Di UGD Rumah Sakit Swasta.
Sakha duduk di atas ranjang periksa dengan perban sementara melilit lututnya. Lani berdiri bersandar di tembok, tangan menyilangkan lengan, wajahnya datar. Matanya sesekali melirik jam di ponsel.
"Jadi," dokter muda di depan mereka berkata sambil menulis di clipboard, "hasil rontgen-nya semua normal. Hanya luka luar. Nggak ada retakan, hanya lebam kecil di paha dan lutut. Bisa pulang malam ini."
"Serius, Dok?" sahut Sakha dengan suara pelan, seolah masih syok. "Tapi kenapa rasanya sakit banget ya, kayak dalam banget."
Dokternya bingung. "Sakitnya fisik atau—"
"—mental," sela Lani cepat. "Tolong kasih obatnya. Saya mau urus administrasi."
Begitu dokter pergi, Sakha langsung menatap Lani. "Kamu tahu, Bos. kamu ini beda."
"Beda?"
"Iya. Biasanya orang kalau nabrak orang itu ekspresinya panik, kelihatan banget gitu. Nah, Kamu?" Dia menunjuk wajah Lani. "Flat. Tapi kamu nggak kabur. Kamu tanggung jawab. Itu keren banget sih."
Lani menghela napas pelan. Ia kembali melirik ponselnya, jemarinya cepat mengetik sesuatu sebelum menyimpan perangkat itu ke dalam tas.
"Aku sudah pesan taksi online. Lima menit lagi sampai," katanya datar.
Sakha mengerjapkan mata, lalu mendongak. "Taksi?"
"Ya. Kamu bisa pulang sendiri. Aku harus ke bandara."
"Lho, lho, lho... tunggu dulu," potong Sakha cepat, wajahnya tampak serius untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. "Kalau kamu cuma nitipin aku ke supir taksi, itu sama aja kamu lepas tangan. Nggak bisa gitu, Bos."
Alis Lani sedikit terangkat. "Aku udah bawa kamu ke UGD. Bayarin pengobatan. Pastikan kamu bisa pulang. Itu belum cukup?"
Sakha menggeleng. "Belum. Kamu belum minta maaf dengan tulus."
Lani memandangi Sakha tanpa berkedip. Hening mengambang beberapa detik sebelum ia akhirnya bicara, suaranya tetap tanpa nada, "Kalau kamu bisa minta maaf ke motor yang kamu tabrak waktu kecil, aku juga akan minta maaf sekarang."
Sakha nyengir, tapi cepat menutupinya dengan batuk pura-pura. "Aduh! nih sakit kayaknya makin parah. Bisa-bisa jalan pun susah. Kayaknya aku perlu dianterin sampe rumah buat mastiin aku selamat."
Lani memutar bola matanya kecil. "Rumahmu di mana?"
"Gak jauh kok. Cuma satu jam lebih dikit."
Lani mendesah, lalu mengambil ponsel lagi, membatalkan pesanan taksi tanpa komentar. "Ayo, jalan sekarang. Aku nggak mau ketinggalan pesawat gara-gara kamu."
Sakha mengangkat tangan dengan senyum puas. "Siap, Bos. Tapi... kamu yakin kamu tahu cara ngangkat orang yang pincang?"
Lani tidak menjawab. Tapi tatapannya jelas mengatakan: satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku tinggalin kamu di sini.
Dan entah kenapa, Sakha justru semakin tersenyum.
********
Di dalam mobil.
Sakha masih duduk di kursi depan, sesekali mencuri pandang ke belakang lewat kaca spion. Lani masih di tempatnya, dingin, tenang, dan sibuk menatap ponsel. Tapi sekarang, wajahnya sedikit lebih tegang. Jari-jarinya mengetik cepat, lalu berhenti. Satu napas dalam dia hela-tipis tapi jelas.
Pak Kus melirik kaca tengah. "Ibu, sudah hampir pukul sepuluh. Apa kita tetap langsung ke bandara setelah ini?"
Lani tak langsung menjawab.
Dia mengunci layar ponsel, lalu berkata pelan, "Tidak usah. Sudah terlambat."
Pak Kus mengangguk. "Mau saya antar pulang, Bu?"
Sakha buru-buru menoleh. "Eh... jadi kamu batal ke bandara gara-gara aku?"
