Napas Dandy sesekali tertahan saat melihat-lihat beberapa lembar foto dan surat-surat serta pernak-pernik di dalam kotak jati yang dia ambil dari depan pagar rumah Dinda. Dia bisa membayangkan betapa indahnya masa-masa berpacaran Dinda dan papanya waktu itu. Keduanya sama-sama memendam perasaan yang sama, lalu saling menyatakan perasaan suka, dan melewati keseruan berdua. Ke mana-mana berdua, ke mall, ke café dan restoran, bahkan makan di pinggir jalan, juga melewati momen yang tak terduga sekalipun, motor papanya yang mogok dan Dinda yang tetap menemani papanya berjalan sambil mendorong motor ke bengkel. Dandy jadi senyum-senyum sendiri membayangkan masa muda papanya dan Dinda, memaklumi papanya yang dihantui perasaan bersalah selama bertahun-tahun, menyesal telah meninggalkan Dinda yang

