Pagi itu, langkah Lani teratur memasuki lobby kantor. Matanya tetap datar, meski suara sepatu haknya berdentang pelan di lantai marmer. Baru beberapa langkah dari lift, ponselnya bergetar. Nama Revan terpampang di layar. Ia sudah tahu. Sejak semalam, ia sudah mengirim pesan, memberi kabar soal insiden kecil yang membuatnya terpaksa membatalkan penerbangan ke Kanada. Ia pikir, semuanya sudah cukup jelas. Tapi sepertinya tidak untuk Revan. Dengan satu tarikan napas tipis, Lani mengangkat telepon itu. "Halo," jawabnya, suaranya tenang. "Lani," suara Revan terdengar berat dan marah dari seberang sana. "Apa-apaan kamu?! Kenapa baru kasih kabar pas aku mau berangkat latihan?! Aku nungguin kamu!" Lani tetap berjalan ke arah lift, menekan tombol tanpa terburu-buru. "Ada insiden," jawabnya sin

