“Ya!” Cindy menatapnya tajam. “Kau pikir dia menikah denganmu karena cinta? Tidak! Karena tekanan! Tapi setelah aku hamil, dia akhirnya bertanggung jawab dan menikahiku juga. Jadi sekarang, aku—” ia menegakkan dagu, “—adalah istri keduanya.” Ruangan terasa membeku. Wajah Alena pucat. Matanya melebar, menatap Cindy seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Kau… apa yang kau katakan barusan?” Cindy tersenyum sinis. “Kau dengar jelas, kan? Aku bukan datang untuk mengemis. Aku istri sah—yang kedua. Dan kalau kau pikir kau bisa pura-pura lupa biar Rendi tetap di sisimu, kau salah besar.” “Cukup, Bu!” suara Bi Rukmi tiba-tiba meninggi. Wajahnya memucat, tapi ia nekat berdiri di depan Cindy. “Jangan bicara macam-macam di rumah ini!” “Aku hanya bicara jujur!” balas Cindy sengit. “Kena

