Keesokan paginya, Alena terbangun oleh suara langkah berat dan desahan dari lorong luar kamar. Mata masih setengah terpejam, ia duduk perlahan di tepi ranjang, menyadari suasana rumah terasa berbeda — lebih tegang, lebih penuh kewaspadaan. Saat menoleh ke jendela, pandangannya langsung menangkap beberapa sosok berpakaian rapi dengan wajah serius bergerak di halaman dan dekat pintu masuk. Mereka membawa radio komunikasi, beberapa tampak memeriksa setiap sudut halaman. Alena menyipitkan mata, jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia bergegas turun dari ranjang dan menatap sekeliling kamar. Semuanya tampak normal, tapi ada sesuatu yang berbeda di udara — tegang, waspada. “Kenapa ada… orang sebanyak ini di rumah?” gumamnya pelan, ragu-ragu, suaranya hampir tak terdengar. Tak lama kemudian

