Kembalinya Gadis Yang Hilang
“Makasih ya, Pak!” Zara menyelipkan uang sepuluh ribu ke saku jaket pengemudi ojeg online.
“Terimakasih Neng,” balas pria paruh baya tersebut.
Zara tersenyum menanggapi kemudian melangkah ringan memasuki sebuah caffe yang bersatu dengan gallery lukis.
Melihat papan nama bertuliskan Maheswari di depan pintu gallery membuat Jena teringat sang sahabat yang untuk pertama kali setelah bertahun lamanya ia hubungi kembali tadi malam.
Zara selalu mengingat sahabat semasa kuliahnya itu karena hanya dia yang begitu perhatian dan sangat dekat dengannya selama berkuliah satu semester di Singapura sebelum hidupnya berubah kelam.
Tapi apakah Gallery ini milik sahabatnya yang bernama Maheswari Arshavina Marthadijaya?
Karena tadi malam saat komunikasi mereka melalui email dilanjutkan pada sambungan telepon, Maheswari mengajaknya bertemu di caffe ini.
Caffe yang sama di mana ia memasukan lamaran kerja satu bulan lalu dan tadi malam seseorang menghubunginya untuk melakukan interview.
“Selamat pagi,” sapa seorang pelayan pria membukakan pintu.
“Selamat pagi, saya Zara mau bertemu Pak Angga untuk melakukan interview.”
“Silahkan duduk di meja yang mana saja, saya akan panggilkan Pak Angga,” ujar pria itu ramah lantas pergi ke bagian dalam caffe.
Zara memindai sekitar, caffe tersebut masih sepi. Hanya beberapa pengunjung yang sepertinya sedang melakukan sarapan pagi sekaligus makan siang.
Zara melamar sebagai pelayan dengan ijazah SMA, itu pun selama seminggu ia begitu keras mengusahakan mendapat duplikat ijazah SMA karena ijazah yang asli tidak sempat ia selamatkan sebelum pelariannya di masa lampau.
Hembusan napas berat keluar dari mulut Zara mengingat betapa bersyukur dirinya kini karena hidupnya telah kembali.
“Selamat Pagi, saya Angga ... Manager caffe.” Suara seorang pria membawa Zara kembali dari lamunannya.
Zara mengerjap lalu berdiri. “Sa ... saya Zara, Pak.” Zara mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang Manager.
Keduanya pun duduk dan memulai interview. “Saya sudah membaca Curriculum Vitae kamu ... kamu sudah memiliki pengalaman bekerja di restoran tapi saya tidak bisa mengkonfirmasinya karena kamu tidak menyebutkan di mana restoran tersebut jadi tidak ada keterangan dari restoran sebelumnya jika kamu pernah bekerja di sana, kalau begini bagaimana saya bisa tau kinerja kamu sebelumnya?” Angga menyandarkan tubuh dengan kedua tangan terlipat di depan d**a.
Zara memberanikan diri menatap mata Angga. ”Saya akan membuktikannya langsung dengan bekerja di sini, Pak Angga bisa memberi saya waktu seminggu untuk melihat kinerja saya.”
Angga mengangguk setuju sambil membaca CV milik Zara. “Di sini juga tertulis kamu lulusan SMA, apa kamu enggak minat melanjutkan kuliah?”
“Sepertinya saya akan fokus mencari uang dulu, Pak ...,” balas Zara jujur.
Semenjak dirinya dan keluarga kembali dari pelarian, sang Ayah yang dulunya adalah pemilik sebuah perusahaan yang cukup besar masih belum memiliki pekerjaan tetap.
Ayah sudah berusaha menghubungi beberapa koleganya yang dulu tapi mereka tidak enak hati memberikan pekerjaan rendahan untuk beliau.
“Mas Anggaaaa.” Suara manja seorang wanita membuat keduanya menoleh.
“Caca ... udah dibilangin jangan kesini, kalau brojol gimana?” Raut wajah Angga tampak panik.
“Maheswari,” panggil Zara sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh yang bersangkutan.
Zara mengenal wanita hamil yang baru saja masuk ke dalam caffe dengan perutnya yang besar, itu adalah sahabatnya yang tadi malam berjanji bertemu di caffe ini dan ternyata sangat mengenal Manager caffe yang sedang meng-interviewnya.
“Zara!” Tidak seperti Zara yang tampak terkejut, Maheswari Arshavina Marthadidjaya atau kerap kali di sapa Arsha atau Caca malah berseru senang lalu berhamburan memeluknya.
“Kalian kenal?” Angga menunjuk Zara dan Arsha bergantian.
“Ini teman aku waktu kuliah, Mas ... .” Arsha memberitau.
Zara meringis sambil menunduk, tidak enak hati karena telah berbohong kepada Angga dan mengatakan jika ia hanya lulusan SMA.
“Sebentar, kamu ngelamar kerja di sini?” Arsha menyerongkan tubuhnya menghadap Zara yang kemudian mengangguk membenarkan.
“Ini caffe punya aku, Ra ... ya ampun, what happen to you, dear?” Arsha terang-terangan melihat Zara dari atas sampe bawah.
Bukan bermaksud untuk merendahkan tapi Zara yang ia kenal dulu adalah Zara yang fashionable dengan barang branded menempel di sekujur tubuhnya.
Namun, yang Arsha lihat sekarang adalah seorang gadis sederhana bertubuh kurus dengan kulit dan rambut kusam tidak terurus meski Zara masih terlihat cantik seperti terakhir mereka bertemu.
“Mas ... ini udah pasti diterima, Zara temen aku ... Mas balik kerja lagi aja ya ... aku mau ngobrol dulu sama dia,” ujar Arsha sambil mendorong pelan lengan Angga yang berada di atas meja memberi kesan mengusir secara halus agar pria itu segera pergi.
Angga berdecak sebal tapi mau bagaimana lagi, caffe dimana ia bekerja adalah milik wanita hamil jelmaan singa betina yang sedang mengusirnya saat ini jadi mau tidak mau ia harus pergi selain itu memang ada urusan di luar yang harus ia kerjakan.
“Ya udah ... Mas Angga mau keluar dulu dan Zara, kamu bisa kerja mulai besok.”
Angga mengikuti keinginan Arsha karena caffe juga memang sedang sangat membutuhkan pegawai.
“Baik, Pak ... terimakasih.”
“Hati-hati Mas ... semoga ketemu jodoh ya,” Arsha berseloroh, melambaikan tangan kemudian menjulurkan lidah saat pria itu menoleh menatap tajam.
Angga menggelengkan kepala samar seiring langkahnya keluar dari caffe.
Sudah biasa dengan sikap Arsha yang kekanak-kanakan meski akan menjadi Ibu dari tiga anak.