"Apakah kau melamun?"
"Baiklah. Sekarang aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu." Kata Gavriel.
"Kau ingin tau kisahku? Kisah seorang gadis yang terlantar." Katanya terkekeh menyembunyikan kesedihan hatinya.
"Ibuku, meninggal terkena serangan jantung, karena mengetahui ayahku menikahi wanita lain. Dia meninggalkan Canada, dan kami."
"Itu membuatku harus putus sekolah, dan hidup sendiri membuat aku sadar bahwa hidup itu sangat keras. Sangat susah mencari nafkah bagi yang berpendidikan kurang."
Gavriel mendengarkan dengan hati yang pedih, namun ia hanya diam. Menghela napas panjang.
"Sampai suatu malam, 7 bulan yang lalu, aku. Aku diperkosa di jalanan menuju rumahku. Di saat aku pulang dari pekerjaanku hari itu." Air mata mulai menetes di pelupuk matanya.
Gavriel bangkit dari kursinya, memeluk Loretta yang tetap duduk di kursinya untuk meredakan tangisnya.
"Tidak apa Loretta, menangislah. Tangisan itu akan membasuh lukamu. Setelah itu bangkitlah. Jangan terus terpuruk dalam kesedihanmu." Bisik Gavriel menenangkan.
Tangis Loretta berangsur mereda. "Gina, teman baik ibuku. Aku bertemu dia kemudian. Dia menampungku bekerja di kafenya. Wanita yang sangat baik. Aku sangat beruntung bertemu dengannya." Loretta tersenyum betapa mengingat pertemuannya denga Gina.
Gavriel duduk kembali ke kursinya. Menikmati makanannya yang belum sempat di sentuhnya.
"Kejadian malam itu hanya ingin aku kubur dalam-dalam. Tapi ternyata tak bisa. Bayi ini tertanam dalam rahimku." Katanya kemudian.
"Lantas, apa yang akan kau lakukan dengannya?" Kata Gavriel.
"Aku akan membesarkannya."
"Kau?"
"Ya. Tak mungkin aku menggugurkan anakku sendiri. Itu dosa."
"Tapi di usiamu? Apa kau mampu?"
"Harus. Aku harus mampu. Gina mengatakan dia akan mendukungku apapun pilihanku. Sebagai temanku, apa kau mendukungku?"
Gavriel terkejut mendengar pertanyaan itu ditujukan kepadanya.
"Eh ya... Apa kau tak berpikir untuk mencari seorang ayah baginya?"
Loretta terkekeh.
"Sudah. Aku tak ingin mencari yang seperti itu lagi. Laki-laki benar-benar mengerikan."
Gavriel bernapas lega. Dia ikut tertawa. Kemudian bertanya kembali, "Loretta, apakah bagimu aku bukan laki-laki?"
Loretta terkejut atas pertanyaan itu. "Ah, maksudku kamu memang berbeda." Jawabnya sambil tersipu malu.
Mereka menghabiskan makanannya sebelum keluar dari tempat itu.
Hari menjelang malam, ketika mobil Gavriel dipacu dijalanan beraspal menuju daerah perbukitan. Dan tiba-tiba berhenti.
Tampak pemandangan yang sangat indah. Berkerlip lampu di bawah sana, dan bintang di atas langit.
"Indah bukan." Katanya.
Mereka turun dari mobil. Menikmati pemandangan indah itu. Gavriel mengeluarkan beberapa kaleng minuman soda dan kudapan. Menaruhnya di atas kap mobil tempat mereka menyandarkan tubuhnya.
Gavriel memandang wajah Loretta yang sedang berdiri di sampingnya. Wajahnya begitu sendu. Angin menerpa rambutnya yang panjang terurai. Dia tetap cantik. Dia memang cantik.
Tangan Gavriel menggenggam tangan Loretta. Loretta menoleh padanya, "Jangan cemas Loretta, semua akan baik-baik saja. Aku janji." Gavriel mencium punggung tangan Loretta.
"Apa kau rutin memeriksakan kehamilanmu, Loretta?" Kata Gavriel dalam perjalanan pulang.
"Selama ini aku baik-baik saja. Aku tidak merasa itu perlu."
"Baiklah, aku akan mendaftarkanmu dan mendampingimu besok. Kau harus memeriksakannya. Kau salah kalau menganggap itu tidak penting."
Loretta menoleh padanya. Melihat raut wajah Gavriel yang sangat serius dia tak menolak ataupun membantah. Loretta hanya diam.
...
"Loretta Asher!" Perawat itu memanggil namanya.
Gavriel menggenggam tangannya, berjalan menuju ruang periksa dr. Fabio.
"Selamat malam, ibu. Wah, usia yang sangat muda untuk hamil. Baiklah mari saya periksa, ibu." Dokter muda itu tersenyum ramah.
Dokter Fabio mengoles cream sebelum kemudian menempelkan sebuah alat di perut Loretta. Terlihat gambar yang bergerak di dalam layar plasma di hadapan Loretta.
"Nah itu bayi ibu. Melihat ukuran lingkar kepala, oke. Diameter otak, oke. Ini bentuk wajahnya, kaki dan tangan semuanya sesuai, ibu. Bayinya perempuan. Dan semuanya, puji Tuhan, sehat!" Kata dokter Fabio.
"Hari perkiraan lahir 87 hari ke depan." Lanjutnya.
"Bayi perempuan, dok?"
"Sempurna, bapak dan ibu sudah boleh mulai mencari nama bagi bayinya." Kata dokter muda itu menggoda.
Loretta melirik Gavriel merasa tak nyaman. Tapi reaksi Gavriel diluar sangkanya. "Baik dok. Kami pasti mulai merencanakan suatu nama yang indah baginya. Karena nama adalah sebuah doa dari orangtua bagi anaknya."
'Ah, Gavriel begitu baik sekali. Dia tak ingin aku malu sebagai single parent!' Kata hati Loretta. Dia hanya mengiyakan dengan senyumannya.
Setelah berpamitan dan menjadwal untuk kunjungan berikutnya, Gavriel menggandeng tangan Loretta keluar menuju koridor sampai ke dalam mobilnya.
"Kau begitu baik padaku, apakah tak akan menjadi bumerang bagimu?" Tanya Loretta dalam perjalanan pulang.
"Tak apa Loretta. Setidaknya aku orang pertama yang tahu, bahwa bayimu adalah perempuan." Katanya sambil terkekeh.
"Jangan lupa meminum vitamin, supaya bayimu tumbuh sehat." Kata Gavriel sewaktu menurunkannya di depan rumahnya.
...
"Selamat pagi, benarkah disini membutuhkan karyawati?"
Seorang wanita berambut pendek berwarna hitam dengan wajah asia masuk ke dalam kafe. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak dan rok pendek ketat.
"Ah ya, benar," kata Gina.
"Apa kau yang hendak bekerja?", tanya Gina.
"Ya."
"Bisa kulihat pengenalmu?"
Gadis itu menyodorkan pengenalnya. Sebuah visa!
"Susan Lee. Ok. Seorang imigran. Ya, kalau begitu aku hanya bisa merekrutmu sebagai part time saja. Tidak masalah kan buatmu?"
"Yah. Tidak masalah. Tak akan lama bagiku untuk menjadi warga negara." Katanya.
"Baiklah. Kapan kau bersedia mulai bekerja? Apa kau siap hari ini?"
"Siap. Sekarang apa tugasku?", tanya Susan.
"Kau bisa membantu Loretta menghantar pesanan, membersihkan meja sementara ini. Sebentar lagi biasanya kafe akan ramai pengunjung. Pakailah apron yang ada di sana dan bersiaplah!", kata Gina sambil menunjuk ke arah tempat bergantungnya beberapa apron.
Susan segera memakai apronnya. Dan benar, tak berapa lama kemudian pengunjung mulai berdatangan.
Susan seorang yang supel. Dengan cepat dia meraih perhatian dari pengunjung. Susan suka bernyanyi dan suaranya sangat merdu. Dia menyajikan pesanan sambil bernyanyikan hampir semua lagu yang terdengar dari pengeras suara kafe. Dia menerima banyak tips dari pengunjung karena mereka menghargai suaranya.
Loretta juga menyukai Susan. Benar-benar gadis yang ceria. Susan banyak bercerita tentang negaranya. Tentang budayanya, kepercayaannya. Tentang ibu dan ayahnya yang telah tiada dan betapa dia telah menjual semua peninggalannya untuk kemudian datang ke kota ini. Melupakan segalanya dan memulai dari awal. Benar-benar gadis yang ramah.
Loretta berharap Susan betah bekerja di kafe.
Jam 4 sore seperti biasanya, Gavriel datang. Menyapa Loretta dan duduk di sudut ruangan kafe. Loretta menyeduh americano untuknya dan diantar oleh Susan. Seperti halnya pengunjung yang lain, Gavriel terpukau oleh suara dan keramahan Susan. Gavriel memberikannya tips dan sebuah senyuman. Gavriel tak pernah menyangka apa yang akan terjadi.
Saat itu Susan sedang menyanyikan lagu "Fallin' All In You" dari Shawn Mendez yang terdengar dari pengeras suara kafe. Matanya tak lepas dari Gavriel seolah-olah lagu itu nyata ditujukan padanya.
...
"Fallin' All In You"
Sunrise with you on my chest
No blinds in the place where I live
Daybreak open your eyes
'Cause this was only ever meant to be for one night
Still, we're changing our minds here
Be yours, be my dear
So close with you on my lips
Touch noses, feeling your breath
Push your heart and pull away, yeah
Be my summer in a winter day love
I can't see one thing wrong
Between the both of us
Be mine, be mine, yeah
Anytime, anytime
Ooh, you know I've been alone for quite a while, haven't I
I thought I knew it all
Found love but I was wrong
More times than enough
But since you came along
I'm thinking, baby
You are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath
I'm free
Falling all in you
Fell for men who weren't how they appear
Trapped up on a tightrope now we're here
We're free
Falling all in you
Fast forward a couple years, yeah
Grown up in the place that we live
Make love, then we fight
Laugh 'cause it was only meant to be for one night baby
I guess we can't control
What's just not up to us
Be mine, be mine, yeah
Anytime, anytime
Ooh, you know I've been alone for quite a while, haven't I
I thought I knew it all
Found love but I was wrong
More times than enough
But since you came along
I'm thinking, baby
You are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath
I'm free
Falling all in you
Fell for men who weren't how they appear
Trapped up on a tightrope now we're here
We're free
Falling all in you
Every time I see you baby I get lost
If I'm dreaming, baby, please don't wake me up
Every night I'm with you I fall more in love
Now I'm laying by your side
Everything feels right since you came along
I'm thinking baby
You, yeah, are bringing out a different kind of me
There's no safety net that's underneath
I'm free
Falling all in you
Fell for men who weren't how they appear (Ooh)
Trapped up on a tightrope now we're here
We're free
Falling all in