Gerimis belum sepenuhnya reda saat mobil hitam berhenti di depan rumah besar bergaya kolonial itu. Lampu teras menyala temaram, menciptakan bayangan samar di balik tirai jendela.
Pak Kus turun lebih dulu, membuka pintu belakang dengan sopan. "Sudah sampai, Nona."
Lani tak langsung bergerak, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia keluar perlahan, mendongakkan kepala menatap rumah itu seperti sedang menantang sesuatu yang tak terlihat.
Pak Kus mengikuti dari belakang, menarik koper elegan yang rodanya nyaris tak bersuara di atas lantai marmer halaman depan.
Saat tangan Lani menyentuh gagang pintu, sesuatu terasa berubah. Ia bisa merasakannya. Keheningan di balik pintu itu bukan keheningan biasa. Bukan rumah yang sedang tertidur. Tapi rumah yang menunggu dengan amarah.
Dan ia siap membukanya.
Suara pintu dibuka. Lani masuk ke dalam rumah, diikuti Pak Kus yang membawa koper dan tas tangan miliknya. Langkah Pak Kus ragu, sadar suasana rumah tak seperti biasa.
Di ruang tamu, Rida berdiri kaku. Wajahnya tegang, sorot matanya tajam menusuk.
"Kenapa kamu di sini?" suaranya datar, tapi penuh kemarahan.
Lani melepas heels-nya dengan tenang. "Aku tidak jadi berangkat."
"Apa?"
Rida melangkah cepat. "Kamu pikir ini bercanda, Lani? Pesawatmu sudah tinggal landas sejak dua jam lalu! Kamu tahu acara itu penting. Kamu ke sana bukan cuma sebagai CEO-kamu ke sana untuk Revan!"
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu masih disini?"
"Aku habis menabrak seseorang. Aku harus tanggung jawab. Bawa dia ke UGD. Antar pulang."
Pak Kus yang masih berdiri di foyer buru-buru pamit diri dengan menunduk dalam. "Permisi, Bu, saya bereskan koper dulu ke lantai atas-"
"Biarkan saja!" bentak Rida tanpa menoleh.
Ia kembali menatap Lani, matanya berkilat. "Kamu menolak naik pesawat hanya karena orang asing yang kamu tabrak?! Lani! Kamu sadar nggak siapa yang kamu kecewakan? Itu bukan sekadar pertandingan bola-itu momen penting untuk Revan! Dia mewakili negara, dan kamu... kamu bahkan tidak muncul!"
Lani diam. Sorot matanya tetap tenang.
"Revan sudah berjuang keras," lanjut Rida tajam. "Dia anak yang patut diberi effort lebih. Tapi kamu? Sejak kapan kamu pernah sungguh-sungguh? Mama suruh kamu jaga hubungan kalian, kamu pura-pura patuh. Mama suruh kamu ikut ke Kanada, kamu malah urus orang asing!"
"Saya tidak dibesarkan untuk jadi cheerleader siapa pun."
Tamparan itu tak pernah keluar dari tangan Rida, tapi terlihat jelas di matanya—seperti baru saja disambar petir. Ia mendekat satu langkah lagi.
"Kamu anak durhaka."
Lani hanya menatap. Tak bergeming.
Rida menggeram pelan, menggertakkan giginya, seolah memaksakan dirinya untuk tidak meledak. "Jangan salahkan Mama kalau suatu hari kamu merasa sendirian, Lani. Kamu sudah membuat pilihanmu. Jangan berharap ada yang peduli kalau kamu terus seperti ini."
Lani tidak bergerak, bahkan suaranya pun tidak keluar. Semua terasa seperti angin yang berhembus begitu saja.
"Apakah kamu pernah berpikir tentang apa yang Mama lakukan untukmu?" suara Rida kali ini lebih rendah, hampir seperti suara bisikan yang penuh dengan kesal.
Lani tetap diam. Ia tahu ini bukan soal pesawat atau Revan. Ini tentang segalanya yang telah dipaksakan padanya.
"Aku cuma berusaha memberikan yang terbaik untukmu," Rida melanjutkan, kini nada suaranya sedikit lebih tenang, tapi penuh ketegangan. "Tapi kamu... kamu bahkan tak peduli pada dirimu sendiri."
Lani akhirnya membuka mulut, suara dinginnya seperti es yang mencair. "Aku peduli, tapi tidak pada caramu, Mama."
Rida menatapnya dengan penuh amarah, lalu membalikkan tubuhnya, seolah memutuskan percakapan itu. "Kalau begitu, tetaplah dengan pilihanmu."
Lani mengangkat bahu sedikit, lalu menunduk untuk mengenakan heels-nya kembali. "Aku tidak pernah punya pilihan, Mama."
Rida menoleh dengan tatapan yang jauh lebih tajam, tetapi Lani sudah berbalik, melangkah pergi tanpa menunggu lagi.
Suara langkah berat terdengar dari arah tangga lain-bukan dari arah kamar Lani, tapi dari kamar utama. Edwin muncul mengenakan piyama abu-abu, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya sayu karena baru bangun tidur.
"Ada apa ini malam-malam ribut sekali?" suaranya parau namun tegas. Ia menatap Rida, lalu menoleh ke arah tangga tempat Lani menghilang tadi.
"Dia tidak jadi ke Kanada," sahut Rida singkat. "Tinggal pesawat cuma karena menabrak orang! Dan sekarang malah seenaknya menjawab Mama-"
"Cukup, Rid." Edwin angkat tangannya perlahan. "Sudah malam. Jangan dibesar-besarkan sekarang."
Rida menoleh dengan ekspresi tidak percaya. "Kamu membelanya sekarang?"
"Aku tidak membela siapa-siapa." Ia berjalan pelan, lalu duduk di sofa, menatap Rida dengan tenang. "Tapi kamu juga harus belajar kalau Lani itu sudah dewasa. Dia punya pertimbangan. Mungkin dia memang salah, tapi jika kamu memaksanya terus-menerus juga, nggak akan membuatnya jadi seperti yang kamu mau."
"Dia tidak pernah seperti yang aku mau!" suara Rida naik lagi. "Aku sudah buat rencana sedemikian rupa, dan dia hancurkan semuanya dalam satu malam! "
Edwin menghela napas. "Mungkin karena kamu terlalu sering membuat rencana, Rid, sampai lupa bertanya, apa yang benar-benar diinginkan anakmu."
Rida terdiam. Sorot matanya masih penuh api, tapi bibirnya terkunci.
"Aku tahu kamu sayang Lani," lanjut Edwin pelan. "Tapi terkadang, rasa sayang yang terlalu keras justru bikin orang jadi sesak. Sudahlah, istirahat saja. Besok kita bicarakan lagi."
Edwin berdiri, mengelus perlahan bahu istrinya. Tapi Rida menepisnya, masih diam penuh amarah. Ia tetap berdiri kaku di ruang tamu, menatap ke arah tangga seolah Lani masih berdiri di sana.
Edwin menghela napas sekali lagi sebelum kembali ke kamarnya.
-------------
Lani menutup pintu kamar dengan hati-hati, memastikan tak ada suara yang keluar meskipun ketegangan masih menggantung di udara. Ia menatap sekeliling, ruangan itu terasa asing meski sudah sering ia tinggali. Semua barang di kamar ini terasa seperti milik orang lain—milik Lani yang terkurung dalam dunia yang dibuatkan oleh orang lain, bukan dirinya.
Lani duduk di tepi ranjang, menghela napas dalam. Keheningan itu menenangkan, tapi pikirannya tetap berlarian. Dia masih bisa mendengar suara Rida yang menggema di telinganya. Kalimat-kalimat itu menghantui, seolah mengikatnya dalam kebenaran yang tak bisa ia hindari. Ia mencoba menepisnya, namun matanya yang menatap kosong ke arah lantai seolah mencari jawaban pada bayangan yang terpantul di sana.
Tiba-tiba, ingatannya kembali pada percakapan dengan Sakha sebelumnya,
Flashback
"Jadi, gimana menurutmu?" tanyanya santai, meskipun matanya tampak penuh rasa penasaran.
Lani menoleh, tatapannya tetap datar, seperti biasa. "Rumah yang nyaman," jawabnya singkat, berusaha menjaga agar percakapan tetap singkat dan tidak terlalu terbuka.
Sakha mendengus, merasa tidak puas dengan jawaban itu. "Sama sekali nggak ada yang mengesankan, ya?"
Lani tidak menjawab.
"Yah, setidaknya mereka baik kan? Ibu sama Bapak aku," kata Sakha, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor. "Nggak kayak orang lain yang cuma bisa ngomong formal doang."
Flashback off
Ia memandangi langit malam melalui jendela kamar, gerimis yang masih rintik tak pernah benar-benar reda. Seolah seperti hujan yang terus mengguyur pikirannya, membasahi lapisan-lapisan yang menutupinya. Sakha... kenapa ia bisa teringat begitu saja?
Lani mencoba menepis pikiran itu, namun bayangan senyum Sakha yang nakal, tingkahnya yang seringkali membuatnya merasa kesal, kembali muncul. Ada hal-hal yang tak bisa ia pungkiri—seperti kenyataan bahwa pertemuannya dengan Sakha membuatnya merasakan hal-hal yang selama ini tak pernah ia alami, bahkan dari seseorang seperti Revan.
"Kenapa harus kamu?" gumamnya pelan, hampir tak terdengar oleh dirinya sendiri.
Dia menggoyang-goyangkan kepala, berusaha melepaskan diri dari pikiran yang mengganggu. Rida... dan semua yang diharapkan darinya. Lani merasa dirinya terperangkap di dalamnya, tak bisa lepas, terikat oleh banyak harapan yang bahkan bukan keinginannya.
Lani mendudukkan dirinya di samping meja, menatap foto Revan di layar ponselnya. Wajahnya yang tampak serius, penuh harapan—seperti yang selalu dilihatnya di setiap kesempatan, namun entah kenapa, rasanya semakin menjauh dari apa yang bisa dia rasakan.
Lani menekan layar ponselnya dengan jari, mengirimkan pesan singkat kepada Revan, sekadar mengonfirmasi kehadirannya di acara yang sudah direncanakan. Setelah menekan tombol kirim, ia menghela napas panjang, merasakan d**a yang sesak oleh berbagai perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
Tapi tiba-tiba, suara pintu kamar yang terbuka mengagetkan Lani. Pak Kus muncul, membawa secangkir teh hangat di tangan.
"Teh hangat, Nona. Saya khawatir Anda belum tidur," ujar Pak Kus dengan suara lembut.
Lani tersenyum tipis. "Terima kasih, Pak Kus."
Ia menerima teh itu dengan tangan yang sedikit gemetar, namun mencoba menutupi kegelisahan yang ada di dalamnya.
Pak Kus menatapnya dengan perhatian. "Apakah Anda baik-baik saja, Nona?"
Lani mengangkat gelas teh itu, menatapnya untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Aku tidak tahu lagi, Pak Kus. Aku... aku merasa terperangkap."
Pak Kus hanya mengangguk, seolah mengerti tanpa harus bertanya lebih lanjut. "Apapun itu, Nona, ingatlah bahwa Anda tidak sendirian."
Lani terdiam, menatap secangkir teh hangat di tangannya. Sebuah kalimat yang sederhana, namun entah mengapa membuat matanya sedikit berkaca-kaca. Ada sesuatu yang berbeda malam itu. Sesuatu yang membuatnya merasa sedikit lebih ringan.
Namun, pikirannya segera kembali melayang pada Sakha dan semua yang belum selesai.
Lani tahu, ini bukanlah akhir dari semua kebingungannya. Tapi untuk malam ini, dia ingin menenangkan pikirannya sebentar, setidaknya sebelum hari baru dimulai dengan tuntutan yang lebih besar.
Lani menatap teh hangat di tangannya, lalu meneguknya perlahan. Rasanya menghangatkan tubuhnya, namun tak bisa mengusir perasaan dingin yang menyelubungi hatinya. Suasana di sekitar kamar itu terasa semakin sunyi, dan sejenak ia terbenam dalam kesendiriannya. Tak ada yang bisa menyentuhnya, tak ada yang bisa mengerti seutuhnya.
Dengan perlahan, Lani beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju jendela. Dingin angin malam menyapa wajahnya saat ia membuka jendela sedikit. Gerimis masih mengguyur, namun kali ini ia merasa sedikit lebih tenang. Mungkin, meski ia merasa terperangkap oleh semuanya, ada jalan untuk keluar—jalan yang hanya bisa dia pilih sendiri.