BAB 1: Kedatangan yang Tidak Diundang
Hujan gerimis masih menempel di aspal ketika mobil hitam yang mengantar Savira Kirana berhenti di depan gerbang rumah besar keluarga Wiratama. Langit berwarna abu-abu kusam, seolah ikut menahan napas. Savira menatap bangunan dua lantai yang berdiri gagah di ujung jalan perumahan pinggiran kota itu. Dulu rumah ini terasa hangat. Sekarang, bahkan dari luar saja, ia sudah bisa merasakan dinginnya tembok-tembok yang sedang direnovasi.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu mobil. Kaki bersepatu pantofel hitamnya menginjak tanah basah. Rambutnya yang diikat rapi sedikit berantakan karena angin, namun ekspresinya tetap datar. Tidak ada air mata. Tidak ada getar di ujung jari. Empat puluh hari sudah berlalu sejak suaminya—adik kandung Arkan Wiratama—dimakamkan. Empat puluh hari yang ia lalui dengan silence yang ia pilih sendiri.
Seorang penjaga gerbang buru-buru membuka pagar besi yang tinggi. Savira mengangguk singkat tanpa tersenyum. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti tamu di rumah yang seharusnya menjadi miliknya juga, setidaknya di atas kertas warisan.
Halaman depan terlihat berantakan. Tumpukan semen, besi beton, dan terpal plastik menutupi sebagian taman yang dulu rapi. Bau cat dan debu bercampur dengan aroma tanah basah. Renovasi besar-besaran yang diputuskan oleh Pak Gumilar Adiwangsa masih berjalan lambat, dan ketidakteraturan itu terasa seperti cerminan dari keadaan keluarga itu sendiri.
Savira melangkah masuk tanpa menunggu dijemput. Tas kerja hitamnya ia genggam erat di tangan kiri, sementara tangan kanan memegang payung yang sudah ditutup. Langkahnya tegas, tidak ragu. Ia bukan perempuan yang datang untuk meminta belas kasihan.
Di beranda, Ibu Ratnawati sudah menunggu. Wanita paruh baya itu berdiri tegak dengan kebaya abu-abu yang rapi, wajahnya tenang namun matanya tajam mengamati menantu yang kini berstatus janda.
“Savira,” sapa Ibu Ratnawati dengan suara rendah. “Kamu datang lebih cepat dari yang kami duga.”
“Saya tidak ingin menunda lebih lama, Bu,” jawab Savira datar. “Urusan warisan sebaiknya diselesaikan dengan cepat.”
Ibu Ratnawati mengamatinya beberapa detik. “Kamu tidak perlu bersikap seolah seluruh dunia menentangmu. Kami keluarga.”
Savira hanya mengangguk tipis. Kalimat itu sudah sering ia dengar. Keluarga. Kata yang indah diucapkan, namun sering kali terasa seperti rantai.
Mereka masuk ke ruang tamu yang sebagian perabotnya sudah dipindahkan karena renovasi. Lantai kayu masih tertutup plastik, dan beberapa dinding terlihat sobek menunggu dilepas. Bau debu membuat tenggorokan Savira terasa kering.
Belum sempat ia duduk, langkah kaki yang berat terdengar dari tangga. Savira tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Aura itu sudah familiar—dingin, terkendali, dan penuh kekuasaan yang tidak perlu diperlihatkan dengan suara keras.
Arkan Wiratama muncul di ambang pintu ruang tamu. Jas hitamnya masih terpasang rapi meski hari sudah sore, dasi longgar di leher, dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya yang gelap menyapu ruangan sebelum berhenti sejenak pada Savira.
“Kamu datang,” katanya singkat. Suaranya rendah, datar, tanpa hangat maupun dingin yang berlebihan.
“Saya diundang,” jawab Savira sama singkatnya. “Atau setidaknya, saya dipanggil untuk hadir.”
Sudut bibir Arkan bergerak samar, bukan senyum. “Pak Gumilar ingin semua ahli waris berada di sini selama proses renovasi dan pembagian aset berjalan. Termasuk kamu.”
Savira menatapnya langsung. “Saya tidak berencana lama-lama. Setelah dokumen selesai, saya akan kembali ke kontrakan.”
“Kontrakanmu sudah tidak bisa ditinggali,” potong Arkan tanpa ragu. “Saya sudah mengeceknya. Atapnya bocor parah sejak minggu lalu. Ibu Ratnawati memutuskan kamu tinggal di sini sementara.”
Kalimat itu diucapkan seperti keputusan bisnis, bukan tawaran. Savira merasakan rahangnya mengeras.
“Saya bisa mengurus sendiri.”
“Saya tahu,” jawab Arkan. Matanya tidak berkedip. “Tapi keputusan keluarga sudah dibuat. Kamu akan menempati sayap belakang bersama saya. Kamar-kamar lain masih dalam perbaikan struktural. Tidak aman.”
Hening sejenak. Hanya suara hujan di luar yang mengisi ruang.
Savira menatapnya lama. “Satu sayap belakang. Berarti berapa kamar yang masih layak?”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti pada jarak yang masih sopan namun cukup dekat untuk membuat udara terasa lebih berat. “Satu.”
Kata itu jatuh seperti batu.
Savira merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang belakangnya. Bukan takut. Lebih seperti peringatan. Ia sudah kehilangan suami. Ia sudah berjuang untuk tetap berdiri tanpa meminta bantuan. Sekarang ia harus berbagi ruang pribadi dengan pria yang selama ini hanya ia kenal sebagai ipar yang dingin dan tak tersentuh.
“Itu tidak pantas,” katanya pelan namun tegas.
“Tidak ada yang pantas dalam situasi ini,” jawab Arkan sama tenangnya. “Tapi ini keputusan sementara. Renovasi diperkirakan selesai dalam dua bulan. Mungkin lebih.”
Ibu Ratnawati yang selama ini diam akhirnya berbicara. “Arkan benar, Savira. Kamar di lantai dua masih berdebu dan berisiko. Kamu tidak bisa tinggal di hotel terus-menerus. Ini rumah keluarga. Kita harus saling menjaga.”
Savira menunduk sejenak, menatap ujung sepatunya yang basah. Ia membenci perasaan terjebak. Membenci fakta bahwa ia tidak punya banyak pilihan tanpa terlihat seperti perempuan yang sulit diatur. Akhirnya ia mengangkat wajah.
“Baik. Saya akan tinggal. Tapi saya tidak butuh diguru atau dikasihani.”
Arkan menatapnya sejenak lebih lama dari yang diperlukan. Ada sesuatu yang lewat di matanya—bukan belas kasihan, bukan juga ketertarikan. Lebih seperti pengakuan bahwa perempuan di depannya ini tidak mudah digoyahkan.
“Saya tidak pernah berniat mengasihani siapa pun,” katanya akhirnya. “Termasuk kamu.”
Kalimat itu terasa seperti garis batas yang digambar jelas di antara mereka.
Sania Kirana, asisten pribadi yang selama ini berdiri diam di sudut ruangan, maju perlahan.
“Saya sudah menyiapkan koper Savira di kamar belakang, Mas Arkan. Apakah perlu saya antar?”
“Tidak perlu,” jawab Savira cepat. “Saya bisa sendiri.”
Arkan mengangguk sedikit. “Sania akan menunjukkan jalannya. Saya masih ada rapat singkat dengan Pak Gumilar.”
Ia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban. Langkahnya mantap, meninggalkan aroma parfum mahal yang samar dan rasa kosong di ruang tamu.
Savira menghela napas pelan. Ia merasakan tatapan Ibu Ratnawati yang masih mengawasi.
“Kamu terlalu keras kepala, Savira,” ucap wanita itu pelan.
“Arkan tidak seburuk yang kamu pikirkan. Ia hanya… sulit menunjukkan perhatian.”
Savira tidak menjawab. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat tentang karakter iparnya. Yang ia tahu, tinggal serumah dengan Arkan Wiratama, apalagi dalam satu kamar, adalah ide yang buruk sejak awal.
Sania menuntunnya menyusuri koridor yang sempit karena material bangunan. Cahaya lampu kuning membuat bayangan mereka memanjang di dinding. Semakin ke belakang, suara renovasi semakin samar, digantikan oleh keheningan yang lebih dalam.
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu tua. Sania membuka pintu itu perlahan.
Kamar itu tidak besar. Satu ranjang queen size di sisi kiri, lemari, meja kecil, dan jendela yang menghadap kebun belakang. Dindingnya masih utuh, berbeda dengan bagian rumah lainnya. Namun ruangannya terasa terlalu intim untuk dua orang dewasa yang tidak memiliki hubungan selain status ipar.
“Ranjangnya sudah diganti seprai baru,” kata Sania lembut.
“Kamar mandi di dalam. Saya taruh handuk bersih di rak.”
Savira melangkah masuk. Tasnya ia letakkan di kaki ranjang. Matanya menangkap detail kecil: dua bantal, dua gelas di atas meja, dan gorden yang sudah ditutup sebagian.
Ia berdiri diam di tengah kamar, merasakan detak jantungnya sendiri.
Di luar, hujan semakin deras. Petir samar menyambar di kejauhan.
Savira berjalan mendekati jendela dan membuka gorden sedikit. Kebun belakang terlihat basah dan gelap. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet Arkan yang sedang berbicara dengan seseorang di dekat gudang kecil mungkin Pak Gumilar atau pekerja renovasi.
Pria itu berdiri tegak di bawah payung hitam, seolah hujan tidak mampu menyentuhnya.
Savira menutup gorden kembali.
Ia sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Ia tidak berniat kehilangan sisa harga dirinya hanya karena terpaksa tinggal di bawah atap yang sama dengan iparnya.
Namun saat ia duduk di tepi ranjang dan menatap pintu kamar yang masih terbuka, sebuah pemikiran dingin muncul di kepalanya.
Dua bulan.
Mungkin lebih.
Dalam satu kamar.
Dengan pria yang bahkan senyumnya saja jarang ia lihat.
Savira memejamkan mata sejenak.
Kedatangannya hari ini bukan undangan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang tidak ia minta, tidak ia inginkan, dan ia khawatir tidak akan bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Di luar, petir kembali menyambar, seolah memberi peringatan.
Dan untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal, Savira Kirana merasa bahwa kesepian bukanlah hal terburuk yang bisa menimpanya.