Pagi itu, langit masih mendung, menyisakan aroma hujan semalam yang basah dan segar. Alena sedang menyiapkan sarapan sederhana, ketika suara ketukan keras di pintu membuatnya terkejut. Rendi, yang sedang memeriksa dokumen di ruang tamu, langsung menegakkan tubuhnya dan berjalan cepat ke pintu. Dari balik kaca, tampak dua pria berpakaian gelap berdiri di halaman. Pandangan mereka dingin, langkah mereka pasti. Rendi menatap Alena sekejap, lalu berkata dengan tegas, “Jangan bergerak. Tetap di belakangku.” Alena menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu, ini bukan kebetulan. Ancaman dari masa lalu—mungkin Cindy atau pihak lain yang ingin mengacaukan mereka—telah muncul kembali. Namun kini berbeda; Alena tidak lagi sendirian atau rapuh. Di sisinya ada Rendi, pria yang selama berbula

