Setelah Brent dan Clarista pergi, Sabina masuk ke dalam apartemen lagi sambil mengikat rambutnya. Sesekali meringis karena masih merasakan sakit di kepala. Dia bahkan belum sempat minum obat. Sabina tak mendapati Elang. Dia mencoba mencari laki-laki itu di balkon, tapi sepi dan hanya ada langit yang mulai menggelap serta lampu-lampu di luar sana yang mulai menyala. Dia berhenti sejenak di balkon itu, berdiri dengan kedua tangan yang berpegangan pada besi pembatas. Dia menikmati semilir angin senja, menyapu anak rambut yang tak ikut terikat. Kedua matanya menyipit karena angin kian kencang. Sabina mencoba menghirupnya lalu menghembuskannya. Dadanya terasa lega seketika. Rasa sesak selama ini seakan hancur seketika. Sekarang yang tersisa hanya dia dan Elang. Dan sekarang, dia harus mem