Lani menatapnya sebentar, dingin seperti biasa. "Kamu hanya salah satu faktor. Sisanya karena waktu dan keadaan."
Sakha mengangkat alis. "Tapi aku bagian dari 'keadaan' itu, kan?"
"Bagian yang tidak signifikan."
"Ouch," Sakha menyentuh dadanya pura-pura kesakitan. "Kena mental nih."
Pak Kus menahan senyum, matanya menatap jalan.
Sakha bersandar kembali di kursinya. "Tapi, kayaknya aku nggak nyesel sih. Gimana pun juga, duduk satu mobil sama kamu-bahkan kalau kamu super jutek-itu pengalaman langka."
Lani mendengus pelan. "Langka karena tidak akan terjadi dua kali."
Sakha tersenyum kecil. "Kamu ngomong gitu terus, nanti kalau kejadian lagi kamu malu sendiri loh."
Lani tidak menjawab. Pandangannya lurus keluar jendela, wajahnya tenang tapi sorot matanya seperti menahan sesuatu-entah kejengkelan, kelelahan, atau mungkin... sekilas kebingungan tentang apa yang sebenarnya dia rasakan malam itu.
Mobil berhenti di depan rumah kecil satu lantai dengan pagar besi sederhana dan halaman mungil yang dihiasi dengan pot-pot tanaman. Lampu teras menyala hangat, kontras dengan malam yang semakin larut. Sakha turun pelan, sedikit pincang, lalu membuka pagar dengan gerakan hati-hati.
Pak Kus mematikan mesin, menunggu.
Sakha menoleh ke belakang, tersenyum sambil berkata santai, "Bos, mau mampir sebentar? Cuma kenalin aja orang tuaku."
Lani menatap rumah itu sebentar, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan tenang.
"Lima menit," jawabnya singkat, tidak menunjukkan ekspresi.
Sakha mengangkat bahu, tetap dengan senyum. "Lima menit cukup kok. Kalau nggak, nanti mereka nanya-nanya lagi."
Begitu Lani melangkah masuk, aroma tumisan dan kayu tua langsung menyambutnya. Rumah itu tidak besar, tetapi terasa hangat dan penuh kehidupan. Dindingnya dihiasi bingkai foto keluarga dan rak buku. Di ruang tamu, seorang wanita paruh baya dengan tatapan lembut segera berdiri begitu melihat Sakha.
"Sakha! Kaki kamu kenapa?" tanya wanita itu, terlihat cemas.
"Ibu, tenang aja, nggak parah. Ini, kenalin dulu—" Sakha menunjuk Lani dengan nada santai, meski wajahnya sedikit tegang.
Lani hanya memberi anggukan kecil. "Saya Lani," jawabnya datar, namun sopan.
"Ini Ibu saya, Bu Rini," kata Sakha, lalu beralih ke Lani, "Bu, ini Lani, orang yang ngebantuin aku barusan."
Bu Rini langsung menghampiri Lani dengan senyuman hangat. "Terima kasih banyak, Mbak, sudah mengantar anak saya. Maaf ya kalau dia merepotkan."
"Saya baik-baik saja," jawab Lani, tetap tenang, walau sedikit terasa kekakuan dalam suaranya. Ia mengamati rumah itu dengan seksama, merasakan atmosfer yang begitu berbeda dengan rumahnya sendiri.
"Syukurlah," ujar Bu Rini dengan senyum lembut. "Makasih banyak, ya, Mbak."
Di saat itu, seorang pria muncul dari dapur sambil membawa gelas teh. Pak Hilmi, dengan kaos oblong dan sarung, langsung menyapa Lani.
"Jadi, ini yang ngebantu Sakha?" tanyanya dengan senyum lebar. "Makasih banyak ya."
Lani mengangguk pelan. "Sama-sama."
Pak Hilmi menyilakan Lani duduk, dan meskipun suasana terasa ramah, Lani tetap menjaga jarak, tidak sepenuhnya terlibat dalam percakapan ini.
Sakha duduk di ujung sofa, mengangkat kakinya yang terbungkus perban. "Gimana, Bos? Rumah saya beda banget kan sama kantor kamu? Tapi buat saya, ini rumah paling nyaman di dunia."
Lani tidak langsung menjawab. Matanya menelusuri rak buku kayu tua di pojok ruangan. Di salah satu bingkai, foto keluarga—Sakha kecil diapit oleh Bu Rini dan Pak Hilmi, semuanya tampak sangat bahagia. Lani menunduk sejenak, merasakan semacam kehampaan yang kembali datang begitu mudah, melihat kebahagiaan yang begitu asing baginya.
"Saya harus pergi," ujar Lani, mengakhiri suasana yang terasa sedikit lebih lama dari yang dia harapkan.
Bu Rini segera berdiri dengan cepat. "Oh, baik... Terima kasih banyak sekali lagi ya, Mbak Lani, sudah mau membantu."
Pak Hilmi mengacungkan dua jari, masih dengan senyum hangat. "Kalau lewat sini lagi, jangan sungkan mampir. Rumah kami selalu terbuka untuk orang baik."
Sakha melambaikan tangan, sambil berkata santai, "Hati-hati di jalan, Bos."
Lani hanya memberikan tatapan singkat kepada Sakha, lalu melangkah keluar, tidak mengatakan apa-apa lagi.
Lani melangkah keluar dari rumah Sakha, angin malam yang dingin menyentuh kulitnya, memberikan sensasi segar yang mengusir sedikit kehangatan dari dalam rumah. Meskipun tubuhnya terasa kaku, pikirannya tak bisa begitu saja lepas dari perasaan aneh yang tertinggal, sesuatu yang tak mudah dijelaskan. Ada ketenangan yang mulai menyelinap masuk, meskipun hanya sesaat. Ia merasa seolah ada sebuah celah kecil yang terbuka dalam dirinya, memberi ruang pada perasaan yang jarang ia izinkan hadir.
Sakha mengikuti dari belakang, meskipun langkahnya masih agak pincang, ia tetap berjalan cepat. Begitu sampai di depan mobil, ia berhenti di samping Lani dengan senyum nakal yang tak pernah hilang dari wajahnya.
"Jadi, gimana menurutmu?" tanyanya santai, meskipun matanya tampak penuh rasa penasaran.
Lani menoleh, tatapannya tetap datar, seperti biasa. "Rumah yang nyaman," jawabnya singkat, berusaha menjaga agar percakapan tetap singkat dan tidak terlalu terbuka.
Sakha mendengus, merasa tidak puas dengan jawaban itu. "Sama sekali nggak ada yang mengesankan, ya?"
Lani tidak menjawab.
"Yah, setidaknya mereka baik kan? Ibu sama Bapak aku," kata Sakha, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor. "Nggak kayak orang lain yang cuma bisa ngomong formal doang."
Lani sedikit menyipitkan matanya, terkejut dengan cara bicara Sakha yang terus terang dan tanpa filter. Ia tidak terbiasa dengan percakapan seperti ini, yang begitu terang-terangan dan tidak peduli dengan norma yang biasanya ada. Namun, ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
"Benar-benar ceroboh kamu," katanya, suaranya datar namun tetap mengandung sedikit penekanan, mencoba menahan rasa tidak nyaman yang muncul.
Sakha hanya tersenyum santai. "Yah, ceroboh itu kesalahan yang bisa dimaafkan, kan?"
Lani menghela napas pelan, mencoba meredakan ketegangan yang mulai tumbuh. "Semoga begitu," jawabnya singkat, memilih untuk tidak memperpanjang percakapan itu.
Pada saat itu, Bu Rini muncul di depan pintu, melangkah perlahan dengan senyum ramah yang tak pernah pudar. Ia menghampiri Lani yang sudah siap masuk ke mobil. "Terima kasih banyak sudah mengantar Sakha, Mbak Lani," ucap Bu Rini, suaranya lembut dan penuh rasa terima kasih. "Kami sangat menghargainya."
Lani mengangguk pelan, wajahnya tetap tegas meskipun ada sedikit kerutan di dahinya. Ada sesuatu yang sedikit mengganjal dalam dirinya, perasaan yang tidak biasa ia rasakan—perhatian yang tulus dan tidak dibebani oleh apapun. "Sama-sama," jawabnya, suaranya datar, namun cukup tulus.
Sakha melihat ke arah Lani, menunggu reaksi, meski ia tahu betul bahwa Lani adalah orang yang sulit dibaca. Namun, malam itu, mungkin untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam cara Lani menanggapinya.