Bassam cemberut, sudah berminggu-minggu Dandy tidak memberi kabar. Berulang kali dia mengirim pesan, tidak satu pun pesannya dibalas. Dia menjadi kurang bersemangat bermain gim di komputer, memilih melukis. “Hai,” sapa Dinda dari balik pintu kamar Bassam, melipat kedua tangannya mengamati Bassam yang sedang melukis. Bassam sama sekali tidak membalas sapaan mamanya. Dinda yang sudah mengerti kekesalan Bassam, masuk ke dalam kamar dan duduk di bangku kecil di samping Bassam. Tatapannya beralih ke lukisan Bassam yang dibungkus plastik rapi. “Sebaiknya ini dipajang,” ujar Dinda pelan, dan hati-hati. “Kak Dandy janji mau membeli.” Dinda tersentak, anak laki-laki itu sudah lama tidak memberi kabar. Sejak menyinggung pernikahan, Dandy tidak lagi menunjukkan batang hidungnya, dan dia menge

