Suara Sakha langsung berubah begitu mendengar nada di suara Lani. “Kamu di mana sekarang?” tanyanya cepat. “Kenapa suaramu—kamu kenapa?” Lani menggigit bibir, berusaha menahan getar di suaranya. “Aku di gang kecil, dekat toko roti yang tutup. Di belakang ruko-ruko lama. Aku... aku kirim lokasinya.” “Ya ampun, kenapa kamu bisa di situ? Sendirian pula?” Suara Sakha terdengar panik. “Tunggu di situ. Jangan ke mana-mana, aku langsung ke sana sekarang!” Tanpa banyak tanya, Sakha langsung menutup telepon. Lani hanya bisa menunduk, merapatkan tubuhnya ke tembok, mencoba menenangkan nafas yang belum juga stabil. Beberapa menit terasa seperti selamanya. Jalanan masih sepi. Angin malam menampar pipi, menusuk hingga ke tulang. Tapi sekarang, ada sedikit rasa tenang. Dia tahu Sakha akan datang.

