Takut, khawatir, cemas bercampur aduk, dan perasaan Dinda menggigil seketika saat Dandy mendekap kedua bahunya seraya menatap tajam. “Dandy, pergi kataku,” desis Dinda, matanya menghangat dan berkaca-kaca. “Aku tau semuanya.” Dinda menatap Dandy tidak percaya. “Pergi. Aku kacau nanti. Aku mohon.” Dia tertunduk dalam-dalam, mengingat kepedihan yang dia rasakan di masa lalu. “Aku nggak mau terjadi lagi, aku nggak mau membuat kekecewaan.” “Aku tidak akan pergi.” Dinda menggeleng. “Dandy, jangan kecewakan mamamu, keluargamu … kamu kebanggaan mereka. Jauhi aku—” “Aku bukan Fauzan.” “Dandy,” desah Dinda lirih tak berdaya. “Aku bukan Fauzan, Dinda!” tegas Dandy. Dinda terisak, memukul lemah d**a Dandy. “Kamu nggak ngerti. Aku nggak mau mamamu kecewa. Pergilah.” “Kamu tau aku anak Fau

