Dinda menguatkan hatinya saat menghadiri pemakaman Fauzan, eks kekasihnya. Sebenarnya dia tidak mau datang, tapi entah kenapa hatinya terpanggil untuk melihat proses peristirahatan terakhir pria yang pernah mengisi hatinya di masa lalu.
“Senang kamu? Puas, ‘kan?” desis Rida, istri Fauzan, yang mendekati Dinda dan menatapnya dengan tatapan sinis.
Dinda diam tidak bergeming, tidak memiliki kekuatan untuk membalas kata-kata Rida, sahabat yang telah merebut Fauzan darinya.
“Sudah, Rida. Bukan saatnya berdebat.” Seorang ibu setengah baya menenangkan Rida untuk tidak menunjukkan kekecewaan mendalam saat ini. Dia mendekap bahu Rida, menjauhkan dari posisi Dinda berdiri. Dia menoleh ke Dinda dan berkata, “Sebaiknya kamu tidak datang, mengganggu suasana.”
Tidak ingin emosinya bergejolak, Dinda berpindah tempat, berdiri di belakang dan dia yang masih bisa menyaksikan proses pemakaman, juga ikut mendoakan Fauzan.
***
Dinda merapikan mejanya saat sudah selesai mengajar, dia kembali mengingatkan kepada mahasiswanya agar segera menyelesaikan tugas ujian tengah semester. Semua mahasiswa tersenyum puas karena tugas dari Dinda tidak begitu sulit, dan mereka bisa mengerjakannya di kediaman masing-masing.
“Permisi, Bu, mau minta tanda tangan,” ujar Edith, salah satu mahasiswa bimbingan Dinda.
“Oh, mana berkasnya?” tanya Dinda, dia dikenal dosen yang mempermudah urusan akademik mahasiswanya.
Edith lalu menyerahkan berkas ke atas meja Dinda dan Dinda langsung menandatangani.
“Jadi, kapan saya bisa bimbingan lagi?” tanya Edith sopan.
Dinda berpikir sejenak. “Minggu ini ke rumah saya saja.”
“Baik, Bu.”
“Edith!” panggil seorang laki-laki muda dari luar kelas. “Oh, maaf,” ucapnya kemudian, saat menyadari Edith yang tengah berurusan dengan dosen pembimbing skripsinya.
“Pacar?” tanya Dinda dengan senyum terkulum.
“Iya, Bu,” jawab Edith malu-malu.
“Oh, beda kelas?”
“Iya, dia anak arsitektur.”
“Oh, arsitektur.”
Edith mengucapkan terima kasih dan dia pamit ke luar kelas.
“Arsitektur,” gumam Dinda bermonolog, mengingatkannya akan seseorang yang dia cinta, yang sudah pergi selama-lamanya minggu lalu. Sesak d**a Dinda mengingat momen indah di masa lalu, usianya masih muda dan penuh dengan semangat dan impian-impian.
Perasaan gundah Dinda bertambah saat menerima panggilan. “Halo.”
“Dinda. Aku hanya mengingatkan Sabtu malam minggu ini Bassam menginap di apartemenku.”
“Oh, ya, kamu yang jemput atau aku antar ke sana?”
“Aku yang jemput.”
“Baiklah.”
Dinda berdecak kecil setelah menyudahi pembicaraannya dengan mantan suaminya, Nizar. Dia lalu menghubungi seseorang. “Mita, Bassam mana?”
“Bentar, Bu.”
Tak lama kemudian, terdengar suara anak laki-laki di ujung sana memanggil mamanya.
“Halo, Sayang. Sudah makan?”
“Iya, Ma.”
“PRnya?”
“Baru selesai.”
“Oh, bagus. Mama pulang agak sore, jadi kamu sama miss Mita dulu ya?”
“Iya, Mama.”
Dinda menghela napas lega, lalu dia ke luar kelas dan berjalan menuju ruang kerjanya.
***
Baru satu semester Adinda Gistara mengajar di kampus bertaraf internasional di Jakarta Selatan, dan dia sudah memiliki belasan mahasiswa bimbingan. Dia cukup diidolakan para mahasiswa di kampus karena ramah dan mau berbagi pengetahuan serta dengan cepat menanggapi pesan. Sebelumnya dia mengajar di kampus swasta di Bandung, dan menjadi pejabat akademik di sana. Ingin suasana baru dan melupakan masalah pelik rumah tangganya, Dinda memutuskan pindah tugas dan lamarannya diterima di kampus bonafid di Jakarta.
“Halo, Dith? Sudah di depan? Oh, tunggu ya, kamu mau nunggu … hm, lima belas menit, Ibu baru selesai workout.”
Dinda meletakkan ponselnya di atas meja, dan dengan pelan merapikan peralatan workoutnya di rak. Setelahnya, dia melangkah menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dinda sudah rapi dan wangi, dan dia pun bersiap-siap ke luar kamar setelah meraih laptop.
Dinda membuka pintu depan dan tersenyum lebar, Edith sudah berdiri di luar pintu dan juga tersenyum lebar. “Masuk, Dith,” ajak Dinda. Sekilas dia melihat heran mobil hitam jeep Rubicon di pekarangan depan rumah, dan seorang laki-laki berdiri di sampingnya sambil menelepon.
“Oh, itu Dandy, Bu. Pacar saya,” ujar Edith.
Dinda dengan cepat mengingat laki-laki muda tampan yang memanggil Edith saat dia mengajar beberapa hari lalu. “Oh, yang manggil kamu waktu itu? Suruh masuk saja, nggak apa-apa kok.”
“Biarin, Bu. Dia sedang dihubungi mamanya.”
Dinda dan Edith masuk ke dalam rumah dan Dinda membiarkan pintu terbuka lebar.
“Lama menunggu?” tanya Dinda saat sudah duduk bersama di sofa.
“Nggak, Bu.”
Setelahnya, Dinda membaca laporan Edith dengan seksama melalui laptop Edith dan dia menjelaskan beberapa hal yang perlu Edith perbaiki.
“Sejauh ini progress kamu lebih baik, penulisan sudah bagus, hanya diperhalus saja. Kemudian, ada beberapa kutipan yang sebaiknya dikurangi, dan … ya … hanya masalah teknis, dan tidak seberapa,” ujar Dinda, dia menandatangani laporan Edith.
“Wah, terima kasih banyak, Bu,” ucap Edith dan tersenyum puas.
Terdengar bunyi tendangan di luar.
Dinda terperangah dan Edith yang tampak tenang.
“Dandy sedang galau, Bu,” ujar Edith, dan dia sedikit malu.
“Oh.”
“Papanya baru seminggu lalu meninggal dunia.”
Dinda terperangah, memegang dadanya.
“Dia agak stress, karena laporan akhirnya ditolak dosbing karena telat, padahal dia sedang berduka. Lalu, mamanya yang terlalu banyak menuntut. Belum apa-apa dia sudah dibebani tanggung jawab perusahaan mendiang papanya. Sementara dia sedang bermasalah dengan dosbing.”
Dinda terenyuh mendengar penjelasan Edith. Satu hal, dia dengan cepat menilai bahwa Edith adalah kekasih yang sangat pengertian.
Baru saja Edith merapikan semua propertinya dari atas meja, seorang asisten rumah tangga muncul dari dalam dan membawa tiga cangkir keramik berisi minuman hangat.
“Ah, Ibu. Repot sekali,” ucap Edith segan. Dia sebenarnya sudah gelisah karena kekasihnya yang menunggu di luar rumah.
“Minum dulu,” suruh Dinda.
Tiba-tiba Dandy berdiri di depan pintu, dan dia tampak tidak sabar ingin segera mengajak Edith pulang.
Dinda berdiri dari duduknya dan menyapa. “Masuk dulu, Edith baru selesai bimbingan.”
Dandy terperangah melihat Dinda, seolah tak menduga sikap ramahnya. Dia dengan sopan melepas alas kaki dan masuk ke dalam rumah Dinda.
Sebelum duduk, dia mendekati Dinda dan mengulurkan tangan kanannya. “Saya Dandy, Bu.”
Dinda tergelak, menyadari namanya yang hampir mirip, “Dinda.”
Edith juga tergelak, baru menyadari nama dosen pembimbing dan nama kekasihnya yang hampir serupa.
Dandy duduk, dan Dinda mempersilakannya minum.
“Edith cerita kamu dari jurusan arsitektur?” tanya Dinda setelah Dandy menyesap minuman hangatnya.
“Iya, Bu.”
“Sedang mengurus laporan akhir juga?”
“Iya.” Tampak wajah Dandy tidak semangat.
“Siapa dosen pembimbing kamu?”
“Pak Pedro, Bu.”
“Pedro.” Dahi Dinda mengernyit, dan dia yang belum mengenal dosen-dosen di kampus barunya. “Kamu jurusan arsitektur, ‘kan?”
Dandy mengangguk.
“Bu Felisha?”
“Iya, saya kenal bu Feli, dia mengajar Lingkungan Bisnis.”
Dinda menoleh ke Edith sebentar, “Oh, iya, maaf, tadi Edith cerita kalo kamu sedang berduka.”
Dandy mengangguk lagi, kali ini wajahnya tampak sangat sedih. “Ya, papa saya terkena kanker mulut.”
“Oh.” Dinda terhenyak, Fauzan, eks kekasihnya juga meninggal minggu lalu dan mengalami kanker mulut.
“Beliau dulunya perokok aktif," ujar Dandy.
Dinda menelan ludahnya, dia tidak tahu bagaimana Fauzan terkena kanker mulut dan setahunya Fauzan tidak merokok. Dia sudah tidak menghubungi Fauzan lagi sejak Fauzan menikah dengan Rida dan dia yang tidak mau tahu tentangnya. Seminggu sebelum Fauzan meninggal, dia dihubungi Frida, adik Fauzan, mengabarkan Fauzan yang dirawat di rumah sakit dan mengidap kanker mulut. Melalui Frida, Fauzan menginginkannya menjenguk. Dinda sempat menjenguk Fauzan di saat Fauzan yang hanya ditemani Frida. Bercakap-cakap sebentar dan seminggu kemudian, terdengar kabar Fauzan meninggal dunia. Yang menyesalkan, Frida bercerita bahwa Fauzan ternyata kuat merokok sejak menikah dengan Rida, karena menyesal telah meninggalkannya, merasa keputusannya yang salah.
“Ah, merokok memang berbahaya, kamu?” ujar Dinda bertanya.
Dandy tersenyum kecut, melirik Edith yang mencebik.
“Ya, sebisa mungkin dihentikan,” ujar Dinda pelan. Menghela napas panjang, dan berujar. “Minggu lalu teman lama saya juga meninggal, penyakitnya sama, kanker mulut.”
Dandy terperanjat.
“Padahal teman saya itu semasa muda tidak merokok, dan ternyata dia sering merokok sejak menikah,” lanjut Dinda, matanya berkaca-kaca dan dadanya sesak mengenang Fauzan.
“Papa saya juga dulu begitu, Bu. Mama cerita kalo papa saya muda dulu tidak merokok, dan merokok sejak menikah," tanggap Dandy.
“Oh ya?” Dinda mulai curiga, berpikir mereka berdua menceritakan orang yang sama. “Boleh tahu siapa nama papa kamu?”
“Fauzan.”
Bersambung