BINAL | #1
Bulan Atmaja, gadis cantik yang masih duduk di bangku sma itu terlihat gelisah menatap layar laptop yang menampilkan adegan dewasa seorang pria dengan seorang gadis belia tengah memadu kasih.
Keringatnya bercucuran, dengan napas memberat karena terang-sang dengan apa yang dia lihat sekarang.
"Emnh.. Aku juga pengen ngerasain kaya gitu." lirihnya sembari meremas sebelah bukit kembarnya.
Bulan menggigit bibir bawahnya resah dengan leng-uhan kecil yang terus keluar akibat remasan tangannya sendiri pada bukit kembarnya.
Gadis itu terus melakukan kegiatannya sembari fokus menonton adegan dewasa yang terus berputar di laptopnya.
"Ahh.. yeahh.. emnh.. "
Jantung Bulan berdebar mendengar desa-han keras gadis dalam video itu. Bagaimana gadis cantik itu tampak sangat menikmati kulu-man pria dewasa itu pada bukit kembarnya.
"Bulan juga pengen.. " lirihnya lagi dengan nada frustasi.
Bruk
Gadis itu menutup laptopnya kasar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi telentang. Netra bulatnya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang.
Sudah sejak lama Bulan penasaran ingin merasakan apa yang dilakukan orang dewasa itu dalam video yang dia putar tadi. Namun, tidak ada pria yang membuatnya tertarik sejauh ini.
Mendengus kesal, Bulan lalu beranjak dari ranjangnya dan memutuskan untuk keluar kamar. Terlalu lelah melenguh membuat tenggorokannya terasa kering.
Gadis itu berjalan santai menuju dapur rumahnya yang telah sepi. Terang saja, malam sudah sangat larut sehingga tidak ada siapapun yang beraktivitas di ruangan itu.
Dengan santai dia menenggak air dingin yang baru dia ambil dari lemari pendingin. Tak mempedulikan penampilannya yang berantakan dan bisa saja sewaktu-waktu ada orang yang melihatnya.
"Ahh.. Leganya.. " desahnya lega setelah menandaskan setengah botoh air dingin.
"Non Bulan.. " panggil sebuah suara yang membuat gadis itu berjengit karena terkejut.
"Ya Tuhan.. Pak Fajar ngagetin Bulan aja." Bulan memegangi da-danya yang berdegup kencang.
Pria dewasa yang dipanggil Fajar itu menggaruk kepalanya dengan senyum canggung. Netranya lalu tanpa sengaja memindai penampilan nona mudanya dengan tatapan menelisik.
Bukannya merasa risih, Bulan justru merasa senang saat Fajar menyadari penampilannya. Dengan berlenggak-lenggok, dia mendekat ke tempat Fajar berdiri.
"Pak Fajar ngapain malem-malem ke dapur?" tanya Bulan dengan suara lembut yang dia buat-buat.
"Ah, i-itu Non.. Saya sebenernya mau bikin kopi." jawab Fajar gugup. Apalagi melihat penampilan gadis itu yang terlihat sangat sek-si.
"Mau Bulan bikinin nggak, Pak?" tanya Bulan menawari.
"Eh, Ti-Tidak usah, Non. Biar saya bikin sendiri saja." jawab Fajar menolak. Tidak mungkin dia membiarkan anak majikannya membuatkan dirinya kopi. Bisa-bisa auto dipecat dari pekerjaan, eh.
Bulan terlihat memberenggut karena penolakan itu. Dia memainkan ujung jarinya dengan bibir manyun yang tampak menggemaskan di mata Fajar saat ini.
"Ya udah kalau gitu, Non Bulan boleh buatin saya kopi." kata Fajar terpaksa karena tidak enak melihat wajah sedih Bulan.
Senyum langsung terbit di bibir plum Bulan. Dia berjingkrak senang, membuat Fajar tak dapat menahan senyumnya karena tingkah menggemaskan gadis itu.
Greb
"Eh.. " Fajar berjengit saat tiba-tiba Bulan merangkul lengannya, dan menyeretnya untuk duduk di kursi.
"Pak Fajar tunggu di sini ya. Bulan bikinin kopi dulu." ujar Bulan dengan senyum manisnya, membuat Fajar salah tingkah.
Pria berusia dipertengahan 30-an itu mengangguk kaku menuruti perintah nona mudanya. Matanya tak lepas menatap kegiatan Bulan yang saat ini sudah berkutat dengan kompor.
