Dinda baru saja bersiap-siap tidur, rebah di atas kasur empuknya, memainkan ponselnya, memeriksa email yang masuk.
“Safiq, hai. Ah, syukurlah, dana penelitian kita akhirnya cair bulan depan. Haha,” ujar Dinda melalui ponsel, dia menghubungi Safiq, rekan kerja sekaligus anggota tim penelitian. Tadinya dia mendapat kabar bahwa dana penelitian akan cair tahun depan, tapi dia baru saja mendapat pemberitahuan tentang perubahan jadwal dana penelitian.
“Iya, Bu Dinda. Ini juga berkat tim Reyna. Reyna, ‘kan dekat dengan bu Feli dan dialah yang mendesak bu Felisha untuk segera mengurus dana penelitian dari pusat.”
“Oh, aku kurang begitu kenal Reyna.”
“Iya, dengar-dengar mereka berdua itu kongkalikong lo. Penelitian Reyna itu biasa saja. Kok proposalnya bisa lulus, masa poinnya bisa mengalahkan tim Andra.”
“Haha, jangan berprasangka begitu, Fiq. Aku cukup kenal Feli lo.”
“Reyna itu lakinya kaya raya, Bu. Penguasa Tamawijaya. Seharusnya dia nggak perlu ambil jatah orang.”
“Safiq Safiq, itu namanya sudah rezeki.”
“Rezeki sih rezeki, Bu Dinda. Ini si Andra juga, istri anak donatur besar di kampus, malah ikut-ikutan daftar.”
“Tapi proposalnya kalah poin, ‘kan?”
“Iya sih.”
“Itu artinya Feli tetap fair.”
Terdengar gumaman dari ujung sana, sepertinya Safiq masih mencari alasan menyalahkan tim peneliti lain yang diketuai dosen yang bernama Reyna, yang memiliki kedekatan dengan salah satu pejabat kampus.. “Ck, bener juga. Hm … lebih baik kita fokus pada penelitian masing-masing dan nggak ngurusin tim lain.”
“Itu Safiq namanya.”
“Oke, Bu Dinda. Sampai jumpa besok, aku siap diperintah Paduka Adinda Gistara.”
Dinda tertawa lepas mendengar kata-kata Safiq dan dia pun pamit.
Baru saja panggilan berakhir, ponsel Dinda berbunyi. Dinda kaget, Dandy mengirim sebuah pesan untuknya.
Dandy : Pacaran ya? Kok sibuk terus?
Mengingat sikap tengilnya, Dinda memilih untuk tidak membalas pesan Dandy. Sepertinya Dandy semakin kurang ajar dan tidak menghormatinya sebagai tenaga pengajar. Anak itu semakin didekati, malah berbuat sesuka hati.
Dinda mematikan ponselnya, meletakkannya di nakas di samping tempat tidurnya dan memejamkan mata.
***
Pagi yang ceria bagi Dinda karena Bassam yang tampaknya bersemangat. Anak itu bangun lebih pagi dan sarapan yang cukup banyak.
“Kak Dandy tadi kirim pesan, Ma,” ujar Bassam, duduk di teras menunggu mobil jemputan.
“Hei, Mama sudah ingatkan kamu nggak boleh main gim di hari-hari sekolah,” balas Dinda.
“Tapi dia maksa.”
Dinda berdecak sebal, Dandy memang keterlaluan. “Apa kata kak Dandy?” tanyanya, melunak.
“Dia bilang mau datang lagi ke rumah sore ini.”
Bukannya senang, kali ini Dinda malah gelisah. “Oke. Tapi kamu jangan lama-lama mainnya ya?”
Bassam mengangguk patuh.
Tak lama kemudian, sebuah mobil van berhenti dan terdengar bunyi klakson. Bassam mencium punggung tangan mamanya penuh hikmad dan Dinda juga memeluknya erat sebelum dia berlari menuju mobil.
Dinda menghela napas lega melihat kepergian Bassam ke sekolah dan gilirannya bersiap-siap ke kampus.
***
Dinda langsung mengajar di kelas saat tiba di kampus, dan dia mengajar kelas Edith. Karena pagi ini sedikit gerimis, ada beberapa mahasiswa yang terlambat, termasuk Edith.
Dinda bukan dosen yang galak, tetap menerima mahasiswa yang datang terlambat dan dia yang terus mengajar hingga jam mengajarnya usai.
“Hai, Edith. Bagaimana dengan bab empatmu?” tanya Dinda saat Edith datang menemuinya dan menyapa.
“Sudah selesai, Bu. Hm, maaf, Bu, mungkin ini berlebihan, apa saya boleh menyelesaikan tugas mata kuliah Ibu lebih awal?”
“Oh, tentu saja boleh, Edith. Saya akan usahakan mata kuliah ini selesai dan kamu bisa fokus skripsi.”
Edith tersenyum lebar dan bersemangat, dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasihnya.
Edith ke luar kelas, dan Dinda melihat Dandy yang ternyata menunggu di luar. Dinda sengaja memperlambat ke luar kelas, tidak ingin berjumpa anak tengil itu. Dia pura-pura sibuk menyusun buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas, dan dia yang sebenarnya menyadari bahwa Dandy yang diam-diam memperhatikannya. “Pengecut juga di depan pacar,” batin Dinda, mengingat tengilnya Dandy di rumahnya kemarin.
Dinda sudah siap ke luar kelas, dan sepertinya Dandy dan Edith juga sudah pergi.
“Halo, Tracy. Kamu di kantor?”
“Iya, Bu. Ibu di mana?”
“Baru selesai ngajar. Aku ke kantormu ya? Mau ngobrolin tentang penelitian.”
“Oh, siap, Bu!”
Dinda memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya dan berjalan cepat menuju kantor Tracy. Mengingat Dandy yang berniat datang lagi ke rumahnya menemui Bassam, Dinda berencana fokus mengerjakan penelitiannya di kantor hingga sore. Lagi pula keperluan Bassam sudah terpenuhi dan ada jadwal kehadiran asisten rumah tangganya sore sampai malam.
***
Dinda lega karena target laporan penelitiannya sore ini tercapai, dia dibantu Safiq dan Tracy, juga dua staff yang bertugas di kampus. Sore itu menunjukkan pukul enam dan Dinda yang memutuskan pulang, yakin Dandy juga pasti sudah pulang dari rumahnya.
“Halo, Bassam.”
“Iya, Din.”
Wajah Dinda masam mendengar suara Dandy. Menenangkan diri, dia bertanya. “Dandy, mana Bassam?”
“Dia sedang mengerjakan PR Matematika, sama … Mita.”
“Oh, oke.”
“Dia juga sudah makan.”
“Oke.”
“Kamu di mana?”
Dinda tidak menyukai situasinya.
“Sama pacar ya?” tanya Dandy di ujung sana, dan suaranya terdengar mengintimidasi.
“Dandy, itu bukan urusanmu,”desis Dinda, jengah akan sikap Dandy yang keterlaluan.
Panggilan diakhiri sepihak dan Dinda yang dilemma, hendak pulang tapi ada Dandy dan dia yang sebenarnya ingin menghindar. Menunda pulang, dia khawatir akan Bassam.
Dinda akhirnya memutuskan langsung pulang ke rumah.
***
Dinda berdecak sebal, melihat mobil jeep hitam di dalam pekarangan rumahnya dan dia yang tentu saja kesulitan memasukkan mobil ke dalam garasi rumahnya. Mau tidak mau dia harus memarkirkan mobil di luar pagar.
Dinda berjalan memasuki halaman rumah dengan perasaan jengah dan kesal. Untung saja dia sudah menyelesaikan laporan penelitian, sehingga dia bisa mengatur emosinya saat bertemu Dandy nanti.
Duduk di bangku teras depan, Dinda melepas sepatunya.
“Mana kunci mobilmu?”
Dinda terkejut, menoleh ke Dandy di sisi pintu. “Buat apa?”
“Aku bantu masukkan mobilmu ke garasi,” ujar Dandy.
Dinda melepas kaus kaki dari kakinya, menghela napas pendek, “Nggak perlu, Dan. Saya bisa melakukannya. Kamu nggak perlu repot-repot.”
“Aku mau tidur di sini.”
Dinda menoleh lagi ke Dandy, “Kamu sebaiknya pulang, kamu tidak boleh tidur di rumah saya,” tegasnya dan berdiri dengan kesal.
Dandy mencekal lengan Dinda. “Mana kunci mobilmu?”
“Apa-apaan kamu ini, Dandy?” desis Dinda tertahan. “Kamu pulang dan ini bukan tempat tinggal kamu!” dia menepis tangan Dandy yang mencekal lengannya, menghentaknya.
Dandy diam, menatap wajah Dinda yang marah.
“Ke luar kamu!” usir Dinda, dia masuk dan menutup pintu rumah dan menguncinya.
Bersambung