Belum sempat Dandy membalas bertanya nama teman lama Dinda yang memiliki kasus penyakit yang sama dengan papanya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan dia yang tampaknya harus menerima panggilan.
“Maaf, Bu. Kami pamit,” ujar Edith, berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah cepat Dandy menuju luar rumah.
“Iya, iya, silakan.”
“Terima kasih, Bu!” ucap Edith, berlari menyusul Dandy yang sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.
Dandy sempat menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arah Dinda yang berdiri di depan pintu, dan wajahnya menunjukkan maaf, dan Dinda mengangguk memaklumi.
Dinda terdiam cukup lama, ternyata Dandy adalah anak kandung Fauzan, mantan kekasihnya. Mengingat wajah Dandy, menurut Dinda tidak begitu mirip Rida ataupun Fauzan, tapi tubuh tinggi dan cara jalannya yang mengingatkannya akan mendiang Fauzan. Anak laki-laki itu tampan, dan punya karisma.
Dinda masuk ke dalam rumah, mengambil laptop dan alat-alat tulisnya, lalu masuk ke dalam ruang kerjanya, melanjutkan pekerjaannya.
Entah kenapa Dinda tergerak melihat-lihat akun Frida, adik Fauzan. Frida cukup aktif mengunggah kesehariannya di akun media sosialnya. Dinda akhirnya melihat foto Dandy dan Fauzan bersama keluarga besar mereka di sebuah kesempatan di villa mewah di Bali.
Dinda tidak menduga kebetulan ini, bertemu Dandy, anak dari mantan kekasih yang sangat dia cinta. Mendengus tersenyum sambil bertanya kenapa Fauzan menamakan anak laki-lakinya Dandy, yang sekilas mirip dengan namanya.
Terdengar bunyi deru mesin mobil di luar. Dinda bergegas ke luar ruang kerja.
“Mama!”
Dinda tersenyum lebar melihat Bassam berlari ke arahnya, dia diantar papanya.
“Tadinya mau aku ajak menginap lagi malam ini di apartemen, tapi aku harus pulang ke Bandung, Jocelyn sakit,” ujar Nizar, mengusap-usap kepala Bassam penuh rasa sayang.
“Nggak apa-apa, Nizar. Sakit apa Jocelyn?”
“Sepertinya masuk angin biasa, dia habis renang dan demam.”
“Oh.”
Nizar beralih ke Bassam. “Papa pulang dulu ya?”
Bassam mengangguk.
“Atau ikut Papa ke Bandung?” usul Nizar tiba-tiba.
Bassam menggeleng cepat, dan Dinda tertawa melihat tingkahnya.
“Hati-hati, Nizar,” ucap Dinda ke Nizar yang bersiap-siap masuk ke mobilnya.
Tak lama kemudian, mobil Nizar hilang dari pagar rumah dan Dinda mengajak Bassam masuk ke dalam rumah.
Meski bercerai, hubungan Nizar dan Dinda baik-baik saja dan hampir tidak ada perselisihan. Mereka bercerai secara baik-baik karena Nizar mengaku bertemu mantan kekasihnya dan tidak bisa melupakannya. Nizar dan Dinda bercerai dan Nizar menikah dengan mantan kekasihnya yang baru menjanda tiga bulan, Regina namanya, dan mereka memiliki anak bernama Jocelyn. Dinda juga mengenal baik Regina.
***
Bukan main senang perasaan Dinda, proposal penelitian yang diketuainya diterima dan timnya akan menerima dana milyaran dari pemerintah, bekerja sama dengan perusahaan swasta. Tentu saja pujian dan ucapan selamat tertuju kepadanya, karena hanya dua tim yang diterima di kampus, bersaing ketat dengan kampus-kampus negeri ternama seIndonesia.
“Dananya akan cair tahun depan, Bu Dinda,” ujar Tracy, salah satu anggota tim penelitian Dinda.
Dinda tersenyum kecil.
“Kalo yang terlibat pemerintah, biasa telat,” timpal Safiq, juga anggota tim penelitian.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.
“Yang penting ada dana yang ditunggu,” ujar Dinda, memberi semangat.
Tiba-tiba Edith menghampiri Dinda dan menyapanya, dan meminta Dinda menandatangani sebuah berkas.
“Jangan lupa segera kirim laporan kamu,” ujar Dinda setelah selesai menandatangani.
“Sudah, Bu.”
“Bagus, nanti saya langsung berikan feedback, saya usahakan malam ini selesai.”
Edith mengangguk tersenyum dan pamit.
“Edith pacarnya Dandy,” ujar Safiq saat Edith melangkah jauh.
“Oh, kamu mengenalnya?” tanya Dinda, heran, karena Safiq tidak mengajar di kelas Edith, tapi mengenal mahasiswi bimbingannya.
“Edith itu selebrgram kebanggaan kampus, Bu Dinda. Dandy? Dia anak pengusaha besar, dekat pula dengan pejabat negara. Papanya meninggal dua minggu lalu, hm … dia mahasiswa arsitektur,” ujar Safiq menjelaskan.
Dinda manggut-manggut.
Safiq dan Tracy tersenyum memandang Dinda, dan mereka memaklumi Dinda yang merupakan dosen baru.
“Biasanya selalu berdua,” gumam Tracy.
“Maksudnya?”
“Edith, biasanya berduaan dengan Dandy. Dengar-dengar Dandy ini orangnya posesif, cemburuan, jadi kerjanya ngintilin Edith,” jelas Tracy.
Dinda tertawa kecil, merasa geli dengan dosen yang mengetahui kehidupan pribadi mahasiswa, dan dia sendiri memilih untuk tidak mengungkapkan bahwa Edith dan Dandy sudah pernah datang ke rumahnya.
***
Edith datang lagi ke rumah Dinda dalam rangka konsultasi dan kali ini lebih serius, Dinda mengajak Edith masuk ke dalam ruang kerjanya di rumah dan mereka mendiskusikan isi bab tiga. Dandy juga ikut datang menemani Edith ke rumah Dinda. Yang menarik, Dandy malah langsung akrab dengan Bassam, dan mereka berdua asyik bermain gim di kamar Bassam.
“Bab tiga selesai, kamu bisa lanjut bab empat,” ujar Dinda, dan Edith bersorak gembira, dia tidak lupa berucap terima kasih.
“Sayang sekali, Dandy menyerah, Bu,” ujar Edith tiba-tiba.
“Menyerah bagaimana?”
“Dia malas-malasan. Padahal proposal sudah disetujui dan dia yang tinggal menyusun laporan.”
“Oh.”
“Hanya gara-gara bab dua ditolak, dia marah dan nggak semangat. Dosbingnya juga sering ke luar kota. Dia … iri sama aku.”
“Haha, bisa saja. Ya, begitulah kuliah. Ibu dulu juga dapat dosbing yang galak, tapi … tetap bertanggungjawab dan membantu. Akhirnya Ibu bisa selesai tepat waktu.”
“Iya, Bu. Ck, mana Dandy susah diatur orangnya.”
“Hm, lebih baik kamu pikirkan kuliah kamu dulu, kalo kamu yang lebih dulu selesai, kamu bisa bantu dia.”
Edith mengangguk, setuju dengan usulan Dinda.
Keduanya ke luar dari ruangan, dan Dinda menyuruh Edith masuk ke dalam kamar Bassam untuk menemui Dandy.
“Yah, Kak Dandy pulang ya?” Bassam mengekor dan memegang tangan Dandy seolah enggan melepas Dandy. Ada stik game di tangannya, sepertinya Bassam dan Dandy telah menghabiskan waktu bermain yang menyenangkan.
“Nanti Kakak ke sini lagi,” ujar Dandy dan dia yang harus pulang.
Bassam menarik tangannya dari tangan Dandy, berlari mendekati mamanya dan memasang wajah cemberut.
“Kami pamit, Bu,” ucap Dandy sopan.
Dinda terkesima dengan sikap ramah Dandy dan dia tersenyum menatapnya. Tanpa diduga, Dandy membalas senyuman Dinda dan menatapnya. Sepasang mata mereka beradu beberapa saat, dan Dinda sedikit tergugup, dia cepat-cepat mengajak Bassam untuk mengantar Dandy dan Edith ke luar rumah.
Bassam takjub melihat mobil keren Dandy dan dia meminta Dandy mengizinkannya masuk ke dalam sebentar.
“Nanti Kak Dandy ajak jalan-jalan deh,” ujar Dandy setelah Bassam melihat-lihat interior mobilnya.
Bassam mendekati mamanya dan tersenyum ke arah Dandy yang sudah duduk di depan setir.
Sepertinya Bassam masih belum puas, dia kembali mendekati Dandy.
Lagi-lagi Bassam kagum melihat mobil Dandy.
“Terima kasih, Kak Dandy,” ucap Bassam, karena Dandy yang telah menemaninya bermain di kamarnya.
“Sama-sama, Bassam,” balas Dandy, dia mengacak rambut Bassam.
Dinda yang berdiri di depan pintu rumah, tampak memperhatikan Dandy, diam-diam dia mengagumi anak laki-laki itu karena bisa akrab dengan Bassam, yang dikenal sulit didekat. Dia jadi mengingat Fauzan, yang suka bermain dengan anak-anak seusia Bassam di masa mudanya dulu. Dandy persis Fauzan, batinnya.
***
Dinda kaget, seorang staff masuk ke dalam ruang kerjanya di kampus dan memberitahu bahwa ada seorang mahasiswa yang ingin bertemu dengannya.
“Dandy, Bu.”
“Oh. Suruh dia masuk.”
“Baik, Bu.”
Dinda bertanya-tanya kenapa Dandy ingin menemuinya.
Tak lama kemudian, Dandy masuk dan dia tampak rapi dan gagah dengan outfit kasualnya.
Dinda lagi-lagi terkesima dan dia tersenyum lebar.
“Maaf, Bu. Ganggu.”
“Nggak, nggak sama sekali. Kebetulan saya juga sedang santai.”
Dandy meletakkan sebuah kotak yang cukup besar di atas meja kerja Dinda. “Ini, mainan saya waktu seumuran Bassam, dan jarang saya mainkan. Saya sudah janji mau kasih ke Bassam, titip ya, Bu.”
“Oh, Dandy. Repot-repot amat.” Dinda senang sekali dengan perhatian Dandy kepada anaknya.
“Saya senang main sama Bassam, dia pintar, Bu.”
“Ah, dia memang suka sekali main gim. Saya pernah melarang karena saya pikir akan mengganggu akademik sekolahnya. Ternyata justru dia lebih pandai menangkap pelajaran setelah puas bermain.
“Iya, Bu. Saya coba pancing dia bermain gim orang dewasa, dan dia bilang belum saatnya.”
“Hei, jangan coba-coba, Dandy.”
Dandy tertawa lepas.
“Oiya, bagaimana dengan laporan akhir kamu. Edith cerita kamu punya kendala.”
Wajah Dandy berubah suram. “Iya, Bu. Dosbing saya selalu bilang sibuk dan sering ke luar kota, saya ingin mengganti dosbing, tapi … saya khawatir usulan saya ditolak.”
“Ya, pak Pedro punya jabatan, jadi memang sangat sibuk. Hm … tapi nanti saya coba bicaraka dengan ibu Felisha,” ujar Dinda.
“Makasih, Bu Dinda,” ucap Dandy pelan.
Dinda mengangguk.
“Maaf, Bu. Ibu … bercerai?” tanya Dandy tiba-tiba dan Dinda yang cukup tersentak.
Bersambung