Aroma popcorn yang manis

1523 Kata

Sakha menunduk, menatap kemeja biru yang ia setrika sendiri sampai licin pagi tadi. Parfum murah dari minimarket masih menyisakan wangi samar di kerah. Rambut disisir rapi, sneakers dibersihkan sebersih mungkin. Usaha terbaiknya malam ini—dan tetap saja, ia merasa seperti bocah kelas dua yang nekat ngajak ngobrol kakak kelas paling populer di sekolah. “Dia tuh tempatnya di balik dinding kaca, bukan di antara lampu kelap-kelip dan suara teriakan tukang cilok.” Senyumnya hilang. Tangannya meremas bungkus sosis plastik yang tadi diselipkan di saku—camilan yang bahkan belum sempat disentuh. Sekarang malah jadi penanda kekonyolan. Ngarep? Mimpi? Mana mungkin. Mana mungkin Lani mau datang ke tempat begini. Mana mungkin wanita seperti itu... mau menyisihkan waktunya untuk lelaki sepertinya.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN