Malam itu gelap, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu jalan di luar rumah sewaan. Alena dan Rendi baru saja selesai makan malam sederhana. Suasana yang biasanya hangat kini terasa tegang karena telepon misterius beberapa jam sebelumnya. Seorang pria tidak dikenal menelpon Rendi, hanya meninggalkan pesan singkat: "Kalian pikir aman? Kita tahu tentang masa lalumu. Tunggu saja." Rendi memeriksa pintu dan jendela, memastikan semuanya terkunci. Ia menatap Alena, matanya serius. “Alena… kita harus bersiap. Ini bukan ancaman kosong. Mereka tahu kita ada di sini.” Alena merasakan ketegangan di dadanya, tetapi kali ini rasa takutnya berbeda. Ia tahu Rendi di sisinya, dan bersama-sama mereka akan menghadapi apapun. “Baik. Kita hadapi bersama,” ucapnya tegas, menegaskan tekadnya pada dirinya

