Lydia menarik napas panjang dan mendorong pintu masuk. Di tangannya, dia membawa setumpuk dokumen yang harus diserahkan. Tapi ketika dia mendekat, kakinya terasa lemas, seakan ada batu besar yang menekan dadanya.
Dia menaruh dokumen itu di meja dengan kedua tangan gemetar.
"Lydia," panggil Lani, suaranya tetap dingin, tanpa nada ancaman.
Deg.
Tubuh Lydia langsung menegang. Wajahnya memucat. Suara Bu Lani terdengar biasa saja, tapi di telinga Lydia, itu seperti suara palu godam yang akan menjatuhkan hukuman berat.
"Jangan, Bu. Saya mohon, jangan," lirihnya tanpa sadar, membuat Lani mengangkat alis.
"Lydia, kamu tidak dengar saya?"
"Jangan, Bu. Jangan. Kalau saya dipecat, anak dan suami saya mau makan apa?" gumam Lydia, hampir menangis.
"Lydia."
GUBRAK!
Tumpukan dokumen itu berhamburan, bersamaan dengan tubuh Lydia yang terjatuh ke lantai.
"Aduh!"
Lani berdiri dari kursi, menggelengkan kepalanya dengan heran ke arah Lydia. Lalu melangkah menghampiri untuk membantu. Dia mengulurkan tangannya, "Jangan terlalu banyak melamun, itu tidak baik. Saya sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kamu tidak dengar."
Lydia menerima uluran tangan Lani dengan raut wajah tak enak, "Maaf, Bu. Saya– saya merasa bersalah ke Ibu. Saya benar-benar minta maaf."
Lani membantu Lydia memungut kertas yang berserakan, "Memang kamu punya salah apa ke saya?"
Lydia menunduk, "Saya... Saya sudah membicarakan Ibu dibelakang." Cicitnya
Lani menegakkan punggungnya, raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. "Karena kamu sudah meminta maaf, maka saya akan memaafkan kamu. Kamu tidak perlu lagi merasa bersalah ke saya, lupakan saja."
Lydia bangkit berdiri dengan wajah kaget campur haru, "Eh, serius ini Bu?"
Setelah merapihkannya, Lani meletakkan dokumen itu di atas meja kerjanya. Lalu melirik Lydia, "Kenapa? Kamu ingin saya bercanda?"
Lydia buru-buru mengibaskan tangannya di depan d**a. "Jangan, Bu. Jangan. Saya cuma mau mengucapkan terimakasih. Pokoknya, sekali lagi terimakasih banyak karena Ibu bersedia memaafkan saya."
Lani menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Lydia untuk kembali ke ruangan dan menyelesaikan tugasnya.
-----------------
Sementara itu, di lantai dasar gedung perkantoran yang sama, Sakha baru saja keluar dari lift sambil menyeringai kecil.
"Fix. Itu cewek tadi... edan cantiknya," gumam Sakha pelan, seakan masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Wajah dingin itu, tatapan tajam itu, entah kenapa malah makin bikin penasaran.
Langkahnya ringan saat ia menyeberang menuju motor matic–nya yang diparkir di seberang jalan. Udara pagi yang lembap masih menggendong aroma tanah basah, sisa hujan deras yang mengguyur beberapa jam lalu. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit—jalanan mulai sibuk, orang-orang kembali ke ritmenya, tapi genangan kecil dan cipratan air masih bertahan di sudut-sudut trotoar.
Tapi pikiran Sakha tidak sepenuhnya hadir di dunia yang sibuk itu. Bayangan gadis tadi—tatapan datarnya, sikap dinginnya, dan senyuman yang bahkan tak sempat ada—masih berputar di kepalanya.
Setengah jam kemudian, Sakha sudah sampai lagi di butik tempat ia mengambil orderan pengantaran. Dia masuk sambil menyerahkan bukti tanda terima paket tadi.
"Udah beres, Ka?" tanya Mbak Nia, kasir butik.
"Udah, Mbak. Aman," jawab Sakha sambil menyerahkan kertas.
Mbak Nia tertawa kecil melihat ekspresi Sakha yang tampak melamun. "Eh, kok kayak orang jatuh cinta?"
Sakha mengangkat bahu, pura-pura cuek. Tapi senyuman bodohnya susah dihapus dari wajah.
"Biasa aja, Mbak. Cuma, tadi nganterin ke kantor gede gitu, isinya kayaknya orang-orang sultan semua. Apalagi bosnya...," Sakha menggantung kalimatnya, mengingat lagi tatapan si cewek.
Mbak Nia menggoda, "Cantik, ya?"
Sakha tertawa pendek. "Cantik, Mbak. Tapi kayak es batu. Dingin abis."
Mbak Nia ngakak. "Udah, ngaca dulu deh. Yang kamu suka biasanya bukan buat kamu."
"Siapa bilang?!" seru Sakha, pura-pura tersinggung.
Dalam hati, Sakha bertekad.
Kalau dunia ini kecil, dia pasti bakal ketemu lagi sama si Cewek Dingin itu. Dan kali ini, dia gak bakal cuma diam bengong doang.
Malam itu karena penasaran, Sakha duduk santai di depan komputernya, mengetikkan beberapa kata dengan kecepatan yang tak terlalu terburu-buru.
Dia menyelam lebih dalam lagi di dunia maya, tak sengaja memeriksa beberapa informasi yang bisa didapatkan—yang tidak terlalu pribadi, tapi cukup menarik. Melihat kebiasaan makan Lani, dia menemukan pola kecil yang cukup menggoda: sushi. Lani ternyata sering banget pesan dari restoran Jepang yang sama. Sakha menyeringai sendiri.
"Ya ampun, ternyata sesimpel itu," gumamnya pelan, merasa seolah ada potongan puzzle yang baru dia temukan.
Esoknya....
Sakha berjalan keluar dari rumahnya, mengenakan jaket simpel dan celana jeans, terlihat tidak terburu-buru.
Hari itu, dia merasa seolah-olah hidupnya baru saja sedikit berubah arah—karena ternyata Lani, si cewek dingin itu, punya rutinitas makan yang mudah ditebak. Jadi, kenapa tidak bermain-main sedikit? Lagipula, ini cuma nganterin sushi. Apa yang bisa lebih sederhana dari itu?
Motor maticnya melaju pelan, angin pagi yang dingin sedikit menggelitik wajahnya. Sakha masih merasa seperti ada hal yang ingin dia ketahui lebih banyak tentang si cewek dingin itu. Bukan karena dia merasa langsung jatuh cinta, tapi lebih ke rasa penasaran yang membuatnya ingin tahu lebih banyak—kenapa Lani begitu berbeda dari orang-orang yang dia kenal?
Setelah tiba di restoran sushi, Sakha dengan cekatan menyelesaikan tugasnya sebagai kurir. Kali ini, dia sengaja memilih peran ini. Kurir yang tidak terlalu terlihat mencolok, dan entah kenapa, itu terasa menyenangkan.
Sakha tiba di lobi gedung Adhitama Corp dengan langkah santai, motor maticnya masih berdebu karena hujan pagi tadi.
Dia membawa kotak sushi, kali ini dengan niat yang jelas: mengantarkan pesanan makan siang. Namun, pikirannya tetap terpusat pada satu hal—si cewek dingin itu. Bayangan wajah Lani yang sulit dibaca dan sikapnya yang tidak pernah membiarkan siapa pun terlalu dekat terus menghantui pikirannya. Tentu saja, itu membuatnya semakin penasaran.
Saat dia melewati meja resepsionis, petugas langsung menyapa dengan ramah. “Pesanan untuk Bu Lani?” tanyanya sambil menatap ke arah kotak sushi yang dibawa Sakha.
“Iya,” jawab Sakha singkat, mencoba untuk tetap terlihat santai meskipun ada sedikit rasa ingin tahu yang menggelitik.
“Silakan langsung naik ke lantai atas, ke ruangan Bu Lani. Tadi saya sudah dihubungi oleh Ibu Lydia untuk mengantarkan pesanan ini langsung ke beliau,” ujar resepsionis itu, memberikan petunjuk yang jelas.
Sakha mengangguk, merasa lebih nyaman karena dia tidak perlu berkeliling mencari ruangannya. "Terima kasih," katanya sambil berjalan menuju lift yang sudah terbuka.
Saat jam makan siang tiba, Sakha melangkah santai menuju ruangan yang sudah dia incar. Tangannya membawa kotak sushi, hati berdebar aneh. Bukan karena takut dimarahi, tapi karena antusias melihat 'Bos Dingin' lagi.
Tuk tuk tuk.
Suara datar itu terdengar tanpa keraguan.
Sakha mendorong pintu, langsung disambut pemandangan yang membuat langkahnya sedikit melambat.
Di balik meja kerjanya, Lani duduk tenang, mengenakan blouse putih bersih dan rok pensil abu-abu gelap. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, hanya dihiasi anting kecil berbentuk simpel. Riasan wajahnya tipis, nyaris natural, tapi justru membuat sorot matanya terlihat lebih tajam dan tak bisa didekati.
Tanpa mengangkat wajah, Lani berkata, "Letakkan saja di situ."
Sakha tetap berdiri, pura-pura bingung.
Ia mengangkat kotak sushi, sedikit menggoyang-goyangkannya di udara.
"Harus diserahkan langsung ke tangan penerima, nih," ujarnya sambil menyeringai.
Tidak ada reaksi dari Lani. Hanya keheningan pendek sebelum akhirnya ia mengangkat wajah.
Tatapannya tajam, tapi tidak marah. Lebih tepatnya, menilai. Seperti mempertimbangkan apakah pria yang berdiri di depannya layak mendapatkan satu detik waktunya atau tidak.
Sakha merasa dirinya seperti lalat kecil di hadapan ratu es.
"Tinggalkan di meja," ucap Lani akhirnya, pendek dan jelas, seolah tak ingin membuang lebih banyak waktu.
Sakha, tentu saja, tidak menyerah begitu saja.
Dia menurunkan topinya sedikit, bergaya konyol. "Nggak mau sekalian saya suapin?"
Lani tidak tertawa. Tidak juga menunjukkan kekesalan. Dia hanya kembali menundukkan kepala, mengambil pena, dan melanjutkan menulis, seolah Sakha tidak ada di sana.
Diam diabaikan seperti itu, Sakha malah makin geli.
"Boleh juga sih gaya cuek anda, Bu. Tapi jaga-jaga aja, kalau jatuh cinta sama kurir, nanti susah, loh."
Lani berhenti menulis, meletakkan pena dengan pelan, lalu menatap Sakha sekali lagi. Kali ini, tatapannya nyaris kosong, sedingin lantai marmer di musim dingin.
"Jika kamu sudah selesai," katanya, nada suaranya tetap lembut tapi tegas, "keluar."
Kalimat sederhana, tapi efeknya langsung memotong semua kesembronoan Sakha.
Sebelum Sakha sempat membalas, Lani sudah mengangkat gagang telepon.
"Ke ruanganku," katanya singkat.
Tak lama, ketukan terdengar, dan Lydia masuk.
Melihat Sakha di sana, Lydia hampir menjatuhkan berkas di tangannya. "Sakha?!"
Lani memberikan isyarat kecil dengan matanya—bahkan tidak perlu bicara.
Lydia langsung paham. Dengan setengah menyeret, dia membawa Sakha keluar dari ruangan itu, membiarkan Lani kembali pada dunia sunyi dan pekerjaannya.
Di koridor, Lydia mengomel setengah mati sambil menarik Sakha menjauh.
Tapi Sakha, tentu saja, tetap saja nyengir puas.
Buat dia, bisa melihat ekspresi apatis Lani dari jarak dekat saja sudah cukup membuat harinya terasa lebih seru.
Begitu pintu ruangan tertutup, Lydia langsung menarik lengan Sakha makin jauh ke koridor.
"Astaga ya ampun, Sakha! Kamu itu ya, kenapa sih kerjaannya bikin masalah mulu?!" sembur Lydia, suaranya setengah berbisik tapi penuh tekanan. "Tadi itu kamu tau nggak? Aura Bu Lani udah kayak mau ngebekuin seluruh ruangan!"
Sakha malah tertawa kecil, santai. "Beku? Aku pikir justru adem. Kan dia cantik banget pas dingin gitu."
Lydia hampir meledak. "Sakha! Ini kantor, bukan arena flirting!"
Sakha menahan ketawa sambil mengangkat kedua tangannya, pura-pura pasrah. "Aku cuma antar makanan, Tante. Sumpah. Nggak lebih."
"Nggak lebih apanya! Mata kamu dari tadi udah kayak mau melahap orang!" Lydia memukul lengannya pelan tapi gemas