Dandy tertawa terbahak-bahak melihat wajah cemas Dinda.
"Dandy? Siapa yang mirip dengan orang yang kamu temukan?" Dinda bertanya karena Dandy tidak langsung menjawab, tapi anak laki-laki itu malah menertawakannya.
Tawa Dandy semakin keras, hingga tubuhnya sedikit terguncang, dan Dinda yang semakin penasaran.
“Nggak ada siapa-siapa, Bu. Saya ngerjain Ibu saja,” jawab Dandy, masih dengan sisa tawanya.
Dinda yang tegang, refleks menepuk pundak Dandy, “Kamu bikin Ibu keki lo,” decaknya dan masih cemas. Bagaimana dia tidak cemas, dia khawatir Dandy tahu bahwa dia adalah eks kekasih papanya, lalu akan menceritakan ke mamanya yang sampai kini memusuhinya tanpa alasan. Dinda tidak ingin membuat kegaduhan.
Dandy tertawa lagi dan dia yang sangat usil. “Haha, Ibu … haha, sama kayak Mama kalo saya kerjain. Tapi … umur Ibu berapa sih?”
“Hei! Kamu ah.” Dinda tidak menyangka Dandy mempertanyakan usianya, tapi dengan cepat dia menyadari keakrabannya dengan Dandy yang konyol. “Tebak,” tantangnya.
Dandy menarik tubuhnya sembari mengamati sekujur tubuh Dinda, sempat pula menelan ludah saat tatapannya tertuju ke d**a.
Menyadari sikap Dandy yang berlebihan, Dinda berdeham, “Berapa menurutmu?”
Dandy kembali memandang wajah Dinda. “Bassam … sepuluh tahun, jadi Ibu tiga puluh tahun?”
“Hahaha, Dandy, kamu bercanda.” Dinda tidak habis pikir dengan tebakan Dandy, mengira dirinya yang berusia tiga puluh tahun.
“Dua puluh delapan?”
“Hei!”
Dandy terkesima melihat Dinda. “Berapa, Bu?”
“Empat puluh … dua.”
“Sh*t.”
Dinda refleks menepuk mulut Dandy, tidak suka dengan kata kasar yang keluar dari mulutnya. “Astaga, maaf, Dandy,” ucap Dinda, menyadari sikapnya yang agak berlebihan.
“Nggak, nggak apa-apa, Bu.” Dandy menatap tajam wajah Dinda dan tersenyum menyeringai. “Tapi, Ibu nggak terlihat seusia itu.”
Dinda mendengus tersenyum, mungkin karena dia yang rajin mengolah tubuh dan merawat diri, dia jadi terlihat lebih muda. Bukan Dandy saja yang berpendapat seperti itu tapi juga dari rekan kerjanya.
Dandy menerima panggilan, tapi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan.
“Siapa?” tanya Dinda yang malah ingin tahu.
“Mama.” Dandy berdecak kecil.
“Oiya, kamu punya saudara? Adik atau kakak?” tanya Dinda, ingin tahu tentang keluarga Dandy. Sejak Fauzan menikah dengan Rida, Dinda tidak mau tahu tentang Fauzan, bahkan memutus kontak. Lalu tiba-tiba saja Dandy muncul di rumahnya setelah sekian lama, tapi dengan suasana yang sangat berbeda, dan ... menyenangkan.
“Nggak, aku … anak satu-satunya,” jawab Dandy pelan.
“Oh, jadi mama kamu sendiri di rumah?”
“Ada kakaknya mama ... tante Rina.”
“Oh.” Dinda juga mengenal Rina, kakak tertua Rida. Ternyata Rina tinggal bersama Rida, dan mereka yang memang cukup dekat.
“Kamu dekat dengan mendiang papamu, Dandy?” tanya Dinda pelan, hati-hati.
Dandy mendengus tersenyum. “Aku harus merokok kalo bicara soal papa, Dinda.”
Dinda tersentak, disertai desiran hebat di dalam d**a, karena Dandy yang sepertinya mengubah cara bicaranya, lebih akrab, dan dia yang merasa lebih dekat.
“Ada apa? Kok kaget?” tanya Dandy, seolah tidak ada apa-apa.
Dinda mencebik dan mengangkat kedua bahunya.
“Kamu nggak nyaman aku panggil Dinda saja? Nggak apa-apa, ‘kan? Seharusnya senang karena aku menganggap kamu seusia,” ujar Dandy.
Dinda dengan cepat berpikir bahwa Dandy adalah anak yang tengil, tapi santai. Entah kenapa dia diam-diam menyukai perubahan sikap Dandy saat berbicara dengannya. Dia mengangguk dan tersenyum kecil, “Ya, ide bagus,” ucapnya.
Ponsel Dandy berbunyi lagi, dan dia berdecak sebal.
“Terima dong, Dan. Mama kamu lo. Baru kehilangan suami tercinta, pasti butuh kamu,” ujar Dinda lembut.
Dandy menoleh ke Dinda sesaat sebelum menerima panggilan mamanya. “Halo, Ma.”
“Dandy, kamu di mana? Ada Corrie di rumah.”
“Aku sedang konsultasi dengan dosen, Ma.”
“Dia nunggu satu jam lo. Kamu Mama telfon-telfon nggak diangkat.”
“Kan lagi ngobrol sama pembimbing.”
“Ck, kamu sudah selesai, ‘kan? Dia mau ketemu kamu.”
“Iya, sebentar lagi.”
Entah kenapa Dinda mendadak gelisah melihat gelagat Dandy yang bersiap-siap pulang. “Pulang?”
“Ya, ada Corrie di rumah.”
“Corrie?”
“Eks.”
“Oh.” Dinda mengulum senyumnya, Dandy benar-benar pemain. “Edith tahu?”
“Entahlah.”
“Dikasih tau dong, nanti bermasalah.”
“Aku ke sini juga nggak kasih tau Edith.”
“Biar Ibu yang cerita ke dia.”
Dandy memandang malas wajah Dinda, sepertinya dia tidak suka Dinda yang cepu.
Dinda mengerti dan mengangkat kedua tangannya. “Oke, Ibu nggak akan bilang.”
Dandy berdiri, sekilas dia menoleh ke ruang tengah.
“Oh.” Dinda ikut menoleh ke ruang tengah, dia mengerti Dandy yang ingin berpamitan dengan Bassam. Dia melangkah cepat menuju ruang tengah. Dia tersenyum kecil, dan menoleh ke Dandy. “Dia tidur.”
“Oh, baik.”
Dinda mengekor Dandy yang sudah berjalan menuju pintu depan dan ke luar. Melihat punggung besar Dandy mengingatkan Dinda akan Fauzan beberapa tahun silam. Dia berpacaran dengan Fauzan saat seumuran Dandy sekarang. Lama-lama Dandy terlihat sangat mirip mendiang papanya.
Dandy sudah duduk di depan setir dengan kaca terbuka, dan Dinda berdiri di luar mobil.
“Hati-hati di jalan, jangan ngebut.”
“Ya.”
“Jangan merokok.”
Dandy terdiam, menatap Dinda lamat-lamat. Dia berdehem, “Din, jangan sebut dirimu Ibu di depanku. Aku nggak nyaman,” ujarnya.
Dinda mendelik, tapi dua detik kemudian dia tertawa dan mengangguk, mengerti apa yang dimaksud Dandy.
“Aku boleh main-main ke sini tanpa harus izin?” tanya Dandy lagi.
“Ya, boleh. Datang saja.”
“Aku senang kamu yang janda, Din. Jadi nggak ada yang melarang.”
“Haha, Dandy. Kamu konyol!”
“Ya.” Dandy menyalakan mesin mobilnya dan tatapannya tajam ke wajah Dinda.
Lagi-lagi Dinda tersipu dan mengalihkan pandangannya. Anak ini benar-benar tengil, batinnya.
“Oiya, boleh aku punya nomormu?” tanya Dandy, meraih ponsel dari sakunya.
“Kamu bisa tanya Edith.”
“Kenapa harus tanya Edith, yang punya nomor di depanku sekarang.”
Dinda tidak ingin berdebat dengan anak tengil ini, dia mengulurkan tangannya ke hadapan Dandy dan Dandy langsung menyerahkan ponselnya, sambil terus menatap wajah cantik Dinda.
Dinda mengetik nomornya di layar ponsel Dandy dan menulis namanya.
“Oke, jadi aku bisa bebas mengganggumu.”
“Haha, Dandy. Ya, tapi jangan kesal kalo aku nggak balas panggilan atau pesanmu.”
“Aku bisa langsung datang ke rumah ini,” ujar Dandy dengan kedipan matanya.
Dinda mundur dari mobil Dandy, “Hati-hati,” ucapnya lagi, membiarkan Dandy memundurkan mobilnya dan pergi.
Dinda gamang melihat kepergian mobil Dandy dari rumahnya, berharap Dandy datang berkunjung lagi.
Bersambung