Dewa berada di ruangan di mana Dyra dirawat. Ia bahkan tidak membiarkan siapa pun masuk ke sana tanpa seijinnya, termasuk Dokter yang akan memeriksa Dyra, diwajibkan harus Dokter perempuan. "Kamu enggak ke Kantor?" Tanya Dyra, baru saja Dokter yang merawatnya keluar. Dewa terus saja menempel, seperti isolasi. Membuat Dyra susah gerak. "Kamu kalau ditinggalin, bahaya!" Jawab Dewa, mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut. Ia tidak akan pernah lupa bagaimana percakapannya dengan Tedy, kemarin. "Kamu enggak mau berhenti kerja sayang?" "Berhenti?" Dewa mengangguk. "Iya, berhenti." "Enggak bisa lah, aku udah kuliah bertahun - tahun, eh, malah berhenti dan jadi pengangguran. Kan sayang banget." Dewa terdiam. "Kamu tahu, jadi Dokter itu, adalah impian aku. Kamu gak akan lupa baga

