Ada stan lempar bola, komidi putar mini, dan booth foto dengan hiasan bunga kertas. Semuanya terlihat hidup tapi Lani berdiri di tengah semua itu seperti potret diam. Satu-satunya yang tak menyatu—tapi tetap memilih datang. Demi Sakha. Sakha berhenti di depan salah satu stan jajanan. Matanya langsung berbinar, seperti anak kecil yang baru nemu surga. Deretan cilok, cumi bakar, martabak mini, dan telur gulung seolah memanggil-manggil namanya. “Nah, ini dia. Surga dunia,” katanya sambil menggosok-gosok tangan, ekspresinya antusias setengah hidup. “Mau yang mana? Aku traktir. Jangan malu-malu. Semua juga boleh—asal jangan minta gerobaknya sekalian.” Lani melirik malas. “Aku udah kenyang,” ucapnya datar, seperti biasa. Sakha sempat berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan. Tapi bukannya mun

