Entah kenapa kedatangan Dandy sekarang malah membuat Dinda kurang bersemangat dan resah. Dia sudah tenang saat tidak lagi berkomunikasi dengan anak mantan kekasihnya itu. Sudah ada beberapa rencana, bahkan tahun depan akan ikut program fellowship di negara tetangga selama enam bulan. Dinda tidak lagi memikirkan asmara, fokus ke pekerjaan dan Bassam. Terlebih, Dandy berkaitan dengan masa lalunya yang buruk, dan dia yang mau tidak mau teringat lagi masa-masa sulitnya. “Dandy?” Dinda yang lagi-lagi terkejut, Dandy yang sudah berdiri di depan kamarnya, dan melangkah masuk. “Bassam—” “Dia di kamar. Ada tugas dari sekolah yang harus dia selesaikan.” Dinda berdecak kecil, membiarkan Dandy duduk di tepi tempat tidurnya yang sempit. “Kasurmu berubah, mana kasurmu yang lama?” tanya Dandy, dala

