"Siapa gadis baru itu?", tanya Gavriel begitu melihat Loretta melintas.
"Namanya Susan. Gadis yang manis bukan?" Loretta terkekeh menggoda Gavriel yang penasaran.
"Suaranya bagus." Gavriel berkata serius.
"Dia imigran dari tiongkok. Entahlah. Dia menjual segala miliknya dan datang kemari."
Gavriel tersenyum pada Loretta lalu menyerahkan sebuah tas belanjaan.
"Apa ini?"
"Hadiah. Karena aku sudah mengetahui dia adalah bayi perempuan."
"Ah, itu masih 86 hari lagi. Waktu yang cukup lama."
"Tunggu, apa itu cukup lama bagimu? Tapi bagiku itu cukup cepat, Loretta. Kita harus segera bersiap siap."
"Kita?"
Gavriel tertawa, "Tentu saja. Apa aku harus tinggal diam, melihatmu bersantai. Dan melihat bayimu tak memakai segalanya dengan layak?"
Loretta tercengang. Gavriel seorang yang sangat perhatian!
Susan melihatnya dari kejauhan. Benar-benar sosok kekasih idaman. Lelaki yang tampan dan mapan! "Aku harus menjadikan dia suamiku. Dengan begitu, aku aman dari ancaman deportasi." Katanya dalam hati.
Hari itu berjalan dengan lancar. Susan berhasil menyimpan banyak uang tips dan gaji harian dari Gina. Dia menyewa sebuah kamar di dekat kafe. Sebuah kamar yang kecil, cukup menampungnya. Dia harus benar-benar berhemat.
Malam itu dia berpikir, bagaimana caranya agar dia berhasil mendapatkan Gavriel sebagai suaminya. Dia berpikir sangat keras, dan akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa obat di apotik dekat kamar sewanya.
...
Pagi itu berjalan seperti biasa, Loretta dan Susan mempersiapkan kafe, dan Gina membukanya.
Pengunjung kafe semakin hari semakin ramai. Mereka tertarik dengan berita yang terdengar belakangan, sehingga Dragonflies caffee mendadak menjadi tempat berkumpul favorit di kota itu.
Berita tentang pelayannya yang cantik, pelayannya yang bersuara merdu dan tiap sore menjelang ada seorang yang sangat tampan di sana. Ditambah lagi berita tentang wanita CEO Famous Garment yang bekerja di sana!
Susan seperti biasa, mengantarkan setiap pesanan ke meja pengunjung dengan keramahan dan suaranya yang merdu mengalun. Para pengunjung tak segan-segan memberikannya tips yang dibalas dengan senyuman terima kasih oleh Susan.
Dan seperti biasa, tepat pukul 4 sore, Gavriel muncul. Kembali Susan menghampirinya, menyajikan americanonya dengan diiringi sebuah lagu cinta. Gavriel tersenyum dan memberikannya tips. Kali ini Susan bukan hanya tersenyum, dia mengedipkan mata untuk Gavriel. Gavriel hanya tertawa menanggapinya.
Tiba-tiba Susan jatuh pingsan tepat di sampingnya. Dengan sigap, Gavriel menopangnya. Dia segera mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di sofa. Sementara begitu banyak pengunjung yang terkejut, dan beberapa mendekat untuk melihat.
Pakaian Susan terlalu terbuka. Kemejanya terlalu pendek sehingga bagian-bagian tubuhnya terlihat. Demikian pula dengan rok ketatnya. Gavriel jadi salah tingkah. Ah, dia juga seorang pria normal. Dia memberikan kode pada Loretta untuk mengambil alih situasi.
Tak berapa lama kemudian, Susan telah sadar. Dia telah kembali ceria, bernyanyi dan menebar senyum seperti semula.
"Hari ini dia telah menggendongku. Besok aku akan membawanya ke tempat tidur!", katanya dalam hati. Dia kembali mengedipkan mata pada Gavriel.
...
Keesokan harinya di Dragonflies caffee.
"Apa yang terjadi kemarin sore, jangan sampai terjadi lagi, Susan." Kata Gina.
"Kau harus menjaga kesehatanmu. Jangan membuat orang menjadi panik seperti kemarin. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku tidak sakit. Aku hanya menderita hipotensi. Begitulah yang terjadi saat tekanan darahku turun. Maaf jika aku membuat kalian cemas."
"Aku sudah lama mengalami hipotemia. Sangat sulit bagiku untuk mengubah pola makanku."
"Baiklah. Kau harus mengubah pola makanmu dan minumlah vitamin. Kau harus memikirkan kondisi tubuhmu juga, bukan hanya fokus dalam mencari penghasilan."
"Baik kak. Aku akan berusaha lebih menjaga kesehatanku."
"Sudah pergilah membantu Loretta kembali. Dia tidak boleh terlalu lelah."
Susan kembali bekerja, mengantar setiap pesanan dari meja ke meja sambil bernyanyi dengan wajah cerianya. Suara merdunya selalu membantunya memperoleh begitu banyak tips dari pengunjung.
Entah kenapa Loretta begitu senang dengan hadirnya Susan. Melihat sosok yang ceria, mengingatkan dirinya pada masa-masa sekolah dulu. Begitu banyak kawan mengelilinginya, begitu banyak teman yang mengaguminya. Teman pria maupun wanita. Sungguh menyenangkan. Tak terasa Loretta tersenyum.
Lamunannya berhenti, ketika seorang murid SMA berdiri di hadapannya, sambil mengulurkan selembar uang, "Kakak cantik, aku pesan cold caramel latte ya."
"Ok. Cold caramel latte. Ini kembalian dan silahkan di tunggu ya dik," katanya dengan pandai menutupi keterkejutannya.
Di sudut ruangan, Gavriel menatapnya. "Loretta, tersenyumlah. Aku suka melihatmu tersenyum."
Tiba-tiba Susan kembali jatuh pingsan di sebelah Gavriel. Gavriel kembali menggendongnya. Tapi kali ini berbeda. Susan segera tersadar. Menggenggam leher Gavriel. Dia mengerang, "Antarkan aku pulang," lalu kembali tak sadarkan diri.
Gavriel memandang pada Loretta, dan hanya dijawab dengan anggukan. Sebab Loretta dengan kondisinya juga tak mungkin memapah Susan ke rumah sewanya.
Gavriel terpaksa menggendongnya dan mengantarnya pulang. Gavriel menggendongnya sampai ke dalam kamarnya, tanpa menyadari bahwa itu adalah tipuan semata.
Susan terbaring di kamarnya, dengan pakaian yang terbuka di segala bagian. "Ah, mengapa wanita ini memakai pakaian yang sangat terbuka." Gavriel menutup bagian badannya dengan selimut yang terlipat di pinggir tempat tidur, ketika tiba-tiba tangannya ditarik oleh Susan.
Gavriel kehilangan keseimbangan dan ia jatuh menimpa gadis itu. Gavriel segera bangkit ketika menyadari bahwa bibirnya dan Susan telah bertemu.
"Baiklah, kau sudah bangun. Aku harus pergi." Dan dia langsung pergi meninggalkan Susan.
Susan tertawa terkekeh. "Selangkah lebih maju. Besok target harus ku kunci!"
...
Gina menyodorkan sebotol vitamin pada Susan. "Makanlah dan minumlah ini. Aku tidak ingin kau jatuh pingsan lagi hari ini."
"Ah, kak Gina kau sangat perhatian. Aku bakal betah bekerja bersama kalian di sini."
"Ya, ya. Tapi aku tidak akan betah jika karyawatiku setiap hari pjngsan di tengah pekerjaannya."
Susan terkekeh, "Siap kak. Hari ini aku tidak akan pingsan lagi."
Loretta hanya tersenyum melihat tingkah mereka dari meja ordernya. Ya, Gina memang seorang pemimpin sejati. Dia memang perhatian, menyayangi dan merawat semua anak buahnya.
Tapi Loretta tak pernah tahu, niat buruk dalam hati teman kerjanya itu.
Seperti biasa, Gavriel datang dan duduk di sudut ruangan. Loretta tersenyum padanya dan segera menyeduh americano untuknya. Susan segera mengantarnya. Tapi kali ini dia membubuhkan sesuatu dalam cangkirnya sebelum diantarkannya. Susan tetap bernyanyi dengan senyumnya dan menambahkan kedipan mata untuk Gavriel.
Gavriel masih merasa tidak enak dengan kejadian kemarin. Dia merasa bersalah tentang kejadian tidak di sengaja itu. Sehingga dia hanya membalas senyuman Susan dengan senyuman terpaksa.
Gavriel meneguk americanonya dengan perlahan. Tapi tak lama, dia merasa kepalanya terasa sangat sangat dan sangat berat. Tapi Gavriel masih bisa menberikan isyarat kepada Loretta.
Loretta mendekati Gavriel, ketika Gavriel berbisik, "Cari seorang sopir untuk mengantarku pulang. Kepalaku sangat sakit." Lalu Gavriel tak sadarkan diri.
"Aku. Biar aku saja yang antar dia, Loretta. Aku tak bisa meracik kopi. Aku akan antar dia dengan selamat." Kata Susan.
"Apa kau bisa mengemudi?" tanya Loretta.
"Ya, aku punya SIM di negaraku."
"Baiklah. Berhati-hatilah."
Tak lama kemudian mobil Mercedes sport itu telah melaju meninggalkan kafe. Susan tak tahu harus membawa Gavriel kemana. "Ah.. rencana kali ini harus berhasil. Aku harus tidur dengannya." Susan melihat ada sebuah hostel di jalan yang di lewatinya. Ya, dia akan membawanya ke sebuah hostel!