Bulan dengan ragu-ragu mulai menyalakan kompor dan meletakkan teko berisi air di atasnya. Sambil menunggu airnya mendidih, dia beralih memasukkan satu sachet kopi instant ke dalam cangkir kosong.
Tak membutuhkan waktu lama, air yang dimasak Bulan telah mendidih. Gadis itu dengan hati-hati menuangkannya ke dalam cangkir.
Fajar menatap kegiatan Bulan dengan pandangan yang sulit diartikan. Setelah nona mudanya itu menginjak dewasa, dia terlihat semakin cantik. Apalagi dengan tubuh semampainya yang mampu membuat para pria tergoda ingin terus melihatnya.
Netra gelapnya berhenti di paha mulus Bulan yang terekspos jelas di depan matanya. Baru dia sadari jika gadis itu hanya memakai short pans yang tidak dapat menutupi sebagian dari pan-tat sintalnya.
Glup
Tanpa sadar Fajar menelan ludahnya dengan susah payah melihat pemandangan itu. Dia berusaha menahan dirinya untuk tidak berpikiran kotor pada nona mudanya itu.
"Kopinya udah jadi.. " seru Bulan yang membuat lamunan Fajar seketika buyar.
Gadis yang membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan itu berjalan mendekat ke tempat duduk Fajar dengan secangkir kopi di tangannya.
Bulan dengan hati-hati meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di depan Fajar. Dia sengaja menunduk, agar pria itu dapat melihat belahan da-danya yang terpampang jelas mengintip di balik kaos oversize yang dia kenakan.
Lagi-lagi Fajar menelan ludahnya susah payah karena melihat pemandangan indah yang tidak sengaja mampir di penglihatannya itu. Dia mencengkram pegangan cangkirnya erat menahan gejolak yang muncul setalah melihat belahan da-da nona mudanya itu.
"N-Non Bulan tidak masuk?" tanya Fajar terbata. Dia berharap agar Bulan segera pergi dari tempat ini. Bisa-bisa dia hilang kendali dan menyerang gadis belia itu.
Bulan menggeleng pelan dan mendudukkan dirinya di atas meja. Tepatnya di samping tempat duduk Fajar.
Lengan mulusnya yang kecil bertumpu di atas meja. Hingga membuat da-danya semakin membusung dengan indah.
"Bulan masih mau nemenin Pak Fajar di sini." jawab Bulan dengan bibir mengerucut.
"Tapi besok Non Bulan sekolah. Jangan sampai Nona telat karena susah bangun." Fajar masih berusaha membujuk Bulan.
Bulan tetap kekeh menggeleng. Membuat Fajar harus menerima jika gadis itu tidak ingin segera pergi dari ruangan ini.
Dengan kikuk Fajar akhirnya menikmati secangkir kopi buatan nona mudanya. Dia terus menunduk, tak berani bersitatap dengan Bulan karena takut salah fokus.
"Em, Pak Fajar udah lama kerja di sini?" tanya Bulan memecah keheningan di antara mereka.
"S-Sudah hampir 7 tahun, Non." jawab Fajar tersenyum sopan.
"Udah lama ya ternyata.. " gumam Bulan yang diangguki oleh pria itu.
"Gimana Pak rasa kopinya? Enak nggak?" tanya Bulan semangat.
Fajar mengangguk pelan dengan senyum canggung.
"Enak kok, Non." jawab Fajar mengangguk sopan.
Bulan tersenyum senang, membuat Fajar salah tingkah karena melihat wajah cantik nona mudanya itu.
"Non Bulan kenapa malam-malam ke dapur?" tanya Fajar mengalihkan perhatian.
"Jawab nggak ya.. " kata Bulan yang justru menggoda Fajar.
Fajar jadi tersenyum kikuk karena jawaban gadis itu.
"Pak Fajar pengen tau nggak?" Bulan justru balik bertanya.
Fajar mengangguk ragu dengan wajah meringis. Membuat Bulan merasa lucu dengan reaksi pria itu.
"Tapi janji jangan bilang siapa-siapa ya, Pak." kata Bulan dengan suara pelan. Sengaja mendekatkan wajahnya pada Fajar, yang membuat pria itu seketika menahan napas.
Bulan terkekeh kecil dan semakin merendahkan tubuhnya. Lalu mendekatkan bibirnya pada telinga pria dewasa itu.
"Bulan abis liat bok*p." bisik Bulan dengan nada sensual yang mampu membuat Fajar membeku saat itu juga.
***