Bab 1 Hancur di Ujung Jalan
Hujan deras membasahi kota metropolitan yang tak pernah tidur, seolah ikut menangisi nasib seorang pria yang kini berdiri mematung di depan gerbang perumahan mewah. Di tangannya tergenggam sebuah amplop cokelat yang sudah sedikit lembap karena air hujan. Di dalamnya bukan uang, melainkan surat perceraian yang baru saja ditandatanganinya dengan tangan gemetar.
Nayan Wijaya, pria berusia 23 tahun itu menatap kosong ke arah jalanan yang basah. Tatapannya tajam namun menyimpan luka yang dalam. Tubuhnya yang kekar dan atletis terbalut kemeja kerja yang sudah kusam, bercampur noda debu dan oli khas pekerja lapangan. Wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas kini terlihat lelah dan pucat.
"Sudah selesai, Nay..." bisiknya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa keputusan ini adalah yang terbaik.
Baru saja ia pulang dari lokasi proyek, membawa gaji yang ia peroleh dengan keringat dan darah, berharap bisa membahagiakan istrinya, Tara. Namun, apa yang didapatnya? Hanya cacian, makian, dan tuntutan yang tak pernah habis. Bagi Tara, gaji Nayan sebagai mandor proyek kecil-kecilan itu tak sebanding dengan gaya hidup mewah yang ia inginkan. Tara merasa terhina hidup bersama pria yang hanya mengandalkan tenaga, padahal ia terbiasa hidup enak.
"Kamu itu tidak berguna, Nay! Lihat teman-temanku, suami mereka semua pejabat atau pengusaha kaya! Aku malu hidup sama kamu!"
"Gaji segini cuma cukup buat makan doang! Mau sampai kapan kita begini? Aku capek!"
Kalimat-kalimat pedas itu terus berputar di kepala Nayan. Hatinya perih. Ia sudah bekerja keras, bahkan sering mengambil lembur hingga larut malam demi memenuhi keinginan istrinya. Tapi rupanya, kesetiaan dan kerja kerasnya tak cukup untuk menahan wanita yang matanya hanya tertuju pada harta dan kemewahan semata.
Nayan menghela napas panjang, mengusap air hujan yang membasahi wajahnya. Ia tidak pulang ke kontrakan kecil yang selama ini ia tempati bersama Tara. Ia tak sanggup melihat barang-barang yang sudah kosong atau kenangan yang menyakitkan. Kakinya melangkah tanpa tujuan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bar yang cukup terkenal di kawasan Sudirman.
Suara musik keras dan aroma alkohol langsung menyambutnya. Nayan duduk di bar stool, memesan whiskey paling mahal yang ada di menu. Ia ingin melupakan segalanya. Ia ingin mematikan rasa sakit di dadanya untuk sesaat.
Cup!
Satu gelas kosong, berganti dengan gelas kedua, lalu ketiga. Kepalanya mulai terasa ringan, pandangannya sedikit kabur. Namun, kesedihan itu tak juga hilang. Ia teringat masa lalu, saat ia kecil ditemukan oleh sepasang suami istri paruh baya di depan rumah mereka. Mereka yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang hingga mereka berpulang. Nayan tidak tahu siapa orang tuanya yang sebenarnya. Ia hanya memiliki sebuah kalung giok berbentuk naga hijau yang selalu tergantung di lehernya sejak bayi. Kalung itu satu-satunya peninggalan yang ia punya, meski ia tak tahu arti sebenarnya di baliknya. Ia tak pernah menyangka bahwa kalung itu adalah kunci dari kekayaan dunia yang selama ini tak ia sadari. Bahwa sebenarnya, ia adalah pewaris tunggal dari keluarga terkaya di dunia yang dulu terpaksa menyembunyikannya demi keselamatan dari konflik kekuasaan dan musuh-musuh yang kuat.
"Hei, bro... lo nggak apa-apa?" tanya seorang bartender melihat Nayan yang sudah mulai mabuk berat.
Nayan hanya tersenyum pahit, "Aku baik-baik saja... cuma... baru jadi duda di umur 23..." tawanya pecah, terdengar getir.
Tanpa sadar, langkah kakinya sudah tak stabil saat ia memutuskan keluar mencari udara segar. Angin malam membuat kepalanya semakin pusing. Namun, di tengah kabut alkohol yang mengaburkan pandangannya, insting tajamnya tiba-tiba tersentak.
Di sebuah lorong gelap tak jauh dari situ, ia melihat keributan. Tiga pria dengan tato aneh di lengan mereka tampak sedang mendekati seorang wanita yang duduk di dalam mobil terbuka. Wanita itu terlihat lemah, matanya sayu dan tubuhnya limbung.
"Biarin aku... aku mau pulang..." suara wanita itu lemah, hampir tak terdengar.
"Sabar dong, Cantik... nanti juga kita antar ke 'bos besar'. Minum dulu sedikit, biar enak," kata salah satu pria itu dengan senyum menyeringai jahat.
Nayan menyadari ada yang tidak beres. Wanita itu jelas-jelas sedang dibius. Namun, yang membuat Nayan waspada adalah aura gelap yang terpancar dari ketiga pria itu. Mereka bukan preman biasa. Tanpa Nayan sadari, mereka adalah anggota tingkat rendah dari sebuah Sekte Kegelapan yang beroperasi secara tersembunyi di balik gemerlap kota. Mereka sering melakukan penculikan dan perdagangan manusia untuk kepentingan sekte mereka yang gelap. Malam ini, Risa adalah korbannya.
"Hei!" teriak Nayan dengan suara berat dan menggelegar meski sedikit terdengar pelat karena mabuk. "Lepaskan dia!"
Ketiga pria itu menoleh terkejut. "Woi, mabok ya lo?! Urus aja diri lo sendiri! Ini urusan Sekte Bayangan, jangan ikut campur kalau mau hidup!" salah satu dari mereka maju mencoba mendorong Nayan.
Namun, Nayan bukan orang sembarangan. Meski dalam pengaruh alkohol, tubuh kekarnya memiliki refleks yang luar biasa. Dengan gerakan cepat dan tegas, ia menangkis serangan itu, lalu satu pukulan keras tepat ke rahang pria tersebut. Bugh! Pria itu langsung terpelanting.
Dua lainnya mencoba menyerang, tapi Nayan dengan mudah melumpuhkan mereka dalam hitungan detik. Jurusnya luwes, kuat, dan mematikan—seperti seseorang yang sudah terlatih bela diri tingkat tinggi seumur hidupnya.
"Pergi kalian sebelum aku ubah pikiran!" desis Nayan dengan tatapan membunuh.
Ketiga pria itu ketakutan, namun sebelum kabur, salah satu dari mereka melirik tajam ke arah Nayan. "Kau berani menentang Sekte Bayangan?! Tunggu saja! Kami akan kembali membawa saudara-saudara kami yang jauh lebih kuat! Kau akan menyesal!" ancam mereka lalu kabur membawa teman mereka yang babak belur.
Nayan tidak peduli dengan ancaman itu saat itu juga. Fokusnya kini tertuju pada wanita yang terbaring lemah itu.
Ini adalah Risa Kartika. Wanita karir muda yang cerdas, cekatan, dan merupakan anak orang terkaya di kota. Ia sebenarnya diajak 'reuni' oleh teman-teman lama, namun dikhianati dan dijual kepada sekte tersebut.
"Pan... panas..." rintih Risa pelan. Tubuhnya terasa terbakar bukan hanya karena alkohol, tapi karena obat perangsang dosis tinggi yang sudah menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
Nayan panik. Ia tidak bisa membiarkan wanita ini sendirian. Dengan sisa kesadarannya, Nayan memutuskan membawa Risa ke hotel terdekat.
Nayan menggendong tubuh mungil Risa dengan mudah berkat kekuatan fisiknya. Bau harum parfum wanita itu bercampur dengan aroma obat membuat kepala Nayan yang sudah mabuk semakin pening.
Sesampainya di kamar hotel yang luas dan mewah, Nayan langsung membaringkan Risa di atas kasur empuk. Namun, kondisi Risa semakin tak terkendali. Obat di tubuhnya bekerja sangat kuat. Rasa panas dan gairah yang tak tertahankan membuatnya kehilangan akal sehat.
"Tolong... aku tidak tahan..." Risa merangkak mendekat, tangannya yang lembut namun kuat mencengkeram baju Nayan, lalu kuku-kukunya yang tajam secara tak sadar mencakar keras bagian leher dan bahu Nayan.
Aww!
Nayan mendesis kesakitan. Darah segar segera menetes dari luka cakaran yang cukup dalam di lehernya. Butiran-butiran darah itu jatuh tepat mengenai liontin giok naga hijau yang tergantung di dadanya.
Seketika, saat darah itu menyentuh permukaan giok, sebuah cahaya hijau samar yang tak terlihat oleh mata telanjang meledak perlahan di dalam kamar itu. Namun, karena pengaruh obat dan alkohol, keduanya tak menyadari hal mistis yang baru saja terjadi.
Risa menarik leher Nayan hingga wajah mereka berdekatan. "Tolong aku... rasanya sakit sekali..."
Aroma napas Risa yang hangat dan sentuhan tubuhnya yang lembut bagai racun bagi ketahanan Nayan. Baru saja ia ditinggal istrinya, merasa tidak berharga, dan kini ada malaikat cantik yang membutuhkannya. Pertahanannya runtuh seketika.
Malam itu, di kamar hotel yang sunyi, dua tubuh itu bersatu dalam gairah yang meledak-ledak. Cakaran dan ciuman mark terukir di kulit mereka, mengikat mereka dalam sebuah kejadian yang tak terduga.
Keesokan Pagi...
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan Nayan dari tidur panjangnya.
Rasa sakit di lehernya membuatnya segera terbangun. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Pandangannya jatuh pada sosok wanita cantik yang tidur memeluk pinggangnya. Risa.
Nayan perlahan bangun, menutupi tubuhnya dengan selimut. Saat tangannya menyentuh lehernya, ia merasakan ada luka kering dan rasa perih. Ia melihat jari-jarinya, masih ada sisa noda darah kering.
"Ah, benar... aku dicakar..." gumamnya pelan agar tidak membangunkan Risa.
Matanya lalu tertuju pada liontin giok naga hijau di lehernya. Giok itu terlihat lebih berkilau dan terasa hangat luar biasa, seolah-olah benda itu hidup dan sedang berdenyut.
Dan saat itulah, sesuatu yang luar biasa terjadi.
Zrrrt!
Ribuan informasi, gambar, dan teknik mengalir deras masuk ke dalam otak Nayan bagai banjir bandang. Ia memegang kepalanya yang terasa berat namun sangat jernih.
Teknik Naga Mengguncang Bumi...
Formasi Pembunuh Langit...
Cara menempa senjata legendaris...
Cara memperbaiki benda pusaka...
Teknik Kultivasi Naga Hijau...
Nayan terbelalak. Dalam sekejap mata, ia bukan hanya tahu, tapi menguasai ribuan teknik bela diri kuno tingkat tertinggi, ilmu formasi, seni pengobatan, hingga cara mengolah energi dalam tubuh. Ia sadar bahwa semalam, tanpa disadarinya, darahnya telah membuka segel pada liontin itu, mewariskan seluruh pengetahuan dan kekuatan leluhurnya.
Ia perlahan mengepalkan tangannya.
Bugh!
Hembusan angin terdengar jelas. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan, lebih segar, dan kekuatannya meningkat berkali-kali lipat. Otot-ototnya terasa padat dan berisi energi yang melimpah. Ia tidak tahu bahwa tubuhnya adalah Tubuh Naga, salah satu fisik kultivasi terbaik dan terlangka di seluruh dunia, yang mampu menampung energi dalam jumlah tak terbatas.
Nayan menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi. Matanya yang tadinya cokelat biasa, kini memiliki lapisan warna hijau zamrud yang sangat samar saat ia memfokuskan pikirannya. Ia bisa merasakan denyut nadi Risa di kamar, bahkan ia bisa mendengar suara kendaraan di jalanan beberapa kilometer jauhnya. Indranya meningkat drastis.
"Jadi... ini adalah warisanku..." bisik Nayan dengan suara bergetar. "Dan kalung ini... adalah kuncinya."
Ia menyadari, ancaman dari orang-orang bertato semalam bukanlah bualan. Mereka adalah anggota sekte gelap, dan mereka pasti akan kembali dengan pasukan yang jauh lebih kuat. Tapi kini, Nayan tidak lagi merasa takut. Justru ia merasa siap.
Perjalanan untuk menguak misteri masa lalunya, mencari tahu siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya, dan mengapa ia dulu ditinggalkan, baru saja dimulai. Kekuatannya akan terus tumbuh, dan seiring dengan itu, jati dirinya sebagai pewaris kekayaan dan kekuatan terbesar di dunia akan perlahan terungkap.
Nayan menoleh ke belakang, menatap Risa yang masih terlelap dengan wajah damai. Wanita ini telah menjadi bagian dari takdirnya, bahkan sebelum ia menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya.
(Selesai Bab 1)