Terperangkap!

1026 Kata
Susan menyewa sebuah kamar di "Happyday Hostel" dengan menggunakan identitas Gavriel. Dia membaringkan tubuh Gavriel di ranjang. Kemudian mengambil serbuk putih dari dalam tasnya. "Dengan ini kau pasti akan menikahiku Gavriel." katanya lalu menuang serbuk putih itu ke dalam mulut Gavriel. Gavriel tersadar dan terbatuk karena adanya serbuk di dalam mulutnya. "Minumlah Gavriel." kata Susan menyodorkan segelas air putih pada nya. "Apa yang kau lakukan Susan. Dan ada dimana aku?" "Itu hanya obat untuk pusingmu, Gavriel. Kau minta diantar pulang, tapi aku tak tahu harus mengantarmu kemana." Entah kenapa tiba-tiba tubuh Gavriel menjadi panas - sangat panas, sehingga dia tanpa sadar melepas semua pakaiannya. Tubuhnya bergetar, kepalanya terasa pusing. Dia melihat Susan seolah Loretta. Lalu dipeluknya wanita pujaannya itu. "Loretta, kau cantik sekali. Kau adalah wanita paling cantik di dunia ini." Lalu Gavriel mencium Loretta yang berada di hadapannya. Gavriel melumat bibirnya, sehingga gadis itu tak dapat bernapas. "Ah Gavriel." "Loretta aku sangat mencintaimu." Gavriel terus melumat bibirnya, dan tangan-tangannya bergerak dengan liar meraba semua bagian tubuh gadis itu. Gavriel membuka pakaian gadis itu dengan begitu tergesa sehingga beberapa kancing terpental entah kemana. Dengan tak sabar dia memainkan kedua pu**ng gadis itu, hingga mengeras, menjilatnya, mengulumnya dengan rakus sementara tangannya telah sampai kebagian intimnya. "Ah... Loretta." bisiknya. "Kau benar-benar nikmat." Tangannya bergerak cepat dengan nakalnya. Susan meronta, tapi tak sanggup. Badan Gavriel terlalu kuat untuk dia lawan. Semakin dia melawan, semakin meningkat gairah Gavriel. Susan merasa pedih dalam hatinya. Dia ingin menjadi istri Gavriel, tapi sebaliknya dia tak ingin dianggap orang lain. Bukan dirinya! Tapi semua sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Ketika sang perkasa telah masuk merobek keperawanannya. Dia hanya bisa menangis. Menahan sakit di hatinya dan juga di bagian kewanitaannya. Sekarang apa yang harus dilakukannya. Dia hanya ingin mencari pasangan orang lokal, supaya ia tak perlu takut dengan status visanya. Dia ingin menikah hanya supaya tidak di deportasi. Tapi sekarang yang ada hanya penyesalan. Dia menciptakan sebuah perangkap, tapi sekarang dirinya sendirilah yang terperangkap! ... "Kring...!" Bunyi telepon hostel di pagi itu membangunkan mereka. Betapa kagetnya Gavriel melihat situasi yang terjadi. Susan yang terbaring di sebelahnya tanpa secuil pakaianpun. Diguncangnya tubuh wanita itu. "Susan. Apa yang terjadi?!" "Inilah yang terjadi, Gavriel. Kau tidak ingat apa yang kau perbuat semalam?" Gavriel menggeleng. Dia hanya mengingat Loretta. Tapi kemana dia. "Sudahlah. Mandi dan ayo kita pergi dari sini." Kata Susan sambil beranjak turun dari ranjang. Setelah mandi, Gavriel memacu kembali mobilnya di jalanan beraspal. Dipandangnya wajah Susan, tak lagi ceria seperti biasa. Gavriel memutuskan menghentikan mobilnya. Perlahan diparkirnya mobil sportnya itu di tepi jalan. Di bukanya sabuk pengamannya. Ditatapnya lekat-lekat gadis di sampingnya. "Susan. Kau menjebakku, bukan. Sebenarnya apa maumu?", tanya Gavriel. "Aku tak pernah menduga kau akan menjebakku. Karena aku selalu berpikir kau gadis baik dan menyenangkan." Susan menangis meraung, "Aku hanya tak ingin di deportasi." "Dan cara satu-satunya adalah dengan menikahi warga lokal." Gavriel terdiam, berpikir sebelum kemudian menjawab. "Tapi ini cara yang salah, Susan. Seharusnya kau menikah dengan orang yang kau cintai." "Kalau itu aku tak salah, Gavriel. Aku mencintaimu." "Tapi Susan" "Ya... tapi aku salah. Kau sudah mencintai Loretta. Aku tidak punya kesempatan atasmu." Gavriel menarik napas panjang, sebelum menghembuskannya. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Susan? Aku harus mengantarmu kemana? Ke kafe?" Susan menggeleng perlahan. "Aku terlalu malu untuk kembali." "Apa kau masih ingin aku menikahimu?" Susan kembali menggeleng, kali ini dia menangis. "Percuma menikah denganmu, jika dihatimu adalah wanita yang lain. Bukan aku!" "Lantas apa yang kau mau aku perbuat?" "Antar aku ke kamar sewa ku. Aku akan bersiap-siap mencari pekerjaan lain." Gavriel menarik napas panjang dN menghembuskannya kembali sambil memasang sabuk pengamannya. Kali ini mobilnya memiliki tujuan yang pasti : menghantarnya kembali ke jalan yang benar. ... Gina dan Loretta kalang kabut. Susan tidak kembali. Tidak ada kabar, dan pagi ini tidak datang bekerja. Ada apa ini! Tepat jam 10 siang itu, Gavriel muncul di kafe. Loretta menyambutnya dengan wajah kebingungan. "Gavriel. Apa yang sebenarnya terjadi? Penyakit apa yang kau derita? Lalu Susan. Dia kemarin yang mengantarmu pulang. Dia menghilang!" "Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi." "Ah. Benar-benar rumit. Bisa aku meminta hot americano dulu? Dan satu porsi sandwich tuna. Aku perlu sarapan." Loretta segera mempersiapkannya. Setelah beberapa saat, ia mengantar pesanan itu lalu duduk di kursi, di hadapan lelaki itu. "Sekarang katakan padaku, Gavriel." "Susan mengundurkan diri. Kau tak perlu mencari dia." Katanya sambil memotong tumpukan roti sandwich itu dengan garpu dan pisau di tangannya. Beberapa selada tercecer keluar bersama serpihan tuna dari dalam tumpukan roti itu. "Maaf. Gina harus benar-benar selektif dalam memilih pekerja. Aku adalah pihak yang dirugikan dalam hal ini." Lanjutnya. "Apa maksudmu Gavriel?", tiba-tiba Gina datang mendengar namanya di sebut-sebut. "Karena kemarin dia menculikku. Membawaku ke sebuah hostel. Dia mencekokiku dengan obat-obatan supaya aku menikahinya!" Gina dan Loretta terkejut. Mereka diam tak dapat berkata-kata. Gina memijit keningnya. "Tapi aku tak merasa dia seperti sedang terburu-buru menikah? Ada apa dengannya?", tanya Loretta. "Tanda pengenalnya adalah sebuah visa yang akan segera berakhir masanya, Loretta. Visanya akan segera kadaluarsa!" "Ah. Susan yang malang." Kata Loretta sedih. Dia sering mendengar cerita Susan, betapa hidup Susan sangat menderita. Kedua orangtua Susan telah tiada. Dia sama sebatangkara dengan dirinya. Loretta menatap Gavriel yang masih sibuk menghabiskan sandwichnya. Ah, tentu dia sangat lapar. "Loretta aku akan datang jam 5 nanti, setelah kau off. Kau perlu membeli perlengkapan dalam menyambut bayi kecilmu, bukan." Katanya setelah memasukkan potongan terakhir sandwich ke dalam mulutnya. "Ah. Kita tak harus terburu-buru," "Sekarang aku akan membenahi pekerjaanku. Karena pasti ayahku juga kebingungan mencariku, karena menghilang." Gavriel memotong perkataan Loretta. Dia menyesap kopi nya yang mulai menghangat dari cangkirnya. "Baiklah, hati-hati mengemudi." Kata Loretta mengantar kepergian Gavriel. "Ah Loretta, aku berpikir apa sebaiknya kita mencari karyawan pria saja? Dua karyawan wanita sudah membuat kepalaku mau pecah. Ah, sungguh malunya pada apa yang mereka perbuat pada Gavriel." Kata Gina. "Kak Gina, tentu saja karyawan pria akan lebih menguntungkan karena stamina mereka. Tetapi bukan setiap karyawan wanita itu membuat pusing, kak. Mereka mempunyai masalah mereka masing-masing. Dan belum tentu karyawan pria tidak mempunyai masalah kak." Loretta mengajukan pemikirannya. "Tetapi semua keputusan di tangan kakak." "Kakak mencari pegawai?" Seorang siswa laki-laki, pelajar SMU tiba-tiba berada di hadapan Gina dan Loretta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN