Bab 4. Kunjungan Dandy

1108 Kata
Dinda melempar tas kerjanya di atas tempat tidur, lalu duduk di atasnya sambil membuka pakaian. Memikirkan pertemuannya dengan Dandy di kantornya membuatnya mengenang Fauzan. Matanya langsung berkaca-kaca mengingat pertemuannya dengan Fauzan di rumah sakit, dan Fauzan yang sempat berbincang dengannya juga meminta maaf. Waktu itu keadaan Fauzan sangat memprihatinkan, kurus dan kuyu. Dinda berdiri dari duduknya dan melangkah menuju lemari pakaian, mengambil pakaian santai dan handuk, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. *** Baru saja Dinda mengeluarkan bahan makan malam dari kulkas, Bassam ke luar dari kamar dan berseru, bahwa Dandy sudah datang. “Hati-hati, Bassam. Jangan lari-lari!” seru Dinda dari dapur, dan dia sudah siap masak untuk makan menjelang sore, berupa kari ayam dan tahu goreng, dan lalapan. Tak lama kemudian, suasana rumah Dinda pun riuh karena Bassam yang menyambut gembira kedatangan Dandy. “Bu,” sapa Dandy yang sudah berada di ruang tamu. Dia tampak gagah dengan kemeja kotak-kotak biru, sesuai dengan kulit putih tubuhnya. Dinda tidak segera membalas, heran melihat Dandy datang seorang diri. Dia berjalan menuju ruang tamu dan bertanya, “Sendiri? Ibu kira sama Edith.” Dandy tersenyum menggeleng. “Nggak, Bu. Dia sibuk susun bab empat.” “Oh.” “Oiya, Bu. Saya sudah hubungi bu Inka dan besok kami akan bertemu di kampus.” “Ah, syukurlah.” “Mau main dulu, Bu,” pamit Dandy karena Bassam yang menarik-narik tangannya. Dinda mengangguk, lalu kembali ke dapur. Entahlah, Dinda tidak mengerti akan sebuah kebetulan ini, Dandy yang tiba-tiba hadir dalam kesehariannya dan dia yang ternyata anak dari mantan kekasihnya. Lebih-lebih, anak itu yang sekarang akrab pula dengan anaknya. Karena ada Dandy, Dinda akhirnya memasak untuk bertiga sore itu, dan dia pula yang bersemangat, merasa ada dua anak yang harus dia urus. Baru saja selesai menata meja makan dengan makanan yang baru dia masak dan masih panas, Dandy ke luar dari kamar bersama Bassam. “Ma, kak Dandy mau pulang,” ujar Bassam, kali ini dia tampak lebih rela dan tidak cemberut seperti sebelumnya. “Duh, makan dulu, Dandy. Ibu sudah masakin lo, pamali kalo ditolak,” ujar Dinda, sedikit memaksa. Entah kenapa dia belum menginginkan Dandy pulang. Dandy tampak berpikir sejenak, dan dia mengangguk. Bassam menggeram senang dengan mengepal satu tangannya, lalu mengajak Dandy makan bersama. Suasana dapur jadi meriah karena ada Dandy, Bassam bersemangat bercerita tentang mainan pemberian dari Dandy. Dinda sama sekali tidak mengerti pembicaraan mereka tentang gim, tapi dia tetap mendengar. Dandy juga sesekali melirik Dinda seolah menganggapnya mengerti. Bassam lebih dulu selesai makan, dan dia langsung membereskan piring dan mencucinya di sink. Anak itu sangat mandiri dan penurut. Setelahnya, dia pergi ke ruang tengah dan duduk-duduk di sofa sambil menonton televisi. “Ada taman di belakang ya, Bu?” tanya Dandy, dia melihat taman kecil di balkon luar dapur. “Oh, iya, hanya taman kecil,” jawab Dinda. Dandy masih dengan tatapannya ke luar balkon dan dia menarik sesuatu dari saku celana, sebuah zippo dan sebungkus rokok. “Oh, haha. Maaf, Dandy. Dilarang merokok di sini,” ujar Dinda pelan. Dandy mendengus kecil, dan dia yang tampak gelisah. “Hei, ingat dulu penyakit papamu,” ujar Dinda pelan, mengusap-usap bahu Dandy sembari mengambil piring-piring yang sudah kosong dari makanan. Dandy memasukkan kembali rokok ke dalam sakunya, menoleh ke Bassam yang asyik menonton. “Duduk di depan yuk, kita ngobrol-ngobrol,” ajak Dinda ke Dandy yang tampak bingung. Dinda mengerti Dandy yang gelisah karena tidak bisa merokok. Dandy mengekor Dinda, dan dia yang masih gelisah. Duduk di samping Dinda dan menghela napas panjang. “Dosen pembimbing sudah ada, apalagi yang bikin kamu bingung?” “Rokok, Bu.” “Haha, Dandy. Duh, kamu itu apa nggak ambil pelajaran dari kebiasaan papamu.” “Itu juga penyakit baru. Bertahun-tahun merokok dia nggak punya keluhan.” “Usahakan hidup sehat.” Dandy menghela napas panjang. Tampaknya dia sudah ketergantungan dengan rokok. Kedua tangannya gemetar dan gelisah. Juga sesekali membasahi bibirnya dengan lidah. “Edith sudah bab empat, kamu baru mulai, harus semangat.” “Makasih, Bu.” “Kok makasih?” “Kan Ibu yang bantu saya.” “Itu sudah biasa, saya dulu juga begitu kalo ada mahasiswa yang punya kendala dengan dosbing atau masalah akademik lainnya, sebisa mungkin mempermudah mereka.” Dandy menoleh ke Dinda dan menatapnya kagum. Dinda sedikit tersentak melihat sorot mata Dandy yang teduh, mirip sekali dengan tatapan Fauzan yang dia rindukan. Cepat-cepat dia usir perasaan anehnya. “Saya nggak tau kenapa, saya seperti sudah lama mengenal Ibu,” ujar Dandy tiba-tiba. Dinda tersentak kaget, dan dia khawatir Dandy yang mungkin saja tergerak bertanya tentang temannya yang baru meninggal dunia, dan mengidap penyakit yang sama dengan penyakit yang diderita mendiang papanya. “Oh, ya … terkadang kita mengalami seperti itu. Mungkin saya juga mengalami seperti yang kamu alami sekarang. Kamu adalah pacar mahasiswi bimbingan saya, lalu dekat pula dengan Bassam, sehingga interaksi kita yang jadi lebih akrab. Ya ... jadi seperti sudah mengenal lama." Dandy mengangguk, dan menghela napas panjang. “Sudah lama kamu pacaran dengan Edith?” tanya Dinda hati-hati. “Baru enam bulan.” Dinda terkejut, dia pikir Edith dan Dandy sudah bertahun-tahun pacaran. “Oh. Oke.” “Sebelum pacaran dengan Edith, saya pacaran dengan teman sekelas, kita putus karena saya bosan.” “Haha, Dandy, semoga kamu tidak bosan dengan Edith. Dia mahasiswi yang rajin dan baik lo. Hm, jadi sering gonta ganti pacar nih ceritanya?” tanya Dinda, berusaha mencairkan situasi dan dia jadi ingin lebih tahu tentang anak mantannya itu. Dandy menoleh ke Dinda dan mengangguk tersenyum. Dinda sedikit tersipu melihat senyum manis di wajah Dandy. “Oh ya? Wah, suhu juga kamu ya.” “Nggak juga, Bu. Saya memang mudah merasa bosan.” Dinda mengamati Dandy dan sepertinya Dandy memang sering gonta ganti pacar. Duh, soal ini sangat berbeda dari Fauzan yang hanya berpacaran dengan dirinya, tapi gagal bersatu, malah menikah dengan sahabatnya dan mereka yang tidak pacaran. Mengingat masa lalu yang mengecewakan membuat Dinda sedih. “Semoga kamu dan Edith bisa ke jenjang yang lebih serius, karena kalian berdua sama-sama mau selesai kuliah,” ujar Dinda. “Sedari sekarang menyusun rencana masa depan bersama,” lanjutnya memberi pandangan. Dandy memperbaiki posisi duduknya. “Kata-kata Ibu sama dengan apa yang Mama saya harapkan. Dia juga menyukai Edith yang penurut, berharap menikah. Tapi saya belum yakin dan belum berpikir sejauh itu. Edith juga tahu itu.” “Oh, begitu.” Dandy menoleh ke Dinda dan menatapnya tajam. Dinda terdiam, menelan ludahnya, dia mengalihkan tatapannya ke objek lain di belakang Dandy. “Ibu … mirip dengan seseorang yang saya pernah temukan,” ujar Dandy dengan senyum manisnya. Dinda tersentak. “Oh ya? Siapa?” Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN