Perasaan aneh yang muncul

1521 Kata
Sakha menoleh ke belakang, ke arah pintu ruangan Lani yang sudah tertutup rapat. Senyumnya mengembang santai. "Apa boleh buat, Bos cantik itu memang auranya beda. Tatapan satu detik aja rasanya udah kayak dikulitin." Lydia mendecak, melipat tangan di d**a. "Kamu itu ya... dasar kurang kerjaan! Terus sejak kapan kamu kerja jadi kurir, hah? Bukannya bantuin di restoran Ayah kamu." Sakha angkat bahu acuh. "Kemarin itu aku cuma gantiin temen yang sakit, Tante." Lydia menyipitkan mata curiga. "Terus sekarang kenapa kamu yang bawa sushi?!" Sakha nyengir lebih lebar, kelihatan banget modusnya. "Ternyata enak juga, Tante, jadi kurir. Uangnya lumayan buat tambah jajan." Lydia mendengus keras. "Tambah jajan apaan?! Jajan hati Bu Lani, iya!" Sakha ngakak. "Ya... siapa tau kan, sekalian rezeki ketemu jodoh." "Lagi-lagi ngomong jodoh! Mau gue semprot pake kuah bakso sekalian?!" geram Lydia sambil mencubit lengan Sakha gemas. Sakha meringis pura-pura kesakitan. "Aduh, Tante santai dong. Orang niat baik malah disemprot." "Niat baik apanya?!" Lydia berkacak pinggang, masih sebal setengah mati. "Lain kali, kalau ada pengantaran buat Bu Lani, kamu jangan iseng nganter-nganter lagi!" Sakha mengangkat dua tangan menyerah, tapi matanya tetap bersinar penuh semangat. "Tenang aja, Tante, aku nggak akan bikin masalah. Aku cuma mau... yah, sekadar menyapa Bos cantik aja. Biar dia inget sama aku." Lydia memutar bola matanya sampai hampir pusing. "Aku sumpahin, kalau sekali lagi kamu muncul depan Bu Lani, kamu aku daftarin jadi kurir khusus gudang!" Sakha malah ketawa sambil melangkah mundur. "Siap, Tante! Tapi kalau tiba-tiba Bu Lani jatuh hati, jangan salahin aku ya." Sambil bersiul iseng, Sakha berbalik meninggalkan Lydia yang sudah hampir kehabisan tenaga buat ngomel. Lydia menggeleng-geleng tak percaya sambil menatap punggung Sakha yang semakin menjauh. "Dasar bocah bandel..." Di koridor belakang, Sakha mengayunkan langkah santai, satu tangan masuk ke saku celana. Langkahnya ringan, hatinya lebih ringan lagi. Setiap kali mengingat tatapan Lani—dingin, tapi buat Sakha justru terasa menantang—senyumnya makin lebar. "Pelan-pelan, Sakha," bisiknya pada diri sendiri. "Target gede nggak bisa langsung diterjang. Butuh strategi." Dia berhenti sebentar di depan lift, matanya menerawang, membayangkan lagi wajah Lani yang datar tanpa ekspresi itu. Berbeda dari cewek-cewek lain yang biasanya langsung tersipu atau pura-pura jual mahal. Lani? Datarnya kayak permukaan danau di pagi buta. Dan justru itu yang bikin Sakha makin penasaran setengah mati. -------------- Di ruang kerjanya yang lapang dan minimalis, Lani duduk di balik meja hitam mengilap. Lampu di sudut ruangan memancarkan cahaya hangat, tapi tetap saja suasananya terasa sejuk—hampir dingin, seperti orang yang menempatinya. Kotak sushi yang tadi diantar Sakha sudah dibuka. Isinya tersusun rapi: nigiri, maki, sedikit wasabi, dan acar jahe di sudut. Dengan gerakan tenang, Lani mengambil sumpit perak di sisinya. Tidak terburu-buru. Tidak ada ekspresi antusias, tidak juga ada tanda-tanda lapar. Seolah-olah makan hanya bagian dari rutinitas, bukan sesuatu yang dinikmati. Sumpit itu bergerak presisi, mengambil satu potong sushi, mengangkatnya dengan hati-hati, lalu membawa ke mulutnya. Satu gigitan kecil. Kunyahan perlahan. Tatapan tetap kosong, menembus layar laptop di depannya. Ia tidak bereaksi terhadap rasa sushi yang segar. Tidak ada komentar, tidak ada gumaman nikmat seperti orang lain. Semua berlangsung dalam diam yang rapi, teratur. Lani mengunyah, menelan, lalu meraih kertas kecil yang terselip di bawah bungkusan plastik sumpit—tanpa benar-benar memperhatikan. Di kertas itu, ada tulisan tangan dengan spidol hitam: "Semangat hari ini, Bu Bos! Jangan terlalu serius, nanti cepat tua. - Paijo" Alis Lani bergerak sedikit—sangat tipis, nyaris tidak terlihat. Seperti kilatan kecil di permukaan air yang tenang. Ia membaca ulang tulisan itu. Sekali. Dua kali. Lalu, tanpa mengubah ekspresinya, Lani melipat kertas itu perlahan menjadi kecil, seukuran koin, dan meletakkannya di sudut meja, di samping kotak kartu nama. Tangannya kembali ke sushi berikutnya, melanjutkan makan dengan ketenangan mutlak. Seolah-olah pesan iseng itu tidak berarti apa-apa. Seolah-olah. Tapi di dalam hatinya, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa... sedikit aneh. Kecil. Hampir tak terdeteksi. Seperti getaran samar di balik tembok baja. Namun, seperti biasa, Lani membungkamnya tanpa suara. Terlalu lama ia belajar mengabaikan apa pun yang tidak sesuai dengan 'aturan'. Tangannya kembali bergerak, rapi. Sushi habis satu demi satu. Kotak kosong. Meja tetap bersih tanpa noda. Seolah kejadian kecil itu tidak pernah terjadi. Seolah Paijo itu tidak pernah ada. Lani merapikan sumpit, menutup kotak sushi kosong dengan rapi, iai menggeser laptopnya sedikit ke samping. Tangan kanannya bergerak pelan mengambil gelas kaca bening di sisi meja. Isinya hanya air putih, tanpa es, tanpa irisan lemon, tanpa tambahan apa pun. Sama seperti dirinya. Polos. Tanpa tambahan. Lani mengangkat gelas itu dengan satu tangan, gerakan kecilnya begitu hati-hati seolah setiap tetes air harus tetap berada di tempatnya. Tidak ada cipratan, tidak ada jejak basah di meja. Semua harus bersih, terkontrol. Ia menyesap air itu sedikit, nyaris tanpa suara. Sekali tegukan kecil. Lalu meletakkan kembali gelas itu dengan presisi, tepat di atas alas kayu bundar yang sudah ia siapkan sebelumnya. Tidak ada desahan lega. Tidak ada gerakan membetulkan kerah atau menarik napas panjang seperti orang kebanyakan. Setelah menyesap air, Lani hanya diam, matanya kembali menatap layar laptop dengan ekspresi datar. Tangannya bergerak, mengetik laporan, seolah makan dan minum tadi hanya bagian kecil dari rutinitas mekanis yang harus dijalani untuk bertahan hidup. Seolah rasa lapar dan haus bukan bagian dari dirinya. Seolah manusiawi pun sesuatu yang bisa ia simpan rapat-rapat. Di sudut meja, kertas kecil bertuliskan "Semangat hari ini, Bu Bos!" masih diam di sana. Tak disentuh lagi. Tak dilirik lagi. Tapi entah mengapa, saat jari-jarinya mengetik, ritme ketikannya terasa sedikit lebih ringan. Nyaris tak terasa. ------------ Hari berlalu tanpa kejadian berarti, kecuali beberapa email yang menumpuk dan beberapa rapat yang tak terhindarkan. Namun, meskipun tampaknya semuanya berjalan sesuai dengan rencana, Lani merasa ada sesuatu yang tak bisa dia singkirkan. Meskipun sudah berusaha mengabaikan, wajah Sakha tetap terbayang dalam benaknya, seiring dengan kenangan singkat akan kata-kata dari pesan yang pernah ia baca di kertas kecil itu. "Semangat hari ini, Bu Bos! Jangan terlalu serius, nanti cepat tua. - Paijo" Lani tidak bisa menjelaskan mengapa kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Bukankah itu hanya lelucon? Hanya kata-kata iseng yang mungkin hanya dibuat Sakha untuk mengganggunya? Tapi ada sesuatu dalam cara dia menyampaikannya yang mengganggu ketenangannya—seolah ada sesuatu yang ingin diungkapkan, namun tak pernah benar-benar terucap. Saat Lani berdiri untuk mengambil segelas air lagi, matanya tanpa sadar melirik ke meja tempat kertas itu berada. Ia meraihnya sekali lagi, tanpa ragu kali ini, dan memandang tulisan itu lama-lama. Ada tawa kecil yang hampir tak terdengar dari dirinya sendiri—sebuah tawa yang terasa aneh, asing, namun tak bisa disembunyikan. Tak ada yang salah dengan kata-kata itu, kan? Tapi kenapa rasanya begitu... berbeda? Lani kembali duduk di mejanya, menghela napas panjang. Dengan ekspresi datar, ia melanjutkan pekerjaannya—namun kali ini, saat tangannya kembali mengetik, entah kenapa, jarinya terasa sedikit lebih berat. Bukan karena kelelahan, tapi karena pikiran yang entah mengapa kembali teralihkan. "Benar-benar aneh," gumamnya dalam hati, lalu menggelengkan kepala pelan. Namun, meski ia berusaha mengusirnya, satu hal yang pasti: Keberadaan Sakha semakin sulit untuk diabaikan. Lani baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen ketika pintu ruangan kantornya terbuka perlahan. Lydia masuk dengan berkas tebal di tangan, seperti biasa, langkahnya cepat namun santai. "Ini, Bu, berkas laporan yang Ibu minta," kata Lydia sambil meletakkan tumpukan kertas di meja Lani. Lani hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Sesaat, suasana hening di antara mereka berdua, tapi Lani bisa merasakan mata Lydia yang menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya. Ada sesuatu di udara, seolah Lydia ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa diam saja. Tangan Lani terhenti di atas keyboard, jarinya menggantung sejenak. Mata Lani melirik ke arah Lydia, yang tampak melamun sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Beberapa detik berlalu, dan Lani merasakan ada ketegangan kecil dalam dirinya. Suasana ini—diam, tanpa kata-kata—terasa asing baginya. Kemudian, tanpa sadar, kata-kata itu keluar dari mulutnya. Suaranya terkesan lebih dingin dari yang ia niatkan, hampir seperti refleks. "Yang nganter sushi kemarin, namanya beneran Sakha, kan?" Lani bertanya, masih dengan ekspresi datar, meskipun ada sedikit keraguan dalam nada suaranya. Itu bukan pertanyaan yang biasanya ia ajukan, tapi entah mengapa kali ini ia merasa ingin tahu. Lydia tersentak, seolah terkejut, lalu tertawa kecil, lebih banyak karena rasa malu yang muncul. "Ah... maaf, Bu, itu... iya, dia memang Sakha. Aku nggak tahu kalau itu dia yang nganter kemarin," jawab Lydia dengan sedikit canggung. "Aku pikir, ya, cuma kurir biasa yang kebetulan datang. Maaf banget kalau jadi bikin Ibu merasa terganggu." Lani menatap Lydia dengan pandangan tajam, seperti sedang memproses jawabannya, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya sebelumnya. Namun, rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya, yang ingin dia pecahkan meskipun ia tidak bisa menjelaskan dengan jelas. "Tak apa," jawab Lani singkat, suaranya kembali terasa dingin dan netral. Lalu, tanpa banyak bicara lagi, ia kembali menatap layar laptopnya, seolah mengakhiri percakapan. Lydia sedikit terdiam, mencoba membaca ekspresi Lani, namun akhirnya memutuskan untuk keluar dengan langkah cepat, meninggalkan Lani dalam keheningan yang kembali menyelimuti ruangan itu. Namun, setelah Lydia pergi, Lani menatap layar di depannya dengan pikiran yang sedikit mengawang, seolah sedang mencerna kembali percakapan singkat itu. Meski tidak ada yang aneh, perasaan aneh itu tetap saja muncul—suatu perasaan yang ia tak ingin akui, apalagi saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN