Semangat hidup

1517 Kata
Ketukan sepatu stiletto Rida menggema di sepanjang lorong lantai eksekutif. Setiap langkahnya seperti detak jam yang memotong waktu. Beberapa karyawan yang melihat sosoknya langsung berdiri refleks. Mereka membungkuk, menyapa dengan senyum canggung. Rida hanya mengangguk kecil, ekspresinya dingin namun tak bisa diabaikan. Pintu ruang CEO terbuka tanpa aba-aba. Tidak ada ketukan. Tidak pernah ada. Lani yang sedang membaca laporan di balik meja hanya menoleh sekilas sebelum berdiri pelan. "Mama." "Hmm," sahut Rida ringan, matanya langsung menelusuri seisi ruangan seperti seorang inspektur kebersihan kerajaan. Ia melangkah pelan ke tengah, menatap sofa kulit berwarna abu-abu, kemudian ke arah rak buku yang tersusun rapi. Ia menggeser satu bingkai foto kecil di atas meja tamu dengan ujung jari, lalu mengangkat tangannya—seolah mengecek apakah ada debu yang menempel. "Hmph." Rida mengeluarkan suara pelan dari hidungnya. "Setidaknya tidak berdebu. Mama sempat khawatir kamu mulai malas merawat tempat ini." Lani tidak menjawab. Ia tahu tidak ada respons yang cukup tepat untuk pernyataan seperti itu. Rida berjalan ke arah jendela besar, menyentuh sedikit bingkai gorden, lalu menatap ke luar dengan posisi tangan bersilang. “Ruangan ini terlalu kosong,” katanya pelan. “Kamu harus tambahkan sesuatu. Mungkin vas peoni putih. Atau lukisan yang sedikit lebih hidup. Yang kamu punya sekarang seperti ruangan dokter gigi." Lani hanya menjawab dengan satu anggukan kecil. Rida berbalik, matanya menelusuri Lani dari ujung rambut sampai sepatu. "Jangan pasang wajah datar itu terus. Orang-orang harus tahu kamu bisa menampilkan emosi, setidaknya yang sesuai kebutuhan publik." Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah map tipis berwarna hitam. Diletakkannya di atas meja Lani dengan lembut, hampir tanpa suara. "Ada pertandingan penting minggu depan di Kanada. Revan jadi starter. Klubnya sudah undang keluarga dan pasangan pemain inti. Tentu saja kamu harus hadir." Lani mengerjap sekali. "Mama ingin aku ke Kanada?" "Revan adalah tunanganmu. Kamu pikir pasangan seperti apa yang tidak hadir dalam pertandingan sebesar itu? Mama sudah siapkan tiket dan penginapan. Bahkan Mama pesan gaun dari Revi—yang kamu tahu sehebat apa dia— untuk gala dinner setelahnya." "Mama tahu minggu depan aku punya—" "Justru karena itu, Lani." Rida memotong, suaranya tetap lembut tapi tajam seperti belati. "Seorang wanita di posisimu harus tahu cara membagi waktu dan citra. Kamu bukan anak kecil yang bisa memilih sesukanya. Jangan beri alasan bagi siapa pun untuk mempertanyakan posisimu—sebagai CEO, dan sebagai pasangan Revan." Lani menarik napas pelan. "Berangkat hari Jumat malam. Pakai baju warna terang. Wartawan internasional suka warna lembut. Dan..." Rida menatap lurus, "Jangan tunjukkan wajah kosongmu itu. Kamu harus terlihat bahagia." Ia berjalan ke arah pintu, tapi sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. "Karena perempuan yang punya segalanya, tapi terlihat kosong, hanya akan membuat orang bertanya-tanya; apa yang salah dalam dirinya." Klik. Pintu tertutup. Lani duduk diam. Lama. Baru kemudian ia membuka laci kanan meja. Di sana, tergeletak selembar tiket konser musik klasik, sudah agak kusut di sudutnya. Ia menatapnya lama. Tiket itu dibelinya dua bulan lalu. Waktu itu ia sempat berpikir, mungkin ia bisa mencoba menikmati sesuatu. Tapi ia bahkan tidak tahu harus merasa seperti apa saat mendengar musik yang katanya bisa membuat orang menangis. *********** Setelah pintu tertutup rapat, Lani duduk kembali. Matanya masih terpaku pada tiket konser yang sudah kusut di laci, sebelum akhirnya ia menutupnya pelan dan menekan interkom. “Lydia. Ke ruang saya sekarang.” Tak sampai satu menit, Lydia dengan raut sigap masuk ke ruangan membawa tablet dan notes kecil. "Ya, Bu Lani?" "Aku berangkat ke Kanada, Jumat malam," ucap Lani tanpa basa-basi. Suaranya datar, langsung pada inti. "Pertandingan Revan. Mama yang suruh." Lydia hanya mengangguk, terbiasa dengan nada dingin dan perintah singkat itu. “Berapa lama Ibu akan di sana?” “Empat hari. Termasuk gala dinner. Senin siang aku kembali.” Lydia langsung mencatat. “Berarti presentasi dengan Greenstone dipindah ke Selasa pagi?” “Ya. Dan laporan final dari tim legal harus aku terima sebelum Kamis sore. Tidak boleh terlambat.” Lani membuka tablet, menggeser beberapa dokumen. "Koordinasikan dengan Pak Haryo soal kontrak ekspansi Sumatera. Kalau dia ragu, langsung kirim ke aku lewat email, jangan tunggu aku kembali." "Baik, Bu." Lani melirik Lydia. "Dan satu lagi. Jangan beri tahu media tentang keberangkatanku. Kalau ada yang tanya, bilang saja aku sedang menghadiri pertemuan mitra luar negeri." Lydia mengangguk. "Akan saya atur, Bu." Sebelum Lydia sempat berbalik, Lani menambahkan pelan, nyaris seperti gumaman, "Kalau ada darurat, kamu tahu harus hubungi siapa." Lydia menatapnya sejenak. Tak ada kekhawatiran di wajah Lani, hanya kekosongan yang terbungkus rapi dalam profesionalitas. "Ya, Bu. Saya mengerti." Begitu Lydia keluar, Lani kembali duduk dan memandangi kalender digital di mejanya. Jumat malam. Empat hari. Tersenyum di depan kamera. Tertawa di gala dinner. Memandang Revan dari tribun utama seolah-olah ia adalah segalanya. Ia menarik napas. Dan seperti biasa, tidak merasakan apa-apa. ********* Jumat sore. Hujan rintik membasahi jendela besar di kamar Lani. Di atas tempat tidur, koper silver terbuka dengan susunan pakaian yang sudah disiapkan oleh Revi—anak lain yang menjadi kesayangan Mama. Semuanya berwarna pastel—putih tulang, biru langit, dan beige pucat. Bahkan gaun untuk gala dinner tergantung rapi di sisi lemari, masih berbalut plastik dengan nama Revi tertempel di sudutnya. Lani duduk di depan meja rias. Matanya menatap pantulan dirinya yang sedang mengenakan turtleneck krem dan celana panjang putih. Tanpa ekspresi. Ia menyisir rambutnya perlahan, seperti rutinitas yang tidak lagi ia sadari. Ponselnya bergetar. Nama Revan muncul di layar. Lani menatapnya sebentar, lalu menjawab. “Halo.” “Hei, sayang!” suara Revan terdengar cerah, sedikit serak, seperti baru selesai latihan. “Kamu udah packing? Tiket kamu udah dikirim, kan? Mama bilang kamu berangkat malam ini.” “Iya. Semua sudah siap.” "syukurlah.” Suaranya terdengar lega. “Aku senang kamu datang. Aku tahu kamu sibuk banget, tapi kehadiran kamu tuh penting banget buat aku, Lan.” Hening sebentar. “Aku akan duduk di tribun utama, sesuai instruksi Mama,” jawab Lani akhirnya. "Gaun gala dinner juga sudah dikirim sama Kak Revi." “Ah ya, Kak Revi memang jago banget soal gaya. Kamu pasti bakal kelihatan luar biasa. Semua orang bakal ngelihat kamu dan langsung tahu—‘Oke, ini pasangan Revan Suwandi.’” Tawa kecil menyusul, tapi tidak dibalas. Lani menatap koper yang setengah tertutup. “Ada yang perlu aku bawa untuk kamu?” “Cuma diri kamu,” jawab Revan cepat, ringan. “Aku kangen kamu, sayang. Rasanya udah lama banget nggak ketemu. Mungkin setelah pertandingan, kita bisa jalan berdua. Di sana banyak tempat bagus, kamu pasti suka.” Kamu pasti suka. Lani menunduk pelan. Ia tidak tahu lagi bagaimana rasanya ‘suka’. “Aku telepon kamu lagi nanti, ya. Jaga kesehatan, dan terima kasih karena udah mau datang. Ini penting buat aku.” Panggilan berakhir. Lani menaruh ponselnya di meja, lalu berdiri dan menutup koper. Semua sudah rapi. Semua sudah sesuai harapan. Tapi entah kenapa, kamar itu tetap terasa kosong. Seperti dirinya. Di luar, langit mulai gelap. Dan Lani bersiap untuk sekali lagi memerankan tokoh yang tidak pernah ia pilih sendiri. ******* Jumat malam. Mobil hitam menggelinding pelan keluar dari garasi basement, membawa Lani menuju bandara. Sopirnya, Pak Kus, menyetir dengan kecepatan stabil. Langit masih gerimis, lampu-lampu kota memantul di kaca jendela. Di kursi belakang, Lani diam menatap lurus ke depan, tubuhnya tegak, koper elegan di samping. Rida sudah mengirimkan pesan pengingat dua kali. “Ingat, Lani. Ini tentang reputasimu. Tentang masa depanmu.” Lani tidak membalas. Ia hanya membaca pesan itu lalu menguncinya di dalam kepala, seperti perintah lain yang harus ditaati. Ia tahu maksudnya: jangan buat masalah. Jangan kecewakan siapa pun. Dan jangan pernah, jangan pernah tunjukkan kalau kau ingin kabur. Bibirnya tetap rapat, matanya tak meninggalkan pandangan keluar jendela. Hujan mengalir di kaca, menciptakan garis-garis tipis yang menari dalam diam. Seperti pikirannya. Kusut, tapi tak boleh terlihat. Tiba-tiba— BRAAKK! Mobil mendadak mengerem keras. Tubuh Lani sedikit terdorong ke depan, tapi refleks tangannya menahan diri di dashboard. “Ada apa?” tanyanya dingin. “Ada pemotor nyelonong dari kiri, Bu!” jawab Pak Kus panik. Tanpa pikir panjang, Lani membuka pintu mobil. Lampu depan menerangi seorang pria yang terduduk di trotoar, dengan motor yang terguling tak jauh dari tempatnya jatuh. Pak Kus buru-buru ikut keluar, cepat-cepat menyingkirkan motor itu ke pinggir trotoar agar tidak menghalangi jalan. Lani melangkah mendekat. Begitu wajah si pria terlihat jelas, ia mengerjap—ragu sejenak. “Kamu?” Pria itu meringis, tapi matanya berbinar. “Nggak nyangka. Nabrak, bonusnya dapat perhatian langsung dari bos galak.” Lani menatapnya tanpa ekspresi. “Kamu yang ngawur. Nyalip dari kiri.” Sakha mengangkat bahu santai. “Ya namanya juga insting. Jalan licin, motor nggak nurut. Aku mah ikut alur aja.” Lani menunduk sebentar, menilai luka lecet di lutut dan sikunya. “Kelihatannya cuma luka ringan.” Sakha langsung mengerang dramatis. “Luka ringan apaan? Ini harus dicek! Bisa aja ada tulang retak... atau pendarahan dalam. Besok-besok aku bisa lumpuh, lho!” Lani menghela napas pendek. “Kalau kamu masih bisa banyak ngomong, berarti kamu baik-baik saja.” Sakha tersenyum lebar. “Itu namanya semangat hidup. Harus kuat meski tersakiti.” Lani tidak membuang waktu lagi. Ia berbalik menuju mobil. “Aku antar kamu ke rumah sakit.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN