha. “Bodoh! Bodoh! i***t!” “Ampuuunnn! Aduuuh!” “Kembali sini looo!” ------------ Lani mengganti pakaian. Setelan formalnya kini digantikan dengan baju baru, lebih santai namun tetap menampilkan kesan profesional yang dingin dan tegas. Tak ada satu pun ekspresi yang berubah di wajahnya, meskipun ada ketegangan yang terasa baru saja terjadi. Pintu ruangannya diketuk dengan lembut. “Masuk.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN